Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Al Muhasibi, Terkenal Tapi Tak Dikenal

Al Muhasibi, Terkenal Tapi Tak Dikenal


Imam Abu Abdillah al Harits bin Asad al Basri Al Muhasibi


bersamaislam.com - Abu Abdillah al Haris bin Asad al Basri Al Muhasibi atau lebih dikenal dengan Al Muhasibi adalah salah satu ulama yang hidup pada zaman dinasti Abbasiyah. Beliau lahir pada 165 H/ 781 M di kota Bashrah. Mungkin nama beliau tidak terkenal seperti Al Ghazali, tapi kenyataannya beliau lah yang memberikan pengaruh besar terhadap pemikiran tasawuf Al Ghazali.

Sosok ayah beliau adalah saudagar kaya dan tokoh intelektual serta pendakwah al Muktazilah. Karena kegemaran beliau melakakun introspeksi atau muhasabah akhirnya beliau mendapat julukan Al Muhasibi.

Meskipun Al Muhasibi dibesarkan dari keluarga penganut aliran al muktazilah, beliau tidak terus mengikuti aliran tersebut. Sehingga bisa dikatakan Al Muhasibi tidak terpengaruh keyakinan ayahnya yang Al muktazilah.

Saat usianya terbilang masih muda, beliau pergi ke Baghdad untuk belajar teologi dan hadist dari para ulama pada masa itu. Al Muhasibi belajar ilmu fiqih kepada imam Syafi’i, Abu Ubaid al Qasimi bin Salman, serta Qadli Yusuf Abu Yusuf. Beliau juga belajar ilmu hadist, Al Muhasibi belajar kepada tokoh-tokoh ahli hadist seperti Syuraih bin Yunus, Yazid bin Haran, Abu An-Nadar, dan Suwaid bin Daud.1

Salah satu keunggulan Al Muhasibi dalam perkembangan tasawuf adalah mampu mengubah gagasan ilmu kalam, filsafat, tasawuf dengan memasukkan ilmu fikih di dalamnya. Al Muhasibi berusaha membuat ilmu baru yang bisa bersaing menghadapi tantangan zaman, yaitu dengan cara menafsirkan ulang ilmu fikih dengan memperkenalkan pandangan spiritual dan sufistik.

Pemikiran tasawuf Al Muhasibi mempunyai keunikan tersendiri.karena beliau mempunyai hobbi muhasabah, intropeksi diri dalam tasawufnya. Sebab kegemarannya bermuhasabah, beliau mendapat julukan Al Muhasibi. Beliau menjadi kritis saat melihat dirinya karena metode reflektif yang digunakan, terutama pada apapun yang berhubungan dengan hati seperti perasaan, pemikiran, dan sudut pandang sebelum terwujud dalam bentuk yang sebenarnya.

Al Muhasibi memilih jalan tasawuf karena beliau ingin keluar dari keraguan yang beliau hadapi. Setelah mengamati bermacam macam madzhab yang diikuti umat islam, Al Muhasibi menyimpulkan kelompok-kelompok didalamnya. Diantaranya ada kelompok yang benar-benar paham akhirat tetapi jumlah mereka tidak banyak. Justru kelomppok yang menuntut ilmu karena kesombongan dan karena dunia yang jumlahnya sangat besar. Ada juga kelompok yang terkesan beribadah tetapi sebenarnya tidak.

Al Muhasibi melihat bahwasannya jalan menuju keselamatan ialah hanya bisa dilalui melalui ketakwaan kepada Allah, melaksanakan kewajiban dan menjauhi larangan, melaksanakan sunnah Nabi Muhammad SAW.

Al Muhasibi menuturkan bahwa jika sudah melakukan perintah Allah dan sunnah nabi Muhammad, maka akan diberi petunjuk oleh Allah berwujud penyatuan fiqih dan tasawuf. Salah satu karya Abu Abdullah al-Haris ibn Asad al-Muhasibi adalah kitab Fahm Al-Quran Ma’anih. Yaitu sebuah kitab yang mengajak pembacanya agar memahami Al-Quran, tidak hanya membacanya saja. Tidak itu saja, didalam kitab ini juga mengarahkan pembaca supaya tidak membaca dengan lisan saja, melainkan dengan hati dan pikiran saja.

Kemudia ada juga karya beliau yaitu kitab Al-Ri’ayah Li Huquq Allah. Fokus pembahasan kitab ini adalah berpusat kepada mengenal diri, yaitu mengenal sifat-sifat yang menghalangi diri untuk bisa menunaikan hak-hak Allah ta’ala seperti sifat riya’, ujub, takabbur, tipu daya, hasad, dan sifat-sifat lain yang membinasakan diri.

Dengan mengetahui sifat-sifat yang menghalangi diri untuk menunaikan hak-hak Allah, maka perlu penanggulangan diri dengan sifat-sifat yang mendukung kita untuk melaksanakan hak-hak allah seperti sifat-sifat yang positif seperti muhasabah, suhbah, mujahadah, mahabbah, syukur.

Apa yang disebut nilai positif itu tidak lain adalah perjalan meningkatkan kualitas diri dengan sifat-sifat terpuji. Pada diri individu yang terpuji maka dampaknya tidak dirasakan individu itu sendiri tetapi juga keluarga dan masyarakat.
 
Jelas bahwa Al Muhasibi dengan karya beliau Al-Ri’ayat Li Huquq Allah adalah menggunakan sependekatan akhlak dalam mengola pendekatan tasawuf. Bukan hanya dari pemikiran beliau saja, tetapi juga bersumber dari Al Quran, Hadits, dan kepribadian akhlak Nabi Muhammad SAW.

Didalam kitab ini juga dijelaskan tentang berbagai macam bentuk , metode penelitian, dan peringatan untuk waspada terkait egoisme manusia . Menurut Al Muhasibi, bentuk egoisme adalah kesombongan (riya’), cinta diri (narsisme), bangga diri (kibr), angkuh (ujub), merasa paling tepat (ghrah).

Al Muhasibih wafat pada tahun 243 H/857 M di Baghdad.


Ditulis oleh : Muhammad Naufal Dhiyaul Haq


1 Isa,H.Ahmadi. 2000. Tokoh-Tokoh Sufi. Jakarta:PT Raja Grafindo Persada


Keutamaan Penghafal Al-Qur'an

Keutamaan Penghafal Al-Qur'an

Ilustrasi

bersamaislam.com - Penghafal Al-Qur’an merupakan impian seluruh umat Islam. Al-Qur’an bukan hanya saja sebagai obat tapi juga sebagai pedoman hidup seluruh makhluk hidup. Oleh karena itu menjadi Penghafal Al-Qur’an adalah suatu kemuliaan tersendiri.

Bahkan anak usia dini pun sudah mulai berusaha untuk menggapai cita seluruh umat Islam. Tak khayal jika kini jumlah anak Penghafal Al-Qur’an di seluruh dunia mencapai 13 juta. Masya Allah pastinya kita sebagai muslim sangat bangga mendengar fakta tersebut.

Karena ketika hari Kiamat itu datang, seluruh ayat Al-Qur’an akan dicabut sehingga para Hafizh/Hafizhah lupa pada Al-Qur’an, Naudzubillah.

Apa aja sih keutamaannya menjadi Penghafal Al-Qur’an?

1. Menjadi Bagian Keluarga Allah

Pada suatu Hadist, Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah mempunyai keluarga dari kalangan manusia. ' Para sahabat bertanya, 'Siapa mereka wahai Rasulullah.' Beliau SAW menjawab, 'Mereka adalah Ahlul Qur'an, mereka adalah keluarga Allah dan orang-orang khusus-Nya.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah).”

Siapa yang tidak ingin menjadi salah satu bagian dari Keluarga Allah SWT? Oleh karena itu, Hadist ini dijadikan motivasi terbesar bagi mereka yang sedang bersusah payah menghafal Al-Qur’an.

2. Satu Huruf yang dibaca Diberikan 10 Ganjaran Kebaikan

Mudah sekali bukan mendapatkan pahala? Setiap seseorang membaca 1 huruf dari setiap ayatnya maka ia diberikan ganjaran 10 kebaikan. 

Dalam suatu Hadist disebutkan Rasulullah SAW. bersabda: “Siapa saja membaca satu huruf dari Kitabullah (Alquran) maka dia akan mendapat satu kebaikan. Sedangkan satu kebaikan dilipatkan kepada sepuluh semisalnya. Aku tidak mengatakan alif lâm mîm satu huruf. Akan tetapi, alif satu huruf, lâm satu huruf, dan mîm satu huruf.

3. Didahulukan menjadi imam

“Yang paling berhak jadi imam adalah yang paling banyak hafalan Alquran nya” HR. Ahmad. Dari Hadist diatas terlihat bagaimana caranya Rasulullah memuliakan seorang yang menjadi Hafizh/Hafizhah.

4. Memberikan Orang Tua Mahkota Kemuliaan 

Mungkin hal ini tidak asing lagi di telinga para teman teman muslim/muslimah. Memberikan Mahkota Kemuliaan kepada orang tua adalah suatu kebanggaan tersendiri bagi seorang anak. 

Suasana ketika memberikan mahkota kepada orang tua pada saat wisuda 30 Juz penuh dengan rasa haru dan bahagia. Tapi pernahkah teman teman membayangkan suasana saat memberikan Mahkota Kemuliaan kepada orang tua di hari terkumpulnya seluruh manusia nanti?.

Subhanallah, sungguh luar biasa apa apa yang didapatkan oleh Penghafal Al-Qur’an selain mendapatkan kemuliaan juga penghargaan langsung oleh Allah Swt berupa pahala yang tiada bandingannya.


Keajaiban yang disaksikan oleh NASA tentang Malam Lailatul Qadar

Keajaiban yang disaksikan oleh NASA tentang Malam Lailatul Qadar



Ilustrasi penampakan luar angkasa

bersamaislam.com
- Malam Lailatul qadar seperti yang kita ketahui adalah malam yang lebih baik dari seribu bulan. Peristiwa yang telah disampaikan dalam Al-Quran surah Al Qadar ribuan tahun yang lalu. Seluruh umat muslim berlomba-lomba untuk mendapatkan malam kemuliaan itu, namun tidak semua orang bisa mendapatkannya.

Siapa sangka bahwa NASA juga menyaksikan keajaiban malam Lailatul Qadar diluar  angkasa. Namun mereka diperintah untuk menutup mulut agar kabar tersebut tidak menyebar luas. Selama bertahun-tahun mereka menyembunyikan fakta tersebut selama bertahun-tahun, Qadarullah salah satu anggota NASA tidak sengaja membocorkan hal tersebut, sehingga ia terpaksa kehilangan jabatannya dan akhirnya ia masuk islam.

Hal tersebut disampaikan langsung oleh Dr. Abdul Bastih As Sayyid sebagai Kepala lembaga mukjizat ilmiah Al Quran dan Sunnah di Mesir. NASA pernah menemukan pada suatu malam terjadi suatu keanehan. Pada malam umumnya biasa terdapat 20 meteor yang jatuh ke bumi. Namun pada suatu malam tidak ada satupun meteor yang jatuh dan udaranya sejuk, tidak panas dan juga tidak dingin.

