Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Tampilkan postingan dengan label Ngaji. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ngaji. Tampilkan semua postingan
3 Faktor Penyebab Malas Baca Al Quran, Nomor 3 Penyebab Terbesar

3 Faktor Penyebab Malas Baca Al Quran, Nomor 3 Penyebab Terbesar



Ilustrasi

bersamaislam.com Islam adalah agama terbesar di Indonesia, dengan 86,7% penduduk Indonesia mengidentifikasi diri mereka sebagai Muslim dalam survei tahun 2018. Indonesia adalah negara berpenduduk mayoritas Muslim terbesar kedua di Dunia setelah Pakistan, dengan sekitar 231 juta penganut. Namun penduduk Muslim Indonesia tidak semua nya menjadikan membaca Al Quran sebagai suatu kebiasaan. Bahkan Interaksi nya dengan Al Quran lebih sedikit di banding dengan Penggunaan Smartphone. 

Menurut laporan berjudul "State of Mobile 2024" yang dipublikasi oleh perusahaan analitik pasar mobile, Data.ai. Pengguna internet di Indonesia menjadi kelompok yang paling sering main smartphone per harinya pada 2023 lalu. Setidaknya begitulah menurut laporan berjudul "State of Mobile 2024" yang dipublikasi oleh perusahaan analitik pasar mobile, Data.ai. Dalam laporan tersebut, setiap orang Indonesia menghabiskan waktu rata - rata sekitar 6,05 jam setiap harinya untuk bermain smartphone pada 2023

Padahal begitu banyak keutamaan – keutamaan membaca Al quran yang dapat membawa kebaikan kepada seseorang yang mengamalkannya. Dalam suatu hadist “Dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Siapa saja yang membaca satu huruf dari Kitabullah, maka baginya satu kebaikan (pahala). Kebaikan itu dilipatgandakan menjadi sepuluh kebaikan semisalnya. Aku tidak mengatakan bahwa 'Alif Lam Mim' itu satu huruf, tetapi 'Alif' itu satu huruf, 'Lam' satu huruf dan 'Mim' satu huruf." (HR. At-Tirmidzi)”

Berikut beberapa Faktor penyebab seseorang malas membaca Al - Quran:
  1. Lingkungan yang kurang mendukung: Lingkungan sosial yang tidak mendukung juga bisa menjadi faktor. Jika seseorang tidak memiliki keluarga atau teman yang mendorongnya untuk membaca Al-Quran.
  2. Kurangnya kesadaran: Sebagian orang terkadang suka menganggap remeh amalan ini, Dalam salah satu Hadist "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Sebaik-baiknya ibadah umatku adalah membaca Al-Qur'an." (HR Al-Baihaqi).
  3. Gangguan Teknologi: Perangkat teknologi seperti Smartphone, tablet, atau komputer dapat menjadi sumber gangguan yang membuat seseorang sulit untuk fokus dan berkonsentrasi saat membaca Al-Quran. Kerena menurut kebanyakan orang aktivitas ini lebih menarik daripada membaca Al Quran.
Agar kita bisa lebih dekat dengan Al Quran yaitu dengan mencari Lingkungan yang Qur'ani. Dengan cara bergabung bersama kami di karantina Hafizh Quran Indonesia dan Pemuda Bumi Langit.

Informasi pendaftaran lebih lanjut:

Hafizh Qur'an Indonesia: http://haqin.in
WhatsApp us: wa.me/6282127284462



Pesan Penting Ustadz Abdul Somad kepada Para Santri

Pesan Penting Ustadz Abdul Somad kepada Para Santri

 

Ustadz Abdul Somad menyemangati para santri.

bersamaislam.com   Begini pesan Ustadz Abdul Somad  kepada para santri agar tetap semangat dalam menuntut ilmu agama.

UAS menyatakan pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan paling efektif dalam mendidik dan menjaga anak generasi muda bangsa ini, agar tidak terjerumus ke narkotika yang bisa merusak masa depan bangsa.

''Adik-adik ditempatkan di pesantren ini bukan karna orang  tua kalian tidak sayang, akan tetapi justru karena sangat sayang , sehingga adek adek ada di pesantren ini,'' ujar UAS ketika mengisi kajian di majelis Tabligh Akbar di pondok pesantren A-Amien Perenduan,sumenep,jawa timur, 1 tahun yang lalu.

