Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Tampilkan postingan dengan label Ulasan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ulasan. Tampilkan semua postingan
Pandangan Ustadz Felix Siauw Mengenai Sikap Muslim Terhadap Natal

Pandangan Ustadz Felix Siauw Mengenai Sikap Muslim Terhadap Natal

Ustadz Felix Siauw 
     
bersamaislam.com - Ketika kita memahami islam, ketika kita mempelajari Islam, lantas islam mengubah kita, maka ada hal yang harus kita pahami bahwa setiap perubahan, setiap kebaikan pasti akan mendapatkan ujian untuk melihat apakah kita serius dalam perubahan itu atau tidak. Jangankan orang-orang yang berbuat baik, orang-orang yang berbuat jahatpun mereka akan mendapat ujian juga. Karena itulah saat seseorang memahami kebaikan, menjalani kebaikan maka ujian akan menanti.

Dalam Vidio YouTube yang berdurasi 5:43 menit, Ustadz Felix Siauw menceritakan bahwa dirinya mengenal Islam pada tahun 2022 lalu dia merasa mendapat kebenaran, saat itu dia memutuskan memberanikan diri bertemu dan berhadapan dengan keluarganya yang berstatus beda agama dan bersiap menghadapi ujian apa yang akan datang kepadanya.

Satu waktu beliau pernah berbicara pada keluarganya menjelang hari natal, dia mengungkapkan bahwa dirinya tidak bisa memberi  ucapan selamat natal bukan berarti tidak hormat apalagi benci sama papi dan maminya, tapi karena dalam agamanya (Islam) yang demikian sangat menghargai Nabi Isa al-Masih atau Yesus Kristus, tapi penghormatan kita kepada Yesus Kristus hanya sebatas bahwa dia adalah seorang nabi yang kita benarkan sebagaimana nabi-nabi yang lain.

Mengucapkan selamat kepada orang yang merayakan natal masih sering dipertanyakan terkhusus kaum muslim. Menurut Ustadz Felix Siauw dalam padangan islam bukan sekedar ucapan, tapi sebuah pengakuan. Misalnya "Selamat Natal", maka kita mengakui pemahaman mereka, pengetahuan mereka bahwa tuhan yesus itu lahir ditanggal 25 Desember, ini yang tidak boleh kita lakukan karena bagi kita yesus adalah nabi bukan sebagai tuhan.

Oleh karena itu dapat kita simpulkan bahwa Islam adalah agama yang sederhana, toleransi tidak mengharuskan kita mengikuti dan lebur kedalamnya, ada baiknya kita perhatikan terlebih dahulu aturan agama kita apa yang boleh dan tidak boleh kita lakukan. Juga sebaiknya kita berpijak sesuai pendapat para Ulama melalui MUI bahwasanya turut serta, berkontribusi dalam perayaan agama-agama lain adalah haram. Maka kita harus berhati-hati dalam bertindak karena ini menyangkut akidah. Sesuai dengan firman Allah:

لَكُمْ دِيْنُكُمْ وَلِيَ دِيْنِ

"Untukmu agamamu dan untukku agamaku." (QS. Al-Kafirun: Ayat 6).


Orang Paling Kuat Menurut Islam, Apakah Kamu Termasuk?

Orang Paling Kuat Menurut Islam, Apakah Kamu Termasuk?

Ilustrasi

bersamaislam.com - Kuat seringkali dikaitkan dengan hal-hal seperti badan yang kekar serta tenaga yang kuat. Kita bisa melihat sebuah pertandingan tinju yang sering dipertontonkan di televisi, terdapat dua orang yang memiliki badan yang kekar serta tenaga yang begitu kuat untuk saling mengalahkan satu sama lain. Lantas pernahkah kita berpikir bahwa sebuah perkelahian antara satu orang dengan orang lain, atau bahkan tawuran antar warga dan di akhir terdapat kubu yang menang dalam perkelahian atau tawuran tersebut dikatakan orang yang kuat?

Ternyata berbeda dengan apa yang dikatakan oleh Rasulullah SAW dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh Muttafaq 'alaih. 

لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْ الْغَضَبِ

 “Orang yang kuat bukanlah yang pandai bergulat, sungguh orang yang kuat adalah yang mampu menguasai dirinya ketika marah.”

Dapat kita pahami sekilas bahwa Rasulullah berkata dalam hadits di atas ternyata orang yang paling kuat itu bukanlah seorang pegulat atau petinju yang menginginkan sebuah kemenangan dan ingin disebut orang yang kuat. Tapi orang yang kuat adalah dia yang bisa mengendalikan hawa nafsunya ketika sedang marah. 

Saatnya kita bertanya pada diri sendiri, apakah kita sudah termasuk orang kuat?

Tidak dapat dipungkiri bahwa mengendalikan hawa nafsu tidaklah semudah apa yang dibayangkan apalagi ketika marah. Kita bisa terus menerus berikhtiar dalam mengendalikan hawa nafsu agar kita terbiasa untuk mengendalikan hawa nafsu tapi tidak dikendalikan oleh hawa nafsu. Jika kita sudah berhasil dalam mengendalikan hawa nafsu, terlebih ketika kita marah Insya Allah kita digolongkan dengan orang yang paling kuat menurut Rasulullah. 


ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia

Broker Kripto

Tempo Doeloe

Olahan Makanan

Ulasan Film

Keimanan dan Keyakinan

Top Bisnis Online

Tips dan Trik