Pada pagi harinya NASA juga menemukan bahwan matahari terbit tapi anehnya tidak ada sama sekali radiasi cahaya. NASA juga mengungkapkan ada 1 malam dimana 10,000 bintang dan 20.000 meter berhenti menabarak bumi. Semua ciri-ciri yan disebutkan oleh NASA, pernah disampaikan juga oleh Rasulullah SAW. Di berbagai hadistnya. 

Dari Ubay bin Kaab Rasulullah bersabda Pagi hari dari malam Lailatul Qadar terbit matahari tidak menyengat bagaikan bejana sampai meninggi HR Muslim, Tirmidzi, Ahmad, Abu daud. Istimewanya malam Lailatul Qadar telah diungkapkan oleh NASA namun fakta tersebut malah di sembunyikan, walaupun disembunyikan tetap tidak akan mengurangi keistimewaan malam Lailatul Qadar.


– Syahira (Santri HAQIN Bandung) –

Teman Gak Sholeh Jangan Jauhi!!!

Teman Gak Sholeh Jangan Jauhi!!!

Saling merangkul menuju kebaikan


bersamaislam.com - Dalam hidup ini sebagai makhluk ciptaan-Nya, kita dituntut untuk berinteraksi sosial dengan sesama manusia, selain keluarga sebagai orang terdekat yang banyak kita berinteraksi dengannya, teman juga termasuk orang yang sering kita berinteraksi dengannya. Terkhusus kaum remaja yang paling sering menghabiskan banyak waktu bersama teman-temannya dibanding keluarga. Namun sangat perlu berhati-hati dengan teman yang sekiranya dapat menjerumuskan ke arah yang buruk.

Sekiranya kita mempunyai teman yang belum bisa aktif diajak dalam kebaikan, maka hal yang perlu ditanamkan adalah contoh yang baik, setelah mempraktekkan itu, perlahan kita mulai menasihati dengan cara yang tidak menyakiti hatinya, dan tentunya harus dengan kesabaran.

Setelah melakukan contoh yang baik dan nasihat kebaikan, hal yang sangat perlu kita cegah adalah adanya titik hitam dihati (disebabkan karena munculnya rasa sombong) karena menganggap diri sudah baik, naudzubillah min dzalik. Karena setan sangat cerdas dalam mentalbiskan mantra kesesatan ke kuping manusia. Sekiranya ada kesombongan, maka bersegeralah meminta perlindungan dan ampunan kepada Allah SWT.

Allah menitipkan teman kepada kita sekiranya kita bisa mengambil dua hikmah, yaitu:
1). Teman yang thaleh (antonim sholeh), mereka yang berperilaku buruk. Teman yang seperti ini tidak seharusnya kita jauhi, namun tidak juga kita mengikuti perilakunya tapi solusi terbaiknya adalah kita berusaha mengajaknya ke jalan yang baik. Jika kita berhasil mengajaknya kepada kebikan maka itulah realisasi dari ilmu yang bermanfaat. 

Hikmah yang dapat kita ambil dari teman yang thaleh adalah: Kurang teraturnya hidup jika perilaku dan perbuatan buruk jadi peliharaan, maka sebaiknya perilaku buruk itu dimusnahkan perlahan-lahan dengan kebaikan.

2). Teman yang sholeh, mereka yang senantiasa taat dan berperilaku baik. Teman yang seperti ini sangat rekomendasi dijadikan sebagai motivasi kebaikan agar kita bisa melakukan kebaikan seperti halnya dia.

Hikmah yang dapat kita ambil dari teman yang sholeh adalah: Teraturnya hidup teman yang sholeh karena senantiasa menjalankan kewajiban diwaktu yang telah ditetapkan sehingga dirinya menjadi disiplin waktu, juga senantiasa menjaga penampilan dan kerapian dalam berpakaian karena mereka paham bahwa menghadap kepada orang besar harus menjaga kerapian terlebih saat beribadah kepada-Nya.

Jadi, teman yang thaleh dan sholeh adalah titipan Allah buat dijadikan pelajaran dan mengambil hikmahnya, juga sebagai kesempatan untuk berdakwah (mengajak kepada kebaikan) baik dengan cara memberi nasihat atau perbuatan langsung.

Menjawab kebingungan Generasi overthinking dengan Islam dan Ilmu

Menjawab kebingungan Generasi overthinking dengan Islam dan Ilmu

Oleh: Al-Faqir Abu Muhammad

bersamaislam.com
- Bismillah, pemuda adalah generasi super yang sangat berpotensi untuk membangun sebuah peradaban baru. Ditangannya tongkat estafet kepemimpinan masa depan terpegang teguh. Ia bagaikan mata air ditengah padang tandus, yang memberi seteguk kesejukan dan harapan hidup bagi musafir yang tersesat. Para pemuda menjadi ujung tombak sebuah bangsa, ia adalah senjata utama untuk memperbaiki segala kebobrokan yang pernah dilakukan para pendahulunya.

Namun demikian, bagaimana jadinya jika yang disebut ujung tombak ini hancur dan patah sebelum berjuang menjadi agent of change bagi bangsa dan agamanya?

Generasi Overthinking

Para pemuda di zaman sekarang adalah remaja dibeberapa tahun sebelumnya, dimana waktu itu belum terlalu banyak beban yang bertumpu di pundaknya, kehidupan mereka masih berkisar tentang pertemanan dan sedikit masalah percintaan (cinta monyet), bahkan beban terberat yang pernah mereka hadapi dimasa remaja adalah tugas sekolah yang menumpuk dengan deadline yang sangat mepet. haha.. begitulah perputaran hidup mereka, tak ada beban yang berarti dan cenderung dipenuhi dengan canda tawa kesenangan. Wajar saja, jikalau sekarang ini mereka mengalami pergolakan yang sangat hebat pada otak mereka (istilah zaman sekarang adalah overthinking), hal ini dikarenakan kebiasaan mereka diwaktu remaja yang sangat berbanding jauh dengan kehidupan orang dewasa atau pemuda. Dimana kehidupan seorang pemuda adalah seperti yang telah kita sebut diatas tadi, ia dituntut untuk mandiri, berjuang keras demi masa depan sendiri, keluarga, bahkan bangsa, dan agamanya. itulah pemuda. Remaja yang dulu kini dipaksa untuk segera menjadi dewasa, al-hasil apa daya hendak meraih bintang namun tangan terlalu pendek untuk menggapai, begitu barangkali ungkapan yang pas untuk pemuda saat ini.

Banyak diantara pemuda di zaman sekarang yang kehilangan esensitas dirinya sebagai seorang  petarung. mereka yang tak terbiasa dengan kerasnya dunia menjadi sangat lunak dan tak mampu mengimbangi perlawanan dunia yang semakin hari semakin sadis menindas. Yang kaya semena-mena, yang kuat melahap yang lemah, yang diatas menginjak-injak yang dibawah. itulah gambaran dunia saat ini.

Islam dan Solusi

Seringkali kita mendengar ungkapan "jangan bawa-bawa agama dalam urusan kehidupan ini, gak akan nyambung!". Benarkah demikian?
Subhanallah, demi Allah saya (penulis) katakan, ungkapan ini sangat fatal sekali, bahkan berbahaya bagi keimanan seseorang yang menyebutkannya tadi.

Islam adalah agama yang sempurna lagi paripurna, tak ada sesuatupun yang tidak diatur dalam agama damai ini, bahkan urusan meludah saja ada aturan dan adabnya, tentu pemahaman tentang tak relevannya ajaran islam untuk urusan dunia adalah pemahaman yang salah kaprah.

Lalu bagaimana Islam menjawab fenomena ini?
Rasulullah SAW bersabda:
"Menuntut ilmu adalah wajib bagi setiap Muslimin dan Muslimat" (H.R Ibnu Majah)

Juga dikatakan dalam maqolah ulama "Tuntutlah ilmu mulai dari buaian hingga ke liang lahat". Dilihat dari atsar rasul dan qoul ulama ini, maka kita akan bertanya "mengapa sebegitu pentingnya mencari ilmu, hingga rasul mewajibkan dan ulama begitu menekankan hal ini?".

Ternyata, jika kita teliti bersama, semua kunci kebingungan dan kerancuan akal adalah karena kurangnya ilmu atau pengetahuan. Sebagai ibarat adalah ketika ujian nasional dilaksanakan besok pagi, maka siswa yang belajar dengan tidak yang belajar sebelumnya akan sangat terlihat jauh bedanya, yang belajar akan tenang dan santai dalam menjawab soal, sedang yang tak pernah belajar sebelumnya akan panik dan menghalalkan segala cara agar bisa menjawab soal ujian itu. Maka sekali lagi, ilmu dan pengetahuan adalah kunci untuk menyelesaikan segala persoalan yang ada dalam hidup kita,
termasuk masalah overthinking yang ada pada pemuda atau generasi saat ini.

Kesimpulan

generasi overthinking adalah generasi muda yang kebingungan dalam menghadapi masalah baru yang menimpanya, solusinya adalah dengan belajar dan menuntut ilmu.

Dengan ilmu segalanya menjadi mudah, tanpa ilmu yang mudah pun akan menjadi sangat susah.


Apakah pelaku maksiat tidak boleh mencintai Allah? (Hikmah Kisah Majnun Laila dan shahabat Rasul)

Apakah pelaku maksiat tidak boleh mencintai Allah? (Hikmah Kisah Majnun Laila dan shahabat Rasul)

Oleh: Al-Faqir Abu Muhammad


bersamaislam.com
- Bismillah, dosa adalah sesuatu yang timbul diakibatkan oleh perlakuan durhaka kita kepada yang maha kuasa. Pelakunya sering disebut dengan "pendosa atau ahli maksiat", para pendosa didalam Al-Qur'an sering disebut dengan orang fasiq atau orang yang tahu kebenaran namun ia malah melakukan perbuatan yang sebaliknya dari kebenaran itu.
Yang menjadi pertanyaan, apakah ahli maksiat (orang yang sering melakukan maksiat) tidak pantas untuk mencintai atau dicintai Allah?

Hakikat "PECINTA"

Dalam sebuah syair bahasa arab disebutkan (yang artinya); "sesungguhnya pecinta sejati itu senantiasa taat kepada yang dicintainya". Nah, dari syair ini kita bisa mengambil ibrah (pelajaran) bahwa seharusnya jika kita mengaku cinta kepada rabb kita (Allah) maka sudah semestinya kita senantiasa berlaku taat kepada Dia, menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya dengan penuh rasa sukarela dan senang hati. Pecinta yang sejati tak pernah mengeluh dengan semua keadaan yang Allah berikan kepadanya, ia selalu berhusnudzan kepada setiap ketentuan Allah, dan selalu mengingat-Nya didalam hati dan pikirannya.