Lalu UAS memberikan pesan penting kepada semua santri agar tetap menjadi santri yang bisa menjadi harapan bangsa dan agama, serta jangan merasa puas dengan apa yang telah di dapatkan di pesantren. karna sejatinya seorang santri yang taat kepada Allaah tak akan merasa puas akan ilmu yang telah ia dapat kan.Lalu UAS berikan 10 pesan ini kepada para santri yang hadir dalam majelis tabligh tersebut yang membuat para santri menjadi semangat dalam menuntut ilmu di pondok pesantren.

1. Tetaplah merasa santri, agar tak berhenti berbakti

2. Tetaplah merasa santri, agar tak tinggi hati

3. Tetaplah merasa santri, agar berbudi pekerti

4. Tetaplah merasa santri, agar tak merasa benar sendiri

5. Tetaplah merasa santri, agar tetap merasa perlu membaca kitab suci

6. Tetaplah merasa santri, agar tetap hormat pada kyai

7. Tetaplah merasa santri, agar semangat membangun negeri

8. Tetaplah merasa santri, agar peduli pada ekonomi

9. Tetaplah merasa santri, agar tak takut mati

10 Tetaplah merasa santri, agar takut kepada Ilahi

Pesan saya kepada kalian ,ilmu pesantren itu dapat menentukan kesuksesan dunia akhirat. Pesantren, dapat membawa segala sesuatu kebaikan dan kebenaran. ''kalian boleh menggantungkan cita-citamu dilangit tapi tetap berpijak di bumi. Kalian gapailah cita-citamu menjadi Polri,TNI,Pejabat sambil berdakwah. Karena dakwah adalah kewajiban semua muslim tanpa pandang jabatan,'' ujar ustadz Abdul Somad semoga Allaah menjaga beliau.










 Masya Allah, Santri Ini Khatam 30 Juz Dalam Dua Hari

Masya Allah, Santri Ini Khatam 30 Juz Dalam Dua Hari


Ananda Zakhi sedang menyetorkan 30 juz sekali duduk

bersamaislam.com -Seperti biasa Hafizh Quran Indonesia selalu memiliki daya tersendiri, seperti dengan berbagai prestasi yang dicapai santrinya. Salah satunya, santri Hafizh Quran Indonesia Zakhiyuddin, dia mengkhatamkan Al-Quran hanya dalam waktu dua hari.

Bagaimana mengkhatamkan Al-Quran dalam dua hari? Yuk kita simak kisah perjuangan Zakhi dalam mengkhatamkan Al-Quran

Inilah dia Zakhiyuddin seorang pemuda kelahiran Aceh sebagai rekor pertama mengkhatamkan hafalan Al-Quran dalam kurun waktu dua hari di Hafizh Quran Indonesia. Bagaimana usahanya bersusah payah mengikat hafalannya setiap hari, dengan mengorbankan waktu tidurnya.

Nah karena prestasi hafalannya yang begitu kuat, Zakhi tak jarang diminta oleh masyarakat sekitar untuk menjadi imam di masjid mereka. Bermula dari satu mulut ke mulut lainnya, Zakhi dikenal sebagai imam idaman sehingga tak hanya satu masjid melainkan lebih dari dari dua masjid.

“Alhamdulillahi Rabbil 'Alamin ala kuliinal wa naudizu billahimin ahlinnar. Puji syukur untuk Allah Swt. yang telah memberikan kenikmatan luar biasa, sehingga bisa mengkhatamkan 30 Juz dan sholawat serta salam kepada Nabi Muhammad Saw, serta para sahabatnya Terimakasih kepada Orang Tua, Ustadz/Ustadzah teman-teman pemuda bumi langit yang telah banyak mendoakan dan mersupport Dan juga terimaksih banyak kepada Pak” ucapan syukur Zakhi atas khatamnya.

Tak hanya menghafal Al-Quran dalam dua hari, tetapi ananda Zakhi juga mendapatkan Sanad Al fatihah yang bersambung kepada Rasulullah melalui Syekh Thyazen Al Hakimi Msi, serta ia berhasil lolos dalam seleksi Pemuda Bumi Langit. Apa sih yang menjadi motivasi dan  support system sehingga dia bisa mendapatkan prestasi yang begitu mencengangkan?. 

Semua hasil pasti membutuhkan usaha, nah berikut beberapa tips usaha dari Zakhi. 