Mereka yang mengaku cinta (kepada sesuatu atau pun seseorang) sudah menjadi sunnatullah, bahwasannya dia akan mencintai pula segala sesuatu yang berkaitan dengannya. Misalnya saja, mereka yang mengaku fans club bola Persib Bandung, pasti selalu suka dengan berbagai hal yang berkaitan dengan Persib, mulai dari jersey sampai ukuran sepatu pemainnya pun mereka hafal. MasyaAllah inilah kekuatan cinta, cinta itu mencerdaskan seseorang pada bab yang berkaitan dengan sesuatu yang ia cintai itu.

Disebutkan dalam sebuah hikayat tentang kisah cinta Majnun Laila yang sangat dramatis, bahkan mungkin orang yang tak membaca sejarah pasti menyangkal dan menolak cerita Majnun Laila ini, saking ngerinya cinta majnun dengan laila, dikisahkan:

"Suatu saat majnun sedang berjalan disebuah desa, kemudian ia melihat seekor anjing, tanpa pikir panjang, ia langsung membersihkan anjing itu, memakaikan wewangian parfum kepadanya lalu mengelus-elus dan memeluknya. Tiba-tiba lewatlah seseorang sambil berkata "hey majnun, itu yang kamu peluk itu anjing, bukan laila kekasihmu", dengan tersenyum majnun menjawab " aku tahu dia ini bukan laila melainkan anjing, tapi ini bukan anjing sembarangan, ini adalah anjing yang berasal dari kota laila kekasihku". 

MasyaAllah, kisah cinta yang sangat menginspirasi sekaligus membuat kita merinding ngeri. Inilah bukti, bahwasanya cinta itu menyebar dan menginveksi, bukan hanya kepada yang dicintai namun merembet kepada semua hal yang berkaitan dengan yang dicintai tersebut.

Inilah hakikat cinta dan pecinta yang sejati.

Ahli maksiat yang mencintai Allah

Jika kita baca tulisan diatas, maka bisa kita hukumi bahwa pelaku maksiat itu pasti adalah orang yang tidak punya rasa cinta kepada Allah, karena ia selalu melanggar perintah Allah. 

Namun, tahukah kalian bahwa dizaman nabi SAW pernah ada seorang pelaku maksiat yang sangat mencintai Allah, gimana kisahnya? begini?

Suatu saat dizaman rasul, ada seorang sahabat yang bernama Abdullah yang berjuluk khimar. Ia adalah seorang yang senang sekali meminum khamr sekaligus menjadi orang yang seringkali dihukum cambuk karena ketahuan sedang minum khamr, saking seringnya ia dihukum, para sahabat lain merasa geram dan puncaknya ketika ia dihukum cambuk (jilid), ada seorang sahabat berkata "Ya Allah laknatilah ia, karena ia sudah sangat sering sekali dihukum cambuk karena khamr", akan tetapi tenyata rasul "membela" Abdullah dengan mengatakan "janganlah kamu melaknatinya, karena dia adalah orang yang mencintai Allah dan rasul-Nya". (dari kitab hikayah shobahah)

Allahu akbar, bagi saya (penulis) pribadi ini adalah kisah yang sangat mengharukan sekaligus menyenangkan, karena dengan adanya kisah ini membuat kita para ahli maksiat tidak berputus asa untuk senantiasa mengharap cinta Allah dan belas kasih-Nya.

Kesimpulan

1. Pecinta sejati adalah ia yang senantiasa menaati Allah dan rasul-Nya, menjalankan syariat dengan penuh taat dan menjauhi larangan dengan penuh takut.
2. Jangan pernah berhenti berharap belas kasih Allah sekalipun kita ahli maksiat, karena cinta Allah diberikan-Nya kepada siapa saja yang Ia kehendaki
3. Jangan pernah mencela pelaku maksiat karena kita tidak pernah tahu seberapa tinggi derajat seseorang dihadapan Allah, bisa jadi siapa yang kita sangka Ahli maksiat adalah sebenarnya kekasih Allah yang senantiasa bertobat dan meminta ampun kepadan-Nya, selalu membasahi matanya dengan tangisan penyesalan, dan mendoakan kebaikan kepada seluruh makhluk-Nya, menebar kasih tanpa pilih dan tak menyimpan dendam meski seberat biji kurma.

Demikian, semoga bermanfaat.
Wallahu a'lam.

Cara Mencintai Allah (Hikmah Kisah Majnun Laila dan Robiatul Adawiyah)

Cara Mencintai Allah (Hikmah Kisah Majnun Laila dan Robiatul Adawiyah)

Oleh: Al-Faqir Abu Muhammad


bersamaislam.com - Bismillah, Cinta dalam bahasa arab adalah mahabbah, akar katanya ialah habba-yahibbu-mahabbatan. Dari asal kata yang sama dengan al-hubb (biji). Maka cinta itu ibarat sebuah biji, dimana kita letakkan atau tanam biji itu, disitulah akan tumbuh tanaman. Letakkan biji itu pada tanah kering, maka layu dan mati biji itu, letakkan ia pada tanah yang subur maka pohon yang kokoh dan segar akan tumbuh dengan indah disana. Begitu juga dengan cinta, salah sedikit cinta bersandar maka layu dan mati hati kita, pun sebaliknya jika benar sandarannya maka cinta sejati tidak akan pernah mati.

Pembahasan cinta adalah pembahasan yang sulit dan rumit, karna ini adalah masalah hati. Dahsyatnya pengaruh cinta pada kehidupan ini, hingga saja membuat banyak manusia menjadi stress dan hilang akal.

Seperti kisah yang sangat melegenda, yakni kisah tentang perjalanan cinta dari Qois (atau biasa disebut majnun) dengan seorang wanita berambut hitam pekat bernama laila. Banyak cerita diluar nalar manusia normal yang mengisahkan betapa dahsyatnya cinta yang dimiliki Qois untuk Laila, salah satunya mungkin pernah kita dengar, yaitu tentang Majnun dan tembok-tembok rumah.

    Suatu ketika Majnun sedang berjalan santai disebuah kota, lalu kemudian secara tiba-tiba ia ciumi seluruh tembok-tembok di kota tersebut, ketika ditanya tentang apa yang dia lakukan, maka Qois menjawab (dengan seluruh kegilaannya) dengan sebuah syair yang dikemudian hari syair itu menjadi pelajaran yang sangat penuh akan hikmah dan manfaat, begini bunyinya :

أمر على الديار ديار ليلى 

tatkala ku lewati kota laila

أقبل ذا الجدار وذا الجدار

ku ciumi tembok dikota itu satu persatu

وما حب الديار شغفن قلبي 

bukanlah karena aku cinta pada kota itu, yang membuat berguncang hatiku

 ولكن حب من سكن الديار

melainkan karena dia, penghuni kota itu.


    SubhanaAllah, ketika pertama kali saya (penulis) membaca syair itu, masyaAllah, segini besarnya dampak yang disebabkan oleh cinta, ini baru cinta makhluk ke sesama makhluk, saya berpikir bagaimana kalau cinta makhluk kepada sang Khalik? Seharusnya jauh lebih dahsyat dan hebat lagi. Maka tak heran jika banyak dari golongan sufi yang sudah mencapai tingkat ma'rifatullah, mereka begitu besar cintanya kepada Allah, sebut saja imam Ghozali, syaikh Abdul Qodir al-Jailani, dan Rabiatul Adawiyah, mereka adalah tokoh-tokoh besar sufi yang cintanya kepada Allah sudah tidak perlu ditanyakan lagi. Bahkan Rabiatul Adawiyah pernah membuat syair yang sangat mengerikan, yakni dalam bahasa indonesia berbunyi:
Ya Allah jika aku menyembah-Mu karena aku takut neraka,maka bakarlah aku di dalamnya. Dan jika aku menyembah-Mu karena mengharap surga, tutuplah rapat-rapat pintu surga itu untukku. Tetapi jika aku menyembah-Mu demi Engkau semata, maka aku mohon Ya Allah jangan pernah Engkau palingkan keindahan wajah-Mu yang abadi dari padaku.”

MasyaAllah, begitu besarnya cinta ia kepada Allah sampai-sampai tak ada yang mendasari ia dalam melakukan ibadah selain karena cintanya kepada sang ilahi.


    Kita sebagai manusia biasa tentu heran dengan fenomena itu, dan menjadi teka-teki yang barangkali susah untuk dipecahkan, bagaimana cara mereka bisa mencintai Allah sedemikian dalamnya? 


    Jika ada sesuatu yang paling berhak kita cintai, maka ia adalah Allah. Tuhan pencipta alam semesta, yang memelihara serta menjaga seluruh ciptaan-Nya tanpa rasa kantuk dan bosan. Jika sekali saja Allah palingkan pandangan-Nya dari alam ini, maka luluh lantah seluruh langit, bumi, beserta isinya. Maha suci Allah dengan segala kesempurnaan-Nya.

CARA MENCINTAI ALLAH:

1. Kenali diri sendiri

    ketika kita mengenali diri kita sendiri maka disitu kita akan mengenali Allah. Maksudnya? Begini semakin kita kenal dan paham tentang diri kita, tentang bagaimana lemahnya kita, bagaimana terbatasnya kemampuan dan kekuatan kita, disitu kita akan semakin mengenal Allah yang maha segalanya, maha sempurna dan tak punya batas atas segala yang ada pada dirinya. Allah kuasa menghidupkan yang mati, Allah kuasa memuliakan rakyat jelata tanpa menjadikan ia raja, Allah kuasa mencabut semua kerajaan-kerajaan dari penguasaan tangan-tangan kotor, dan kuasa kuasa yang lain yang jika kita sebutkan maka tidak akan cukup meskipun seluruh laut menjadi tinta dan seluruh pohon menjadi pena bahkan jika ditambah lagi tujuh kali yang demikian itu maka tetap tidak akan cukup untuk menuliskan betapa Maha Kuasanya Allah.

2. Mencari ilmu

    Mencari ilmu adalah salah satu syarat agar kita bisa mencapai maqam ma'rifatullah (mengenali Allah), karena tak mungkin bisa kita mencintai sesuatu sebelum kita tahu dan kenal dengan sesuatu itu. Sebagai perumpamaan adalah, tak mungkin seorang suami bisa mencintai istrinya jikalau ia tak pernah mengenalnya bahkan tak pernah tahu tentang istrinya itu, jikalau ia mencintainya pasti itu karena ia telah mengenalnya terlebih dahulu baik sebelum menikah ataupun setelahnya, syarat utamanya adalah kenal. Maka kenal itu harus tahu, dan tahu itu adalah dengan cara mencari. Maka tuntutlah ilmu!!

3. Mengenal Allah

    Seperti yang sudah disebutkan tadi, syarat utama cinta adalah kenal, maka pada tips ke-tiga ini yang kami maksudkan adalah mengenali tentang kehebatan dan kesempurnaan Allah, bagaimana kuasanya Ia tidak pernah mengantuk apalagi tidur, betapa hebatnya Allah dapat mengatur seluruh alam semesta ini tanpa bantuan dari seorangpun, dan lain sebagainya.

    Jika boleh kita peringkas, maka rumus mencintai Allah adalah BELAJAR + KENAL = CINTA
Demikian, semoga bermanfaat.
Wallahu a'lam.

Pandangan Ustadz Felix Siauw Mengenai Sikap Muslim Terhadap Natal

Pandangan Ustadz Felix Siauw Mengenai Sikap Muslim Terhadap Natal

Ustadz Felix Siauw 
     
bersamaislam.com - Ketika kita memahami islam, ketika kita mempelajari Islam, lantas islam mengubah kita, maka ada hal yang harus kita pahami bahwa setiap perubahan, setiap kebaikan pasti akan mendapatkan ujian untuk melihat apakah kita serius dalam perubahan itu atau tidak. Jangankan orang-orang yang berbuat baik, orang-orang yang berbuat jahatpun mereka akan mendapat ujian juga. Karena itulah saat seseorang memahami kebaikan, menjalani kebaikan maka ujian akan menanti.

Dalam Vidio YouTube yang berdurasi 5:43 menit, Ustadz Felix Siauw menceritakan bahwa dirinya mengenal Islam pada tahun 2022 lalu dia merasa mendapat kebenaran, saat itu dia memutuskan memberanikan diri bertemu dan berhadapan dengan keluarganya yang berstatus beda agama dan bersiap menghadapi ujian apa yang akan datang kepadanya.

Satu waktu beliau pernah berbicara pada keluarganya menjelang hari natal, dia mengungkapkan bahwa dirinya tidak bisa memberi  ucapan selamat natal bukan berarti tidak hormat apalagi benci sama papi dan maminya, tapi karena dalam agamanya (Islam) yang demikian sangat menghargai Nabi Isa al-Masih atau Yesus Kristus, tapi penghormatan kita kepada Yesus Kristus hanya sebatas bahwa dia adalah seorang nabi yang kita benarkan sebagaimana nabi-nabi yang lain.

Mengucapkan selamat kepada orang yang merayakan natal masih sering dipertanyakan terkhusus kaum muslim. Menurut Ustadz Felix Siauw dalam padangan islam bukan sekedar ucapan, tapi sebuah pengakuan. Misalnya "Selamat Natal", maka kita mengakui pemahaman mereka, pengetahuan mereka bahwa tuhan yesus itu lahir ditanggal 25 Desember, ini yang tidak boleh kita lakukan karena bagi kita yesus adalah nabi bukan sebagai tuhan.

Oleh karena itu dapat kita simpulkan bahwa Islam adalah agama yang sederhana, toleransi tidak mengharuskan kita mengikuti dan lebur kedalamnya, ada baiknya kita perhatikan terlebih dahulu aturan agama kita apa yang boleh dan tidak boleh kita lakukan. Juga sebaiknya kita berpijak sesuai pendapat para Ulama melalui MUI bahwasanya turut serta, berkontribusi dalam perayaan agama-agama lain adalah haram. Maka kita harus berhati-hati dalam bertindak karena ini menyangkut akidah. Sesuai dengan firman Allah:

لَكُمْ دِيْنُكُمْ وَلِيَ دِيْنِ

"Untukmu agamamu dan untukku agamaku." (QS. Al-Kafirun: Ayat 6).


Putar Otak Kaum Bapak

Putar Otak Kaum Bapak

Potential Looser dan Winner era Covid-19

bersamaislam.com - Pandemi Corona ini memang bikin pusing banyak orang. Sudahlah gak bisa keluar rumah, dapur pun tak lagi ngebul. Sementara anak-anak harus terus beli paket internet karena belajar daring.

Bapak-bapak pusing cari uang, ibu-ibu lebih pusing lagi mengatur uang yang seadanya. Syukur kalau ada, kalau tidak ada, jadilah para ibu-ibu ini jualan dadakan. Mulai dari jualan kalung, cincin, kulkas, televisi, yang penting ada yang bisa dibelikan beras.

Para pegawai kantoran disuruh WFH, anak-anak didik disuruh belajar di rumah, tapi dampaknya di rasakan oleh tukang ojek antar jemput, ojek online, warung nasi, penjual jajanan, pengusaha kantin, tukang parkir, sampai kepada sopir angkutan umum.

Biro travel umroh menjerit, apalagi yang masih kelas kecil. Karena berangkat ke tanah suci tidak dibolehkan lagi sekarang. Bahkan mesjid-mesjid yang mengandalkan kencleng sholat jumat untuk dana operasional pun merasakan akibatnya.

Termasuk juga ustadz penceramah, guru privat, dan lain-lain yang income mereka datang jika ada kegiatan atau istilah kerennya activity based revenue.

Bagi mereka, dirumahkan atau di PHK rasanya sama saja. Pendapatan mereka tidak ada lagi. Orang-orang kecil memang selalu yang paling kena dampak. Dan mereka harus terus putar otak.

"Yah, gimana pak anak-anak di rumah butuh makan, sekarang mah yang penting hati-hati aja," kata seorang bapak yang mengantar telur ke rumah saya. Profesi aslinya tentu saja bukan itu, namun karena Covid-19 dia beralih jadi petugas delivery service.

Namun memang selalu ada hikmah di balik kejadian. Di tengah-tengah Pandemi ini yang kreatif tentu juga banyak.

Ada yang menawari warga se-komplek untuk dibelikan kebutuhan hariannya ke warung atau supermarket. "Saya yang belanja untuk semua rumah di komplek ini, dibayar seikhlasnya saja," katanya.

Ada yang jadi pedagang masker dan hand sanitizer, jualan jamu herbal dan makanan sehat. Pengajian-pengajian atau seminar online via zoom pun mulai menjamur.

Rasa-rasanya hikmah terbesar yang kita dapatkan dari wabah ini selain gaya hidup sehat adalah terbangunnya kreatifitas dalam menyelesaikan masalah. Dan bisa jadi, semua hal yang terpaksa kita lakukan selama pandemi ini nanti menjadi sesuatu yang biasa bahkan lebih efektif.

Razas Ms



I'm Moody, Bisakah Menghafal Al Qur'an?

I'm Moody, Bisakah Menghafal Al Qur'an?

Ilustrasi

bersamaislam.com - Menghafal Al-Qur’an merupakan sebuah amalan yang sangat istimewa, para Sahabat di zaman dahulu senantiasa menjadikan Al-Qur’an sebagai amalan utama sebelum hal lainnya. Hal ini dikarenakan ganjaran yang amat menggiurkan disisi manusia, diantaranya yaitu:

1.  Menjadi Sebaik-baik Manusia

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

“Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya” (HR. Bukhari)

2. Menjadi Syafa’at

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

اقْرَأُوْا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِيْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيْعًا لِأَصْحَابِهِ

“Bacalah Al-Qur’an, karena ia akan datang pada hari kiamat sebagai syafa’at bagi shahibul Qur’an.” (HR Muslim)

3. Diberi Mahkota dan Pakaian Kemuliaan

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda :

يَجِىءُ الْقُرْآنُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيَقُولُ يَا رَبِّ حَلِّهِ فَيُلْبَسُ تَاجَ الْكَرَامَةِ ثُمَّ يَقُولُ يَا رَبِّ زِدْهُ فَيُلْبَسُ حُلَّةَ الْكَرَامَةِ ثُمَّ يَقُولُ يَا رَبِّ ارْضَ عَنْهُ فَيَرْضَى عَنْهُ فَيُقَالُ لَهُ اقْرَأْ وَارْقَ وَتُزَادُ بِكُلِّ آيَةٍ حَسَنَةً

“Al-Quran akan datang pada hari kiamat, lalu dia berkata, “Ya Allah, berikan dia perhiasan.” Lalu Allah berikan seorang hafizh Al-Qur’an mahkota kemuliaan. Al-Quran meminta lagi,“Ya Allah, tambahkan untuknya.”Lalu dia diberi pakaian perhiasan kemuliaan. Kemudian dia minta lagi, “Ya Allah, ridhai dia.” Allah-pun meridhainya. Lalu dikatakan kepada hafizh Qur’an, “Bacalah dan naiklah, akan ditambahkan untukmu pahala dari setiap ayat yang kamu baca.” (HR At-Tirmidzi)

4. Derajat tinggi di Surga.

Semakin banyak hafalannya, akan semakin tinggi kedudukan yang akan didapatkan di surga kelak. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

يُقَالُ لِصَاحِبِ الْقُرْآن اِقْرَأ وَارْتَقِ، وَرَتِّلْ كَمَا كُنْتَ تُرَتِّل فِيْ الدُنْيَا، فَإِنَّ مَنْزلكَ عِنْدَ آخِر آية تَقْرَؤُهَا

“Akan dikatakan kepada shahibul qur’an (di akhirat) : bacalah dan naiklah, bacalah dengan tartil sebagaimana engkau membaca dengan tartil di dunia. karena kedudukanmu tergantung pada ayat terakhir yang engkau baca.” (HR Abu Daud)

Demikian beberapa keutamaan bagi mereka yang menghafal Al-Qur’an. Dan ternyata tak hanya berhenti pada beberapa poin diatas, masih banyak lagi hadits yang menerangkan balasan bagi Ahlul Qur’an.

Namun, Sahabat.. masihkah ada diantara kita yang enggan menghafalkan Al-Quran karena alasan malas, moody dan belum sempat? Padahal Allah telah memberitakan dengan jelas bahwa Al-Qur’an ini mudah untuk dipelajari dan dihafalkan.

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْاٰنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُّدَّكِرٍ

“Dan sungguh, telah Kami mudahkan Al-Qur’an untuk peringatan, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?” (QS. Al-Qamar :17, 22, 32, 40)

Allah sampai mengulang firman-Nya empat kali, loh Sahabat! Sebelum kita menilai diri kita tak mampu untuk menghafalkan Al-Qur’an, maka sungguh Allah telah jauh lebih dulu mengisyaratkan perihal kemudahan Al-Quran itu sendiri bagi manusia. Kita mau jadi golongan yang mana?

Bahkan Allah berfirman bahwa Al-Qur’an datang bukan agar membuat kita kesusahan.

مَا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْقُرْآنَ لِتَشْقَىٰ

“Kami tidak menurunkan Al-Qur’an ini kepadamu agar kamu menjadi susah” (QS.Thaha:2)


Sulit Menghafal Karena Moody?

Sahabat, terkadang diantara kita ada yang merasa kesulitan menghafalkan Al-Qur’an. Salah satu penyebabnya adalah Moody. Apa, sih Moody itu? Moody adalah salah satu karakter dimana perasaan seseorang mudah naik dan turun secara drastis dan tiba-tiba. Misalnya, sedang dalam keadaan senang dan bahagia tiba-tiba langsung berubah menjadi amat sedih dan kecewa sampai putus asa. Hal ini cukup mengganggu keberlangsungan aktivitas seseorang termasuk menghafal Al-Qur’an.