1. Motivasi

Hal ini sangat berpengaruh bagi cita dan harapan. Karena bermula dari motivasi yang akan berubah menjadi ambisi dalam diri. Nah biasanya seseorang yang ingin menggapai suatu hal, ia mempunyai motivasi terbesar untuk tidak mundur sebelum mendapatkan hal itu. Tips ini juga adalah faktor terbesar dari Zakhi.

"Mewujudkan impian yang dahulu saya impikan dari sejak kecil, disamping itu juga karena dorongan dari orang tua dan keluarga" ujar Zakhi.

2. Ikhtiar

"Mengurangi makan dan waktu istirahat karena menginginkan  waktu yang lebih bersama Al-Quran, memohon kepada Allah agar di berikan kekuatan dan kesabaran dalam menghafal, meminta doa dari orang tua dan guru, dan memperbanyak shalawat kepada Nabi". Nah itu tips usaha dari Zakhi.

3. Tidak Menyerah

Biasanya menggapai cita bukanlah suatu jalan yang amat mulus. Tetapi banyak perjuangan lika dan likunya. Contohnya saja putus asa dan menyerah, Zakhi juga menuturkan hal yang sama ketika merasa susah dalam murajaah."Saya bersedih dan muhasabah diri, kemudian kembali bermunajat kepada Allah agar diberikan kekuatan dalam keistiqomahan menjaganya." ucapnya.

Ketika hari H, Zakhi merasakan takut tidak lancar, khawatir dan panik. Kemudian ia berusaha untuk tenang dan berdoa kepada Allah SWT. agar dipermudah segala urusannya. Berselang dua hari akhirnya ia menyelesaikan Hafalan Qurannya. Rasanya sangat bahagia, terharu tak percaya sudah menjalankan titik ujung usahanya.


Yang tertarik bergabung menjadi santri Hafizh Quran Indonesia silahkan klik link pendaftaran di bawah yaa.

-- Admin Syahira





Tasmi' Akbar Hafizh Qur'an Indonesia, Pemuda Bumi Langit dan Tahfizh An-Najah

Tasmi' Akbar Hafizh Qur'an Indonesia, Pemuda Bumi Langit dan Tahfizh An-Najah


Momen foto bersama 

bersamaislam.com
- Hafizh Qur'an Indonesia, Pemuda Bumi Langit dan Tahfizh An-Najah adalah sebuah lembaga yang merupakan satu kesatuan dalam bidang Al-Qur'an khususnya mencetak generasi penghafal Qur'an. Dari tahun ke tahun ketiga lembaga ini telah mencetak ratusan penghafal Qur'an dari berbagai daerah. Tak hanya unggul dalam program tahfizh, ketiga lembaga ini juga memberikan fasilitas bisnis yang disebut Entrepreneurship.

Hafizh Qur'an Indonesia menyambut bulan suci Ramadhan dengan mempersembahkan pencapaian santri mutqin dengan digelarnya acara Tasmi' Akbar dengan peserta Ikhwan berjumlah 5 Orang dan 7 Santri Akhwat. Dilaksanakan pada 20-21 Maret 2023 di Masjid Nurul Iman, Bungursari-Bandung.

Berikut Nama-nama Santri Mutqin:
1. Zakhiyuddin (30 Juz)
2. Zhafira Haya Destiani (30 Juz)
3. Zalfa Syauqi Qurani (22 Juz)
4. Muhammad Asyrof (20 Juz)
5. Mulkiyah Awaliyah (20 Juz)
6. Murni Zikra (20 Juz)
7. M. Bugar Tawakal (15 Juz)
8. Awalia Annur Sholikhah (11 Juz)
9. Farid Syahbani Rangkuti (10 Juz)
10. Geldi Irwandi (10 Juz)
11. Awalia Nur (10 Juz)
12. Siti Asa Nur Mawaddah (10 Juz)

Dengan adanya pegelaran Tasmi' Akbar ini dapat mengukur kemampuan santri dan juga menginspirasi santri-santri lainnya untuk tetap mempertahankan hafalan.

Dalam acara pembukaan, HAQIN mengundang guru besar Hafizh Qur'an Indonesia, Ustadz Abu Amar, Al-Hafizh, yang merupakan penasihat agama yang telah memegang beberapa sanad dari beberapa Syaikh, salah satunya sanad kitab At-Tibyan fii adabi hamalatil-qur'an.