Pertanyaannya, apakah Moody menghambat proses menghafal Al-Qur’an? Jawabannya adalah TIDAK! Sama sekali tidak. Dengan catatan apabila kita sendiri tidak mengizinkan hal itu dapat terjadi. Mengapa demikian? Karena kita yang memiliki kuasa atas apa yang akan kita lakukan tidak. Yang menjadi faktor paling utama adalah keinginan dan kesungguhan.

Pernahkah Sahabat mendengar istilah First Hardest? Percobaan pertama yang biasanya niscaya dengan kesulitan. Hal ini dapat kita analogikan dengan jalan setapak di dalam hutan dengan tanah yang tidak ditumbuhi rumput, sementara rumput-rumput liar tumbuh subur di kiri dan kanan jalan setapak itu.

Mengapa bisa demikian? Ya, karena jalan itu telah diretas dan selalu dilewati oleh tapak-tapak pejalan kaki. Awalnya mungkin bagi pemotong rumput di hutan tersebut akan kesulitan sebab amat lebat dan cukup menguras tenaga, hingga akhirnya jalan setapak bisa tercipta dan selalu dilewati dengan mudah karena bersih dari rumput liar.

Begitu pula dengan menghafalkan Al-Qur’an bagi kita yang Moody, awalnya mungkin akan kesulitan. Tapi, bukankah Allah yang telah menjamin kemudahan?

Maka dari itu yuk kita bahas bagaimana cara mengatasi Moody dan metode menghafalkan Al-Qur’an seperti apa sih, yang cocok untuk kaum Moody-an?


Tips Mengatasi Moody

1. Pahami Hati

Sahabat, siapa yang akan benar-benar mengetahui hati kita jika bukan kita sendiri dan Allah Swt. Jangan sampai kita selalu ingin dimengerti orang lain atas sifat kita yang cukup freak ini. Hihi.. Jangan egois! Ingat loh, dunia tidak hanya berporos padamu saja (kalau kata NKCTHI :D)

Jika kita mengetahui bahwa diri kita sedang tidak enak hati, yuk pahami hati kita sendiri dan cari jalan keluar agar bisa terobati lagi. Apalagi, menghafal Al-Qur’an ini bukan soal kepintaran saja, melainkan keikhlasan dan ketulusan hati. Yuk beresin dulu hatinya!

2. Cari Aktivitas Yang Bisa Mengembalikan Semangat

Setiap orang memiliki cara tersendiri untuk mengambalikan semangat dan motivasinya. Maka, setelah memahami hati dan diri, kita harus tahu solusi seperti apa yang bisa ampuh membuat kita kembali bersemangat dalam melakukan aktivitas.

Hati-hati jadi berlarut dalam mood yang negatif dan berujung mager alias malas gerak. Sayang sekali loh kesempatan waktu yang terbuang sia-sia. Nah, ada yang suka jalan-jalan agar mood nya baik, ada yang suka bersih-bersih rumah hingga curhat di buku diary yang melapangkan hati. Pokoknya, cari cara kita sendiri agar bisa kembali bersemangat, ya.

3. Minta Izin Pada Allah

Hah, minta izin pada Allah? Izin apakah itu? Nah, Sahabat.. Al-Qur’an ini adalah mukjizat paling besar yang Allah turunkan. Didalamnya berisi kisah, nasihat, petunjuk, rahmat dan bahkan obat untuk penyakit. Allah Yang Maha Memiliki segala sesuatu di dunia ini juga Maha Menggenggam Hati hamba-Nya. Maka, kita sebagai salah satu ummat Nabi Muhammad Saw hendaknya memohon pada Allah agar Al-Qur’an dapat masuk ke dalam hati kita sebagaimana Allah berfirman:

بَلْ هُوَ آيَاتٌ بَيِّنَاتٌ فِي صُدُورِ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ ۚ وَمَا يَجْحَدُ بِآيَاتِنَا إِلَّا الظَّالِمُونَ

“Sebenarnya, Al Quran itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Ankabut : 49)


Tips Menghafal Untuk Kaum Moody

1. Cari Waktu Yang Paling Baik Untuk Menghafal

Untuk kita kaum Moody, selain perlu mengetahui kondisi yang pas untuk menghafal bagi hati kita (ciee) perlu kita cari waktu yang dianjurkan juga untuk menghafal, diantaranya ialah

a. Sepertiga Malam
b. Ba’da Shubuh
c. Sebelum tidur
d. Ba’da Maghrib

Waktu-waktu tersebut selain merupakan anjuran dari Allah dan Rasulullah, menurut penelitian otak sedang dalam masa yang paling baik untuk menerima respon karena masih fresh. Sehingga proses meghafal akan berlangsung optimal.

2. Baca Makna Ayat yang Dihafal

Sebelum menghafal, alangkah lebih baik jika kita membaca makna setiap ayat yang akan kita hafal. Hal ini bertujuan agar kita dapat lebih mengikat hafalan secara pemahaman dan proses alur kisah di ayat tersebut yang memudahkan kita dalam merangkai ayat yang dihafal. Selain itu, membaca makna ayat juga bermanfaat untuk menambah wawasan kita dalam memahami Al-Qur’an sehingga mudah-mudahan akan bertambah keimanan kita setelah bertambahnya hafalan Al-Qur’an kita. InsyaaAllah.

3. Ulangi Ayat yang Dihafal minimal 20x

Practice makes right, repetition makes perfect. Begitu kata pepatah. Maka latihan dan pengulangan adalah dua hal yang tidak boleh dipisahkan dalam melakukan sesuatu termasuk menghafalkan Al-Qur’an. Jika kita fikir menghafal lagu itu mudah ketika kita mendengarnya berkali-kali, maka Al-Qur’an ini justru harus lebih mudah bagi kita sebagai ummat Islam. Apalagi setiap hurufnya memiliki 10 nilai kebaikan yang apabila kita ulang berkali-kali akan menghasilkan pahala yang tiada terkira. Subhanallah.

4. Muraja’ah (Ulang) Hafalan Agar Tidak Hilang

Sahabat, Al-Qur’an sesungguhnya akan menjaga kita dari segala bentuk maksiat apabila kita mau menjaga Al-Qur’an dalam hidup kita, termasuk menjaga hafalan Al-Qur’an itu sendiri. Ulanglah hafalan kita secara berkala di setiap hari nya agar tetap terjaga dalam ingatan kita, dan mudah-mudahan Al-Qur’an akan menjadi syafa’at bagi kita di Yaumil Akhir. Aamiin

Winni Alawiyah
Bandung, 24 Januari 2020 15.38 WIB

Investasi Amal Kebaikan

Investasi Amal Kebaikan

Ilustrai

bersamaislam.com - Setiap kali berbicara mengenai investasi, tentulah yang terbayang di kepala kita adalah tanah, rumah, tabungan, deposito, asuransi, toko dan tak jauh-jauh seputar itu. Segala hal yang menyangkut tentang harta dan akan menjamin kehidupan kita dan anak cucu dimasa depan.

Kebanyakan orang-orang yang memiliki kelebihan dalam hal harta tentu sudah memikirkan hal ini dan tentu pula sudah mempersiapkannya. Dalam Ilmu Ekonomi, investasi itu mutlak diperlukan karena tidak semua orang tau, apa yang akan terjadi dengan diri dan keluarganya dikemudian hari.

Demikian juga menurut ajaran Islam, kita diajarkan untuk berinvestasi. Namun disini uniknya tidak hanya investasi harta yang dianjurkan tetapi juga investasi amal kebajikan. Investasi yang nantinya tidak hanya akan menjamin kehidupan kita dan anak cucu di dunia, melainkan juga akan menjamin kehidupan di alam setelah dunia ini.

Nah, apa saja investasi yang dianjurkan dalam Islam?

Di dalam As Shahih diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda, "Apabila seorang anak Adam meninggal, maka akan terputus amalannya kecuali tiga perkara yaitu shodaqoh jariyyah, ilmu yang bermanfaat dan anak solih yang mendoakan kepadanya".

Shodaqoh Jariyyah

Apa itu dan bagaimana bentuknya? Shodaqoh jariyyah adalah shodaqoh yang kita berikan yang pahalanya akan terus mengalir selama barang tersebut masih dipergunakan dan mendatangkan manfaat. Misalnya sedekah untuk membangun mesjid, untuk pembuatan sumur, menanam pohon, mencetak buku dan mushaf, membuat kursi, rumah, sekolah dan lain sebagainya. Yang manfaatnya masih dan akan terus dirasakan oleh orang lain.

Ilmu yang Bermanfaat

Nah di sini Rosul pernah bersabda, "Sampaikanlah dariku walau satu ayat". Maknanya sebarkanlah ilmu yang baik, kepada siapa saja, sekecil apa pun ilmu tersebut. Misalnya mengajarkan anak membaca Iqro', maka selama sang anak terus mengaji sesuai huruf yang kita ajarkan (tentu saja benar makhroj dan tajwidnya) maka pahala akan terus mengalir kepada kita.

Demikian pula dengan ilmu memasak, bila kita mengajarkan cara/resep masakan dengan benar (misalnya masak nasi). Maka setiap kali ia memasak dengan cara yang kita ajarkan maka pahala akan terus mengalir kepada kita (so, yang punya resep enak-enak jangan diumpetin yaa)

Anak Solih yang Mendoakan
   
Perkara ketiga ini yang berat untuk diusahakan tetapi besar sekali manfaat yang kita dapat. Untuk mendapatkan anak yang solih maka sebelumnya pilihlah pasangan yang solih/solihah, dan tentu untuk mendapatkan pasangan yang solih/solihah terlebih dulu kita perbaiki diri. Doa yang tidak ada hijab atau langsung sampai kepada Allah adalah doa orang yang berpuasa, doa orang yang terzalimi dan doa orang tua untuk anaknya dan sebaliknya.

Maka berinvestasilah, dengan cara apa pun yang sanggup ditempuh. Karena kebahagiaan tidak hanya diupayakan untuk kehidupan dunia saja. Tetapi juga untuk kehidupan yang abadi nanti.

Siti Maria Ulfah

Produktivitas Tanpa Batas Seorang Muslim

Produktivitas Tanpa Batas Seorang Muslim

Muslim Produktif

bersamaislam.com - Produktif, ialah sebuah aktivitas yang menghasilkan sesuatu dalam jumlah yang banyak. Entah ianya berbentuk karya, kegiatan atau hal-hal yang bermanfaat.

Dalam Islam, ternyata kaum muslim diajarkan untuk menciptakan kebermanfaatan dalam setiap lini kehidupannya. Bukan hanya tentang beragama dan beribadah, dalam kehidupan sehari-hari pun Allah telah jauh mengisyaratkan tentang produktivitas bagi manusia.

Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Hasyr: 18).

Nah, ternyata ummat muslim hendaknya merancang setiap aktivitasnya agar dapat mempersiapkan hari-hari berikutnya termasuk hari dimana Kita dikumpulkan di Akhirat. Maka agaknya, aktivitas yang Kita lakukan bukan hanya hal-hal yang bermanfaat untuk dunia tetapi juga kebermanfaatan untuk akhirat.