Banyak nasihat Qur'an yang disampaikan Ustadz Abu Amar pada pidatonya, beliau menerangkan kisah beratnya siksaan seorang penghafal qur'an yang kemudian ia melupakannya. Sungguh sangat miris seorang penghafal qur'an yang ketika satu surah hilang dari ingatannya namun ia tak bersedih dan tidak berusaha meraihnya lagi. 

Seorang pemuda harus bisa mutqin dengan mendawamkan minimal 6 Juz perhari, baik itu muroja'ah atau sekedar ditilawahkan, ini merupakan teori ulur tarik dimana selama berjalan 40 hari kita mengikhlaskan hafalan yang sudah disetor, dengan izin Allah konsisten 40 hari dapat menarik hafalan dan mengikat kembali dan jangan berhenti sampai mendapati titik dimana kita bisa mutqin, ibarat surah Al-Kahfi yang misal hanya kita baca 4 kali dalam sebulan, hafalan itu masih terikat erat dalam ingatan karena telah sampai titik yang diperlukan pengulangannya. "Nasihat Ustadz Abu-Amar, Al-Hafizh."

Juga turut hadir guru besar Hafizh Qur'an Indonesia, Syaikh Thyazen Al-Hakimi pada selasa, 21 Maret dalam penutupan acara Tasmi' Akbar. Seperti halnya Ustadz Abu, Syaikh juga menyampaikan nasihat qurani bagi para penghafal, beliau menerangkan bahwa Jika seseorang ingin berbicara dengan Allah maka bacalah Al-Qur'an.

Juga menerangkan betapa pentingnya peran Al-Qur'an pada saat di akhirat, seseorang akan melupakan orang-orang terdekatnya sekalipun ibunya saat berada di akhirat saking sibuknya memikirkan dosanya, namun pada saat kita di dunia senantiasa bersama qur'an, maka Al-Qur'an itu sendiri yang akan berdo'a memohonkan ampun dan pertolongan, saat itulah kita sudah mulai memikirkan keluarga, ayah, ibu, kakak, adik dan semuanya. Karena apa? karena dosa kita telah diampuni oleh Allah dan sudah tidak ada beban dalam pikiran sehingga yang diingat adalah keselamatan keluarga.

Pak Hamka, Sosok Inspiratif Untuk Anak Muda

Pak Hamka, Sosok Inspiratif Untuk Anak Muda

                                                                        
Pak Hamka, belajar Al-Qur'an di usia yang tidak muda


bersamaislam.com - Hafizh Qur'an Indonesia merupakan lembaga Tahfizh di Bandung yang  menyediakan berbagai program tahfizh dan tahsin untuk semua kalangan usia. Ada program karantina 30 Juz, program entrepreneurship, program Tam-Q (Taman Qur'an), dan lainnya. Ada yang unik di program Tahsin Hafizh Qur'an Indonesia. Kita dikenalkan oleh sosok Pak Hamka. Pak Hamka merupakan santri dari program Tahsin Mukim di Hafizh Qur'an Indonesia (HAQIN). 

Pak Hamka merupakan santri Hafizh Qur'an Indonesia program tahsin yang memilih untuk bermukim. Beliau menjadi seorang santri tertua di asrama, dengan usianya yang sudah 36 tahun. Meskipun usia beliau sudah tak muda lagi, beliau tetap semangat untuk belajar Al-Qur'an. Mendalami bacaan Al-Qur'an, mempelajari bacaan tajwid, mengenal makhorijul dan sifatul huruf, sampai dapat membaca Al-Qur'an dengan baik.

Perjalanan Pak Hamka menemukan Haqin (Hafizh Qur'an Indonesia) begitu panjang. Sebelumnya, Pak Hamka mencari pondok pesantren Al-Qur'an. Sudah selama 2 bulan, Pak Hamka tidak diterima di beberapa pondok pesantren. Karena faktor usia yang sudah tua, dan tidak memiliki hafalan Al-Qur'an. Namun, hal tersebut tidak membuat Pak Hamka putus asa. Demi untuk belajar Al-Qur'an, beliau terus mencari pesantren Al-Qur'an sampai beliau menemukan HAQIN. Beliau memutuskan untuk belajar Al-Qur'an di HAQIN, Bandung. 

Beliau mencoba mendaftar HAQIN melalui media online. Ada beberapa tahap yang Pak Hamka lalui, terutama tahap wawancara. Pak Hamka tak malu untuk belajar Al-Qur'an. Meski usia beliau sudah tak muda lagi. Dengan penuh perjuangan, Pak Hamka akhirnya diterima untuk menjadi santri program Tahsin di Hafizh Qur'an Indonesia (HAQIN).

Dari sosok yang pantang menyerah tersebut, perlu diketahui bahwa Pak Hamka merupakan sosok yang luar biasa. Ns. Hamka, M.Kep., RN., WOC(ET)N, inilah beliau. Sehari-hari, Pak Hamka berprofesi sebagai pengusaha di bidang kesehatan, perawat spesialis luka stoma dan inkontinensia, seorang trainer dari Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, dan dosen keperawatan dibeberapa kampus di Indonesia. 

Pak Hamka berasal dari Kota Samarinda, Kalimantan Timur. Meskipun jauh dari Kota Bandung, itu membuat beliau tak pantang menyerah. Beliau merasakan bahwa Al-Qur'an merupakan sebenar-benarnya petunjuk sebagai pedoman kehidupan di dunia dan untuk berpulang ke akhirat ditempat yang baik. Pak Hamka memilih untuk menyelamatkan hidupnya dan hidup keluarga. Kini, Pak Hamka dapat membaca Al-Qur'an dengan baik, tartil, mengerti akan ilmu tajwid, dan mampu membedakan harokat, makhraj dan sifat-sifat huruf hijaiyyah. 

Setelah Pak Hamka menyelesaikan program Tahsin di Haqin, beliau pulang ke kampung asalnya, Kota Samarinda. Beliau memiliki tujuan mengajak para tenaga kesehatan agar mampu membaca Al-Qur'an dengan baik. Hari Ahad lalu, tanggal 18 Desember Pak Hamka bekerjasama dengan HAQIN mengadakan program dr. Al-Fatihah untuk para nakes. Program ini dilakukan secara online, yang dibimbing oleh santri & tim HAQIN yang telah memiliki sanad Al-Fatihah. Sampai hari ini, program dr. Al-Fatihah masih berjalan dengan lancar.

Inilah perjalanan Pak Hamka selama belajar Al-Qur'an. Mulai dari ditolak dibeberapa pesantren, sampai beliau menemukan HAQIN. Hingga sekarang Pak Hamka bisa mengajak para nakes untuk belajar Al-Qur'an. Usia yang tak muda & kesibukan yang padat, tak membuat Pak Hamka menyerah untuk belajar Al-Qur'an. Dengan menjadikan Al-Qur'an sebagai petunjuk & pedoman yang nyata, membuatnya istiqomah untuk selalu mempelajari Al-Qur'an didalam kesehariannya.

Ihya' Ulumuddin Maha Karya Imam Al-Ghazali

Ihya' Ulumuddin Maha Karya Imam Al-Ghazali

                   
Kitab Ihya' Ulumuddin karangan Imam Al-Ghazali


bersamaislam.comMenurut sejarah memang sejak zaman Nabi Muhammad hingga khulafaur rasyidin istilah tasawuf tidak pernah disebut tasawuf bahkan belum ada istilah tersebut. Sehingga hal ini menyebabkan banyak dijadikan alas an para pengkritik sufi atau kelompok yang menolak adanya tasawuf , karena istilah itu tidak pernah terdengar selama masa hidup Nabi Muhammad, atau mereka yang hidup setelahnya, atau mereka yang hidup setelahnya, bahkan ada yang berpendapat bahwa istilah ini hanya dibuat-buat saja.

Istilah tasawuf baru digunakan pada pertengahan abad ke-2 H. Orang yang pertama kali menggunakan istilah ini adalah Abu Hasyim Al-kufi dengan cara meletakkan kata ash-shufi di akhir namanya. Walaupun sebenarnya sebelum dirinya telah banyak orang yang ahli dalam hal zuhud, wara’, tawakkal, dan mahabbah.

Tasawuf merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari cara bagaimana orang dapat berada sedekat mungkin dengan Tuhannya. Selain itu, tasawuf dapat menjadikan agama lebih dihayati serta dijadikan sebagai suatu kebutuhan bahkan suatu kenikmatan.