Tetapi, kadang kala Kita kebingungan membedakan apa itu profuktif dan apa itu sibuk. Ayo, kira-kira apa, sih bedanya produktif dan sibuk?

Berikut Kita simak bersama apa perbedaan produktif dan sibuk;

1. Perencanaan dan prioritas
Orang produktif hanya memiliki tiga hal dalam perencanaan vs orang sibuk mempunyai banyak hal dalam perencanaan.

2. Fokus pada pekerjaan
Orang produktif mengerjakan satu tugas vs orang sibuk mengerjakan banyak pekerjaan.

3. Strategis mengambil keputusan
Orang produktif mengatakan ‘ya’ secara strategis vs orang sibuk mengatakan ya untuk semua hal.


Agar tetap produktif

Ketahuilah, sebagaimana yang telah Allah sampaikan pada ayat berikut, bahwa;

فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ

“Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain” (QS. Al-Insyirah : 7)

Beginilah produktivitas yang efektif. Kita menghasilkan satu pekerjaan yang selesai, lalu beralih pada pekerjaan yang lain untuk Kita selesaikan satu-persatu. Dibandingkan Kita sibuk melakukan berbagai aktivitas namun tidak menghasilkan apa-apa.

Allah telah mengatur hal ini sedemikian rinci agar Kita sebagai manusia dapat menjadi sumber kebermanfaatan dan kebaikan bagi sekitar. Apabila Kita terbiasa melakukan hal dengan terencana, maka Kita akan terbiasa untuk mengukur target yang Kita capai.

Pada praktiknya, belajar menjadi manusia yang produktif memang memerlukan waktu pembiasaan agar tumbuh menjadi karakter. Dan seringkali juga, Kita dapati keadaan dimana Kita tak dapat melakukan apa-apa karena berbagai hal, misalnya sakit dan kelelahan atau karena semata-mata memang diri Kita malas.

Nah, hati-hati loh! Karena jika Kita malas, banyak sekali dampak negatif yang Kita dapatkan.

Menurut Imam Raghib Al-Ashfahani:

“Orang yang sering gabut dan banyak menganggur, maka dirinya telah lepas dari sifat kemanusiaannya, bahkan dari sifat hewan sekalipun (tidak ada hewan gabut/nganggur). Sehingga dia sejenis makhluk yang mati. Nganggur itu mematikan sifat kemanusiaan. Setiap anggota badan jika tidak dipakai, maka ia tak berguna nan sia-sia. Seperti kondisi mata ketika dipejamkan. Atau tangan ketika ditelantarkan. Badan yang terbiasa dimanja dengan kemudahan, akan menjadi malas. Begitu pula pikiran dan jiwa, jika jarang merenung dan berfikir akan dungu. Kalau sudah begitu, maka satu tingkat dengan hewan ternak.”

Beginilah pentingnya produktivitas, sebab Allah telah menempatkan segala sesuatu sesuai peruntukkannya. Maka, sebagai hamba yang telah Allah amanahkan tubuh, mari Kita lakukan kebaikan-kebaikan dan berbagai kebermanfaatan melalui tangan-tangan Kita, pikiran, hati, mata, telinga dan semua anggota tubuh ini hingga habis hanya untuk amal-amal nyata untuk-Nya.

Semoga kelak, merekalah yang akan menjadi salah satu hujjah di Akhirat.

“Tidak akan bergeser kedua kaki anak Adam di hari kiamat dari sisi Rabb-Nya, hingga dia ditanya tentang lima perkara (yaitu): tentang umurnya untuk apa ia habiskan, tentang masa mudanya untuk apa ia gunakan, tentang hartanya dari mana ia dapatkan, dan dalam hal apa (hartanya tersebut) ia belanjakan dan apa saja yang telah ia perbuat dari ilmu yang dimilikinya.” (HR. ath-Thirmidzi no. 2416, ath-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir jilid 10 hal 8 hadits no. 9772 dan hadits ini telah dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam Silsilah al-Ahadits ash-Ashahihah no. 946)
  1. Untuk apa usianya digunakan?
  2. Untuk apa masa mudanya digunakan?
  3. Darimana hartanya didapatkan?
  4. Untuk apa harta tersebut digunakan?
  5. Apa yang telah diperbuat dengan ilmu yang dimilikinya?


Produktif kapanpun dimanapun

Produktivitas setiap orang tentu akan berbeda sesuai dengan amanahnya masing-masing. Andai kata seseorang yang sudah bekerja dapat produktif atas pekerjaannya, maka bagi remaja yang masih sekolah tentu kegiatan mereka dalam rangka belajar pun dinilai sebagai produktivitas.

Yang perlu Kita tekankan ialah, jadikanlah waktu-waktu yang Kita miliki habis untuk sesuatu yang menghasilkan karya dan manfaat.

Kendati pun mereka yang gemar nongkrong di sosial media, maka jadikanlah hal itu untuk suatu yang bermanfaat dan produktif. Misalnya, membaca beberapa pengetahuan dan wawasan, bukan hanya asyik melihat story dan postingan yang tidak berfaidah.

Lebih bagus lagi jika Ia gunakan akunnya untuk berkarya dan berdakwah, tentu hal ini akan bermanfaat dan jauh lebih berguna bagi dirinya dan orang lain.


Utamakan Al-Qur'an Sebelum Yang Lain

Bagi Kita sebagai ummat muslim, ada satu kegiatan yang tak boleh terlupa dan terlepas dari berbagai aktivitas yang Kita miliki. Ya, ialah Al-Qur’an.

Jangan sampai Kita habis-habisan berkegiatan untuk hal yang berdampak besar bagi orang lain tapi diri Kita kering kerontang dari ruh kebaikan itu sendiri. Sebab, jiwa Kita akan menghasilkan ruh yang sama sesuai dengan kondisi hati Kita.

Utamakan Al-Qur’an sebelum kegiatan lain, maka keberkahannya ialah waktu Kita akan terasa sangat lebih lapang, sehingga Kita dapat melakukan banyak kegiatan dalam waktu singkat. Hal ini bukan efek magis, tapi ini adalah fitrah produktivitas manusia.

Seringkali Kita rasa waktu Kita habis untuk dunia dan tak sempat tilawah Al-Qur’an. Tapi sesungguhnya, karena Kita tidak membaca Al-Qur’an lah maka rasanya waktu Kita amat sedikit dan habis untuk dunia semata.

Pada hakikatnya, dunia ini tak ada habisnya. Maka, Kita kembalikan semuanya pada Allah Yang Maha Memiliki alam raya dan seisinya dengan melakukan ibadah.


Konsisten Untuk Tetap Produktif

Dalam hal ini, produktivitas sebagai seorang muslim lebih utama apabila dilakukan secara konsisten, sebagaimana Hadits berikut;

Dari ’Aisyah –radhiyallahu ’anha-, beliau mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلّ

”Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinu walaupun itu sedikit.” (HR. Muslim)

Jadi, kontinuitas adalah sesuatu yang akan berdampak kebaikan di esok hari. Apabila Kita konsisten tilawah satu juz satu hari, maka satu bulan telah mengkhatamkan Al-Qur’an. Apabila Kita konsisten membaca buku satu kali dalam satu pekan, maka dampaknya akan terasa satu-dua tahun kedepan.

Pun pada kegiatan-kegiatan lain yang Kita lakukan. Maka ia akan menjadi karakter bagi Kita. Terlebih lagi, Kita membiasakan diri untuk tetap produktif. Maka ia juga akan menjadi karakter yang mendarahdaging. Sampai rasanya, ketika Kita tidak melakukan kegiatan, rasanya diri Kita kehilangan sesuatu.

Nah, bonusnya lagi Allah tetap memberikan ganjaran bagi Kita atas amal yang konsisten Kita lakukan, namun Kita tidak melakukannya karena udzur.

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْعَبْدَ إِذَا كَانَ عَلَى طَرِيقَةٍ حَسَنَةٍ مِنَ الْعِبَادَةِ ثُمَّ مَرِضَ قِيلَ لِلْمَلَكِ الْمُوَكَّلِ بِهِ اكْتُبْ لَهُ مِثْلَ عَمَلِهِ إِذَا كَانَ طَلِيقاً حَتَّى أُطْلِقَهُ أَوْ أَكْفِتَهُ إِلَىَّ

“Seorang hamba jika ia berada pada jalan yang baik dalam ibadah, kemudian ia sakit, maka dikatakan pada malaikat yang bertugas mencatat amalan, “Tulislah padanya semisal yang ia amalkan rutin jika ia tidak terikat sampai Aku melepasnya atau sampai Aku mencabut nyawanya.” (HR. Ahmad, 2: 203. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth menyatakan bahwa hadits ini shahih, sedangkan sanad hadits ini hasan)

MaasyaAllah, betapa Allah Yang Maha Pemurah amat mencintai ummat yang konsisten dalam kebaikan dan produktivitas. Dan Allah jua memberikan motivasi bagi Kita agar terus berlomba-lomba dalam kebaikan dan memperbaiki setiap aspek kehidupan yang Kita miliki.

مَنِ اسْتَوَى يَوْمَاهُ فَهُوَ مَغْبُونٌ ، وَمَنْ كَانَ يَوْمُهُ شَرًّا مِنْ أَمْسِهِ فَهُوَ مَلْعُونٌ

“Barangsiapa yang dua harinya (hari ini dan kemarin) sama maka ia telah merugi, barangsiapa yang harinya lebih jelek dari hari sebelumnya, maka ia tergolong orang-orang yang terlaknat”.

Maka, mari Kita berusaha menjadi hamba yang bertakwa degan melakukan kerja-kerja kebaikan yang bermanfaat bagi diri dan ummat. Sehingga, mudah-mudahan atas ikhtiar Kita dalam beramal, Allah catat sebagai salah satu diantara pejuang yang bersungguh-sungguh dalam melakukan setiap amanah yang dipikul.

Atas konsistensi Kita mengerjakan tugas dengan baik, Allah ridha atas perjalanan Kita mengarungi kehidupan ini. Dengan Al-Qur’an yang Kita jadikan utama, Allah berikan keberkahan-keberkahan tiada tara untuk semua hal yang kita lakukan. Allahumma Aamiin.

Winni Alawiyah
Bandung, 2 Januari 2020



Setiap Ide Harus Dicoba

Setiap Ide Harus Dicoba

Ilustrasi

bersamaislam.com -

Setiap Ide Harus Dicoba
@razasms

Teruslah bergerak, hingga kelelahan itu lelah mengikutimu.
Teruslah berjalan, hingga keletihan itu letih bersamamu.
Teruslah berkarya, hingga kegagalan itu gagal menghalangimu.
Terus lakukan, hingga keterbatasanmu itu kau kalahkan.
(Rahmat Abdullah, edited)

Barangkali ide pertama dalam sejarah kehidupan manusia adalah kawin silang yang dilakukan nabi Adam terhadap anak-anaknya. Yang membuat orang pertama itu menjadi kakek buyut kita semua.

Manusia adalah pelaku perubahan dan ide menjadi penggeraknya. Maka kita saksikan dalam sejarah, setiap perubahan ada karena ide yang dicoba. Mulai zaman batu hingga era digital sekarang ini.