Pembahasan

Ihya Ulumuddin berasal dari kegelisahan seorang ulama Hujjatul Islam yakni al-Imam Abu Hamid al-Ghazali, betapa tidak sebab ilmu agama (ulumuddin) pada waktu itu tidak lebih dari “baju usang” yang telah banyak ditinggalkan oleh orang-orang, kebanyakan dari mereka lebih memilih tergila-gila oleh kecantikan ilmu positif, filsafat dan kalam yang berasal dari luar Islam. Yang pada masa itu oleh para penguasa melakukan import ilmu dari luar islam sehingga lambat laun, tanpa sadar, kepekaan umat terhadap ilmu islam mulai memudar, kepercayaan diri mereka menurun drastis, harga diri mereka telah hilang, dan dibayar mahal dengan gengsi yang tinggi akan ilmu-ilmu yang dibawa dari luar itu dan menganggap bahwa mempelajari ilmu agama yang dibawa oleh Nabi saw merupakan yang “memalukan”, tidak bermanfaat bahkan dianggap menghalang-halangi kemajuan peradaban manusia, karena terlalu jauh dengan kenyataan kehidupan umat manusia sebenarnya.

Pengarang dari kitab ini adalah Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad al-Ghazali. Beliau lahir di di kota Thuss dalam wilayah Khurasan, Iran.[1] Pada tahun 450 H/1058 M. Beliau adalah seorang tokoh pemikir islam yang menyandang gelar “Pembela Islam” (Hujjatul Islam), ”Hiasan Agama” (Zainuddin), “Samudra yang menghanyutkan” (Bahrun Mughriq) dan lain-lain.

Kitab Ihya’ Ulumuddin merupakan salah satu karya fenomenal yang menjadi inti sari dari seluruh karya Imam Al-Ghazali. Secara bahasa Ihya’ Ulumuddin berarti menghidupkan kembali ilmu-ilmu agama. Sebagaimana judulnya kitab ini berisi tentang ilmu-ilmu agama yang akan menuntut umat Islam, tidak berorintasi pada kehidupan dunia belaka, akan tetapi kehidupan akhirat yang lebih utama[2]

Awal mula al-Ghazali menulis kitab ini ketika ia mulai menjadi rektor di Universitas Nizamiyah. Disini beliau dipenuhi pengaruh yang mengarah pada materialis. Tak butuh yang lama pengaruh itu mulai masuk pada dirinya, karena kemudian timbul gejolak pada batinnya, pergolakan dan pertentangan antara “ilmu dan amal”. Gejolak dalam batinnya ini yang membuat dirinya jatuh sakit, hingga para dokter mengatakan tak bisa mengobati sakitnya Selama waktu penyembuhan dirinya dipenuhi keraguan akan perkerjaannya hingga akhirnya keluar pada tahun 488 M dan pergi ke Damaskus. disana dia menghabiskan sekitar dua tahun merenung, membaca dan menulis tentang tasawuf sebagai cara hidup. Maka ia berusaha menyembuhkan penyakitnya dengan kekuatan jiwanya sendiri. Diobatinya penyakit itu dengan melindungkan dirinya kepada Allah, mohon bantuan dan pertolongannya agar disembuhkannya, dan agar penyakit itu lepas dari dirinya. Akhirnya berkat anugrah Allah, sakitnya menjadi sembuh, bahkan ia mendapat ilham dan petunjuk dari-nya.[3]

Selama hampir dua tahun, Al-Ghazali menjadi hamba Allah dan mampu mengendalikan hawa nafsunya. Dia menghabiskan waktunya untuk berdoa, beribadah, dan ittikaf di sebuah masjid di Damaskus. Setelah terus berdzikir sepanjang waktu dan terus bertaqarrub kepada Allah. Kemudian Al-Ghazali pindah ke Baitul maqdis, disana dirinya selalu merenung, membaca dan menulis karya, puncaknya adalah kitab “Ihya’ Ulumuddin”. Selanjutnya, kitab itu disusun pada waktu ketika umat Islam sedang teledor terhadap ilmu agama, yaitu setelah Al-Ghazali kembali dari rasa keragu-raguan dengan tujuan utama untuk menghidupkan kembali ilmu agama. Hal ini karena Ketika itu, umat islam acuh terhadap ilmu-ilmu Islam dan mereka lebih asyik dengan filsafat barat. Oleh karena itu, Al-Ghazali tergerak untuk membersihkan hati umat dari kesesatan.