Biasanya perubahan diawali oleh segelintir orang yang punya ide. It has always been a small team of people who have a new idea. Dan orang-orang itu selalunya adalah anak muda pada zamannya.

Dan biasanya big change begins with a simple idea. Gak muluk-muluk. Tapi yang punya ide serius mengeksekusinya. Gak sekedar wacana.

Newton masih berusia 24 tahun ketika dia memikirkan ide tentang buah apel yang jatuh dari pohon. Lalu memunculkan teori gravitasi paling berpengaruh dalam dunia sains.

Mark Zuckerberg cuma ingin membuat aplikasi yang bisa menghubungkan antar mahasiswa di kampusnya. Sekarang Facebook adalah platform yang mengkoneksikan seluruh dunia.

Orang-orang yang punya ide itu seringkali dibilang goblok. Dianggap gila dan kurang kerjaan. Tapi mereka jalan terus, believe, dan mencoba idenya.

Apa beda Bill Gates, Steve Jobs, Larry Page dan orang-orang hebat lainnya?

Mereka tidak pernah komplain. Mereka selalu berpikir bagaimana menyelesaikan masalah orang lain. Tidak lelah mencari ide dan optimis melihat masa depan. Peluang akan selalu terlihat saat kita optimis.

Mengutip Jack Ma,
"Dont complain, let the other people complain. Because in their complain, you create your ideas". Peluang selalu ada ketika orang lain komplain.

Akan tetapi kebanyakan orang berpikir beda. Dimana lagi peluangnya? Ide apalagi yang bisa kami ciptakan? Semua sudah ada. Sementara saya tidak bisa ini itu, saya tidak memiliki apapun.

Padahal the best asset you have that you are YOUNG.

Think...
Apakah ada sesuatu yang aku lakukan dapat membuat perbedaan?
Di sini, di tempatku bekerja? Di rumah? Atau dimanapun aku diharapkan hadir.

Dan setelah engkau memikirkannya...
Start doing!

Karena banyak anak muda punya ide fantastis di malam hari, tapi dipagi harinya mereka tetap melakukan hal yang sama lagi di tempatnya bekerja.

Bagaimana jika saya gagal?

Make any mistakes.
Failure is an option here.
If things are not failing, you are not innovating enough.

Kenapa harus takut gagal?
Bukankah pembunuhan pertama dalam sejarah kehidupan manusia juga dilatarbelakangi ide kawin silang Nabi Adam?

Just do it!
Thomas Alva Edison sudah bertemu dengan ratusan kegagalan sebelum akhirnya ia menemukan bola lampu. Sampai-sampai ia berkata, "saya berhasil karena percobaan yang gagal telah habis".

Persis ungkapan dalam puisi Rahmat Abdullah di atas.

Tidak ada ide yang sempurna.
Tapi bisa disempurnakan.

Versi beta, versi final
Versi final 1.0 lalu versi final 2.0

Bahkan pakaian dalam zaman Firaun hingga zaman milenium sekarang ini sudah entah perubahan versi yang keberapa.

Just do it!
Karena SETIAP IDE HARUS DICOBA.

Kisah Rina Nose dan Atlet Judo Mesir

Kisah Rina Nose dan Atlet Judo Mesir

Kisah nyata Rina Nose dan atlit Judo Mesir
ilustrasi

bersamaislam.com - Adalah Muhammad Rasywan, seorang atlet judo asal Mesir yang telah menyabet banyak medali kejuaraan internasional. Tapi bukan itu sebab ketenarannya, justru pamornya mulai melejit sejak Olimpiade Los Angeles 1984, di mana kala itu ia telah sampai pada babak final melawan Judoka Jepang bernama Yasohiro Yamashita, namun dirinya sengaja mengalah dalam pertandingan final tersebut dikarenakan atlet Jepang yang menjadi lawannya telah terluka di salah satu kakinya. Jiwa sportifnya menolak untuk melawan serius seseorang yang telah cedera, hingga akhirnya ia pun rela hanya mendapatkan medali perak saja.

Saat Muhammad Rasywan ditanya dalam sebuah konferensi pers di Jepang; "Mengapa engkau menolak untuk menyerang lawanmu di kakinya yang terluka?" Ia hanya tersenyum dan berkata, "Agamaku melarangku untuk melukainya."

Rasywan mendapatkan sambutan yang besar di hati masyarakat Jepang, akibat sikap kesatrianya itu, banyak orang yang akhirnya tertarik masuk Islam. Dr. Najih Ibrahim menyebutkan ada seribu orang Jepang masuk Islam setelah itu, saya masih belum menemukan sumber valid tentang berapa jumlah orang Jepang yang masuk Islam karenanya, hanya saja yang pasti, Rasywan telah menikah dengan seorang perempuan Jepang, setelah perempuan tersebut bersyahadat masuk Islam, dan mereka telah dikaruniai 3 orang anak.

Muhammad Rasywan telah meraih penghargaan "Fairplay International Award", di Mesir sendiri, ia mendapat medali tertinggi yang langsung dikalungkan oleh presiden Mesir kala itu.

Itu adalah Muhammad Rasywan..

Lain dengan Muhammad Rasywan, lain pula dengan seorang artis dari belahan dunia lain yang kini lagi nge-hits menjadi obrolan warganet karena sikap noraknya dalam melepas jilbab. Fenomena lepas jilbab sebenarnya bukan kali ini yang pertama, cuman bedanya sang artis ini curhatannya agak potensial menyesatkan jika dibiarkan begitu saja. Apa pula ia membawa-bawa Jepang segala dalam tulisannya:

"Ada pelajaran baru yang saya dapat dari penduduk Jepang selama dua hari saya disini. Mayoritas penduduk sini rupanya tidak memiliki kepercayaan terhadap suatu agama, bahkan Tuhan…"

Lalu di akhir kata si artis tersebut berujar:

"Sulit menemukan tempat sampah di sini, tapi juga sulit menemukan sampah berceceran di setiap sudut nya… Satu hal lain yang menarik perhatian saya, ketika saya menemukan beberapa penduduk asli yang tiba-tiba ingin memeluk suatu kepercayaan. Kemudian saya bertanya, kalau hidupmu sudah sebaik ini tanpa agama, lalu kenapa kamu ingin mencari Tuhan dan ingin memiliki agama?"

~

Coba bandingkan antara keduanya: Raswan dengan akhlak dan normanya dapat menarik orang Jepang untuk masuk Islam, tapi si artis itu justru "mencegah" dan mempertanyakan sikap beberapa orang Jepang yang ingin memeluk "suatu kepercayaan" (apakah yang dimaksud adalah Islam?)

Raswan ibarat ikan laut yang berenang di samudera tapi dirinya tak menjadi asin. Ia tak terpengaruh, tak terkontaminasi dan tetap teguh dengan Keislamannya. Ia tak minder berada di negara maju dan dengan pede menyampaikan ajaran Agamanya yang menjunjung tinggi norma sportifitas. Ia mewarnai, bukan diwarnai.

Sedangkan si artis, ia terlihat begitu gagap. Baru dua hari saja di negara maju dia langsung minder. Ia menilai bahwa kebersihan, kedisiplinan dan sampah yang tak berceceran adalah parameter utama dalam mengukur "Kehidupan yang baik" sekalipun tanpa agama. Mungkin dia piknik-nya kurang lama, atau main-nya yang kurang jauh.

Rasywan bukanlah agamawan, bukan pengkhotbah, bukan pula ulama Al-Azhar yang diutus ke Jepang untuk berdakwah di sana. Ia hanyalah atlet yang bangga dengan agamanya dan pede menyandang Islam-nya di mana saja. Ia berdakwah bukan dengan lisan, tapi dengan perbuatan.

Sedangkan si artis, boro-boro bangga dengan agamanya, bahkan simbol keagamaan berupa jilbab pun ia tanggalkan.

Maka, berangkat dari spirit At-Taubah: 71 yang mengatakan bahwa orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, itu saling menyuruh mengerjakan yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; juga beranjak dari semangat Al-Ashr yang mengatakan bahwa semua manusia itu berada dalam kerugian yang nyata kecuali orang-orang yang saling menasehati supaya mentaati kebenaran… sudah sepatutnya jika kita angkat suara menanggapi pandangan sesat semacam ini, agar yang melenceng bisa kembali lurus, dan yang lurus bisa terus istiqomah.

Dan terkait jilbab, sebenarnya itu merupakan perkara aksioma. Yakin deh, dalam diri setiap muslimah sadar bahwa menutup aurat itu adalah sebuah keharusan, betapapun alasan yang mereka ungkapkan melalui lisan mereka untuk menutupinya. Maka lihatlah, bagaimanapun penampilan seorang muslimah sehari-hari, saat ia shalat maka ia akan mengenakan mukena dan menutup auratnya. Bagaimapun pakaian yang dikenakan seorang muslimah dalam aktifitasnya, saat ia naik Haji pasti ia akan menutup auratnya. Mengapa mereka melakukan itu? Karena mereka sadar itu adalah perintah Tuhan. Lantas, apakah Tuhan yang memerintahkan mereka menutup aurat saat Shalat itu berbeda dengan Tuhan yang memerintahkan mereka menutup aurat dalam aktifitas sehari-sehari? Ini tak perlu dijawab. Cukup jadi bahan perenungan saja.


Penulis: Syafruddin Ramly


Tentang Rencana Kenaikan Tarif Terselubung untuk 23 Juta Pelanggan PLN

Tentang Rencana Kenaikan Tarif Terselubung untuk 23 Juta Pelanggan PLN

Rencana kenaikan tarif terselubung untuk 23 juta pelanggan PLN.
Jokowi bersama para staf

bersamaislam.com - Jumlah pelanggan PLN itu sekitar 66 juta, di mana 56 jutanya adalah pelanggan rumah tangga. Dari jumlah pelanggan rumah tangga itu, 23 jutanya, atau 41 persen di antaranya, adalah pelanggan 900 VA.

Jadi, jika kini pemerintah melalui Menteri ESDM dan PLN sedang merancang kebijakan single price bagi pelanggan 900-1300-2200 sehingga sama dengan golongan 4400 VA, maka kebijakan itu secara tidak langsung sebenarnya adalah bentuk kenaikan tarif bagi 23 juta pelanggan pengguna 900 VA. Sebab, tarif tiga golongan sisanya saat ini sudah sama, hanya tinggal golongan 900 VA yang tarifnya berbeda.

Masalahnya, selama semester pertama tahun 2017, pemerintah juga telah menaikan tarif pelanggan golongan 900 VA sebesar 123 persen, dari semula mereka harus membayar Rp605/KWh, menjadi harus membayar Rp1.352/kWh. Jika penghapusan golongan ini berhasil disetujui tanpa perlawanan konsumen, maka tarif listrik pelanggan golongan 900 VA akan kembali naik menjadi Rp1.467,28/kWh, atau naik sekitar 8 persen.