Kitab Ihya Ulumudin (احياة العلوم الدين) berisi tentang aturan dan prinsip dalam penyucian jiwa: seruan kesucian jiwa dalam agama, sifat takwa, konsep zuhud, cinta sejati, menjaga hati dan jiwa, Selalu menanamkan keikhlasan dalam beragama. Isi lain dari buku ini antara lain perlunya mencari ilmu, pentingnya ilmu, bahayanya tidak memiliki ilmu, penjagaan thaharah dan Salat, Al-Qur'an, Dzikir, penanganan shalat, penerapan moralitas agama, dll. menangani masalah dasar dari Umat ​​Islam dalam berbagai aspek kehidupan, hakikat persaudaraan, tuntunan untuk meningkatkan akhlak, cara-cara mengendalikan hawa nafsu, bahaya lisan, pencegahan iri hati dan emosi, zuhud, pendidikan syukur dan kesabaran, Penghindaran Kesombongan, Dorongan untuk Selalu Bertaubat Pentingnya Kedudukan Tauhid, Pentingnya Niat dan Kejujuran, Konsep Kedekatan dengan Allah (Muraqaba), Perenungan, Mengingat Kematian dan Rahmat Allah, Mencintai Rasulullah.

Pembahasannya dibagi menjadi empat bab dan masing-masing dibagi lagi menjadi 10 pasal.[4] Yaitu: pada bab pertama: tentang Ibadah (rubu’ al – ibadah). Bab kedua: tentang adat istiadat (rubu’ al – adat). Bab ketiga: tentang hal -hal yang mencelakakan (rubu’ al – muhlikat). Sedangkan bab yang keempat: tentang maqamat dan ahwal (rubu’ al – munjiyat). Namun yang menjadi isi pokok pada kitab tersebut adalah ikhlas dengan tauhid Allah dan Ikhlas menjalankan tauhid Allah. Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan peradaban manusia, tasawuf kemudian menjadi salah satu cabang ilmu Islam yang menekankan dimensi atau aspek spiritual dari Islam.[5]

·   Rubu ibadat merupakan pembahasan mengenai pengantar mengenai ilmu secara sistematis dan sederhana, ilmu Tauhid secara mendalam, dan rahasia-rahasia ibadah lengkap dengan sudut pandang fiqih.

·       Rubu al-Adat, membicarakan mengenai adab-adab sehari-hari sampai kepada adab kenabian.

·       Rubu al-Muhlikat mulai menyentuh sisi spritual dengan membahas keajaiban hati, metode riyadhah (latihan spritual), serta pengkajian terhadap penyakit-penyakit spritual sesuai dengan al-Qur’an.

·       Rub’ul Munjiyat membicarakan maqamat dan aḥwal para sufi sesuai dengan keterangan-keterangan yang bersifat syari dan aqli.

     Adapun motivasi al-Ghazali menulis kitab Iḥya sedemikian sistematis karena dua hal, seperti yang dikatakan oleh dirinya sendiri. Pertama, sistematika dan kajian semacam itu adalah sesuatu yang dharuri (penting). Sebab ada dua jenis ilmu yang dapat mengantarkan kepada ilmu tentang akhirat yaitu muamalah dan mukasyafah.

      Motivasi kedua, keinginan al-Ghazali untuk menyembuhkan “penyakit hati” dan mengajarkan ilmu fiqih kepada fuqoha’. Ini karena kebanyakan dari mereka cenderung memiliki keinginan duniawi seperti pamer dan mencari ketenaran. Dengan sistem di atas, khususnya pada rubu al-Ibadah sangat mempengaruhi dunia fiqh, lambat laun mereka dapat menyerap ajaran-ajaran spiritual.

      Meskipun kitab ini merupak inti sari seluruh karya Imam Al-Ghazali kitab ini tidak lepas dari kritik para kelompok anti tasawuf menurut mereka Al-Ghazali enggan menggunakan hadits ahad dalam menetapkan akidah.  Menurutnya, masalah aqidah harus didasarkan pada keyakinan dan bukan dugaan dan, sesuatu yang dhanni tidak boleh diamalkan dan dijadikan hukum. Kajian Muhammad al-Ghazali terhadap Hadits Nabi menitikberatkan pada kritik terhadap matan, dalam memaknai hadist[6]

       

      Ditulis oleh : Muhammad Bahtiar Harsaputra


[1] Afzainizam, M. (2018). "Menyoal Otentitas Hadis dalam Kitab Ihya Ulumuddin.". Institutional Repository UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

[2] In'amul, H., & Ahmad, A. R. (2020). Polarisasi Sufistik Dan Hadis Pada Popularitas Ihya’ ‘Ulumuddin Di Nusantara. Riwayah : Jurnal Studi Hadis.