Sebagaimana yang sudah kita lihat, kenaikan tarif listrik bagi pelanggan 900 VA telah memukul daya beli. Kita tidak bisa membayangkan jika kebijakan single price ini jadi diberlakukan.

Tapi, begitulah memang selama ini cara kerja pemerintah yang dipimpin oleh Presiden yang Anda sebut sebagai sederhana tersebut. Banyak orang lebih memilih untuk menonton gimmick yang dibuat oleh Sang Pujaan sembari melupakan persoalan yang sebenarnya. Itu sebabnya banyak orang masih bisa tertawa lepas meskipun kehidupan mereka sebenarnya sedang dipersulit oleh pemerintah.

Masih akan diteruskan pemerintahan semacam ini?!


Penulis: Tarli Nugroho


Aku Rasuli, Bukan Salafi

Aku Rasuli, Bukan Salafi

Kritikan terhadap jamaah salafi talafi wahabi yang gemar mengkafirkan jamaah lain.
ilustrasi

bersamaislam.com - Terkadang pingin ketawa membaca logika anak Salafiy. Kok sampai koyo ngono ya...? Dibilang lugu, kasihan. Mau gimana lagi, nyatanya memang lugu. (Lugu apa bego?)
Pernah suatu saat anak Salafiy komentar kaya gini... "Kalian jangan mencela Salafi. Itu sama saja kalian mencela Salaf."

Nih bocah ngomong apa sih. Keluar dulu gih dari tempurungnya. Sadar oi, ente itu Salafiy, bukan Salaf. Salaf kok main HP!

Seandainya dengan sebuah nama seorang bisa selamat, tentu Muhammad tetangga sebelah adalah orang yang paling layak masuk syurga. Ia ngga?

Apa kata si Muhammad? "Lo ikut kajian Salafiy baru dua bulan sudah belagu; ngarasa diri sebagai Salaf. Gua dari aqiqahan dikasih nama Muhammad ngga ngrasa diri sebagai Nabi Muhammad."

Lagian kalau mau eyel-eyelan kaya anak kecil, ngapain ikut Salaf kalau ada Rasul. logikanya kan kaya gitu. Gimana kalau yang lain kasih nama pengajiannya dengan nama "Rosuliy; pengikut Rasul".

Ustadnya dipanggil "Ustadz Rosuliy", warganya disebut "Rosuliyun". Ntar kalau ustadz Salafi debat dengan usatadz Salafiy, tinggal ngomong, "Ente mau ikut Salaf atau mau ikut Rasul"

Jamin dah, menang terus...

Emangnya Lo pikir, Lo doang yang bisa pukil? Masih kurang? Kita carikan dalilnya buat dukung branding Rasuliy... Emangnya Lo pikir, Lo ang yang hapal dalil?

Nih dananya.... Eh sorry, nih dalilnya:

"Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya dan ulil Amri di antara kamu." (QS. An-Nisa’: 59)

Tuh kan, jelas-jelas Allah suruh ikut Allah, Rasul dan ulil amri orang beriman. Bukan disuruh ikut Salafi, apa lagi ikut ulil amrinya Salafiy. Mau nglawan? BID’AH ente...!

Gimana... Mau ikut Rasul atau mau ikut Salafiy?


NB: Tulisan ini hanya sindiran ringan. Anak lugu tidak akan memahaminya.


Penulis: Sahlan Ahmad


Inilah Alasan Mengapa Konflik di Negara Islam Dipelihara oleh Dunia Barat

Inilah Alasan Mengapa Konflik di Negara Islam Dipelihara oleh Dunia Barat

Alasan mengapa konflik negara Islam dipelihara oleh dunia barat.
Salah satu capture video yang memperlihatkan anggota ISIS menggunakan tenda AS untuk latihan

bersamaislam.com - Dunia Islam dipersepsi sebagai negara~ negara di Timur Tengah yang mayoritas penduduknya muslim dan hukum Islam untuk mengatur tatanan kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat.

Negara~negara Islam di Timur Tengah juga identik sebagai negara yang kaya sumber minyak, mineral hingga opium yang memiliki nilai bisnis RIBUAN trilliun. Negara-negara seperti Afganistan, Iraq dan Syria sejatinya adalah "korban" dari negara-negara sekuleris dan kapitalis yang berebut minyak, mineral hingga opium (narkoba).

Sungguh tidak adil bila menuduh negara-negara seperti Afganistan, Iraq dan Syria sebagai sumber konflik dan pengeksport ideologi "terorisme", tapi bungkam melihat ketidak-adilan yang dilakukan oleh negara-negara sekuleris dan kapitalis terhadap rakyat di negara tersebut.

Alasan mengapa konflik negara Islam dipelihara oleh dunia barat.
Salah satu karikatur yang mengkritik keterlibatan AS terkait eksisnya ISIS

Begitu juga yang terjadi di Indonesia, Islam dituduh menyebarkan faham radikalisme dan terorisme, dituduh ingin mengubah ideologi Pancasila dan UUD 1945. Faktanya, siapa yang telah melakukan Amandemen UUD 1945? Siapa yang terbukti memisahkan diri dari NKRI dan mendukung disintegrasi Timor Timur? Sejarah mencatatnya, yaitu Uskup Bello (Gereja), Komunis Fretelin, dan "Jaringan Internationalnya".

Ingatlah! NKRI tidak ujug-ujug ada. Ada yang mendahuluinya, yaitu kesultanan-kesultanan Islam di Nusantara yang terbentang dari Sabang sampai Papua, dari Maluku hingga Jawa, bukan dari Singapura sampai Timor Leste. Kesultanan-kesultanan Islam di Nusantara menyatukan diri menjadi NKRI, Negara Kesatuan (United) Republik Indonesia. Sekarang, kok malah Islam yang dituduh radikalis, menyebar teroris?!

Sungguh, "kalian" telah lupa dari mana asal kalian, datang ke Indonesia membawa uang, seakan-akan semua bisa "dibeli dengan uang", lupa diri. Semoga Allah Ta'ala tidak mengazab kalian, memusnahkan kalian sehingga seakan~akan kalian tidak pernah ada di bumi ini, seperti yang terjadi terhadap bangsa-bangsa terdahulu.


Penulis: E Pratama Rizaldy


Tiga Pernyataan 'Menarik' Abu Yahya Badru Salam

Tiga Pernyataan 'Menarik' Abu Yahya Badru Salam

Ustadz Abu Yahya Badru Salam

bersamaislam.com - Beliau adalah pemateri di radio Rodja Lc. Di kalangan komunitas yang menyebut diri sebagai salafi, ustadz ini merupakan salah satu ustadz yang populer. Ia telah diundang berceramah kemana-mana. Tapi ada beberapa pernyataan menarik yang pernah dibuatnya.

1. Densus mendapat pahala sebagaimana mujtahid

Sebuah video yang pernah viral, menampilkan ustadz Abu Yahya Badru Salam berceramah di Bandar Lampung, tanggal 11 Februari 2014 (terlihat dari spanduk). Pada sesi tanya jawab, seorang mengajukan pertanyaan. "Bagaimana pandangan bapak bila mendengar berita adanya teroris tewas ditembak oleh densus 88."

Jawaban ustadz awalnya formalitas. Bahwa Densus 88 hanya menjalankan tugas. Tapi kalimat berikutnya menjadi menarik. "Kalau mereka sudah berusaha, kemudian salah orang, mudah-mudahan Allah memaafkan mereka. Kalau dalam Islam saja, kalau seseorang sudah berusaha berijtihad, sudah berusaha mengetahui sebuah persoalan kemudian salah, maka diberikan pahala satu."

Ketika video ini pertama kali viral, para warganet yang punya pemahaman Islam yang baik rama-ramai mengkritik pernyataan ustadz Badru salam. Mereka marah para mujtahid disamakan dengan Densus 88. Apalagi dianggap Densus 88 mendapat pahala setelah membunuh seorang muslim.

Beberapa video yang memuat pernyataan ini telah dihapus di Youtube. Salah satu yang masih tersisa bisa dilihat pada tautan berikut: https://youtu.be/mt6TpQn4wMk

2. Walisongo Tokoh Fiktif

Video lain menayangkan pernyataan ustadz Badru Salam yang berpendapat tidak ada bukti otentik keberadaan Walisongo. Bisa disimak pada tautan berikut: https://youtu.be/jSmgGMEvaas.

Ada pernyataan dari peserta pengajian, "Bagaimana dengan Walisongo yang menyebarkan Islam dengan cara mencampurkan syariat dengan adat istiadat."

Ustadz Badru salam pun menjawab, "Pak, Walisongo itu gak ada bukti yang otentik. Semuanya kata anu, kata sepuh kita.. Mana? Apakah walisongo meninggalkan buku, tulisan?" Kemudian ustadz itu pun menyebutkan beberapa kitab para ulama dan menlanjutkan, "Tapi tidak ada kitab Sunan Bonang," katanya.

Kemudian karena tak ada karya berupa kitab dari para Walisongo, ustadz Badru Salam berkesimpulan bahwa keberadaan Walisongo itu tidak bisa dipastikan.

3. Hukum Kencing dan Kotoran Kucing Itu Tidak Najis

Satu lagi video terbaru yang menayangkan pernyataan kontroversial si ustadz. Beliau menjawab pertanyaan audiens tentang kencing kucing. Lalu si ustadz menjawab, "Kalau kencing kucing mah nggak najis, ibu... Kucing itu yah, kencingnya tidak najis, kotorannya tidak najis, air liurnya tidak najis..."

Apa pasal? Ia membawakan hadits Rasulullah yang isinya bahwa kucing itu tidak najis.

Ada warganet yang mengkritik, manusia juga tidak najis, tapi kotoran dan kencingnya itu termasuk najis.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah menerangkan, “Kucing tidaklah najis. Namun apakah berlaku secara umum? Jawabnya, tidak. Yang tidak najis adalah air liur, sesuatu yang keluar dari hidungnya, keringat, jilatan atau bekas makan dan minumnya. Adapun untuk kencing dan kotoran kucing tetaplah najis. Begitu pula darah kucing juga najis. Karena setiap hewan yang haram dimakan, maka kencing dan kotorannya dihukumi najis. Kaedahnya, segala sesuatu yang keluar dari dalam tubuh hewan yang haram dimakan dihukumi haram. Contohnya adalah kencing, kotoran, dan muntahan.” (Fathu Dzil Jalali wal Ikram, 1: 110).

Bagi yang ingin melihat videonya, bisa dilihat di sini https://youtu.be/RbHdaKlP1cw

***

Terakhir, penulis ingin mengingatkan pembaca tentang ungkapan Imam Ali bin Abi Thalib r.a. yang sering dinukil kalangan salafiyun. “Perhatikanlah dari siapa kamu mengambil ilmu ini, karena sesungguhnya ia adalah agama.”

Penulis: Dovan Ali Rizci <dovanalirizci@gmail.com>



ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia

Broker Kripto

Tempo Doeloe

Olahan Makanan

Ulasan Film

Keimanan dan Keyakinan

Top Bisnis Online

Tips dan Trik