[3] Dr. Ngainun Na'im, M. A. (2016). the Perspective of Learning Al-Ghazali. UIN Satu Tulungagung Institutional Repository.

[4] AL-GHAZALI, P. I., & IHYA’ULUMIDDIN, D. K. A. Riwayat Hidup Imam Al-Ghazali 1. Biografi Imam Al-Ghazali.

[5] Hadi, A. (2016). AJARAN TASAWUF Al GAZALI DALAM INTETEKTUALITAS. PROSIDING HASIL PENELITIAN DOSEN UNISKA TAHUN.

         [6] Basid, A. (2017). Kritik Terhadap Metode Muhammad Al-Ghazali dalam Memahami Hadits Nabi Muhammad Saw. KABILAH: Journal of Social Community 2.1.


Jangan Remehkan! Hal Ini Sangat Berharga

Jangan Remehkan! Hal Ini Sangat Berharga



bersamaislam.com - Sebuah ungkapan yang sangat familiar “sedikit-sedikit, nanti jadi bukit.” Hal ini bukan hanya sekedar ungkapan belaka yang terucap dari mulut pepatah ke pepatah lainnya. Pernahkah kita berpikir bahwa tidak selamanya hal-hal besar datang dari hal besar lagi? Tidak, hal-hal besar berproses dari hal-hal kecil. Tentunya hal tersebut sangat bisa dan bahkan sejak lama sudah teraplikasikan dalam hidup, hanya saja kita sering lupa.

Terkadang kita sebagai manusia sering lupa dan menyepelekan hal-hal kecil, padahal banyak sekali hal-hal kecil tersebut yang bernilai bahkan jika sering melakukan akan terkumpul dan terakumulasi menjadi besar. Sesederhana membuang sampah yang ada di depan kita, mungkin itu hanya sekedar memindahkan sampah ke tempatnya, tapi dibalik itu kebaikan sudah kita lakukan. Dan sunngguh seserhana itu kebaikan.

Allah SWT. berfirman dalam Qs. Al-Zalzalah ayat 7-8 “Maka barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, nisacaya dia akan melihat balasannya, dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah niscaya dia akan melihat balasannya.” Janji Allah tidak ada yang pernah ingkar, maka dari itu saatnya berhenti memiliki pemikiran akan kebaikan yang dianggap kecil. Karena Allah SWT. dalam ayat tersebut berjanji akan membalas sekecil apapun kebaikan yang kita lakukan dan akan membalas sekecil apapun dosa.

Jika kita masih membatasi melakukan kebaikan hanya melihat kuantitasnya saja, maka kita tidak yakin akan segala balasan yang Allah janjikan dalam Al-Qur’an. Lakukanlah kebaikan sekecil apapun itu, dan ingat jangan sampai memiliki niat setengah-setengah dalam melakukan hal itu, niatkan dengan rasa kemampuan yang dimiliki dan dengan totalitas serta ketaatan kepada perintahnya, maka nilai dari kecilnya kebaikan itu akan tetap bermakna.

Pada intinya Allah tidak membeda-bedakan mana kebaikan yang kecil dan mana kebaikan yang besar, semua akan Allah balas atas dasar niat kita ketika melakukan amalan tersebut. Tentang bagaimana kita ikhlas, kita ridha dalam melakukan amalan itu niscaya tidak ada kemustahilan Allah akan membalasnya dengan yang setimpal. Karena semua berawal dari hal-hal yang kecil dan dilakukan secara berkelanjutan, maka akan menjadi ladang pahala yang begitu luas.

Wallahu ‘alam bishawab.

Orang Paling Cerdas Menurut Rasulullah

Orang Paling Cerdas Menurut Rasulullah

bersamaislam.comSeperti yang sudah kita tahu bahwa hidup di dunia ini tidak akan lama bahkan tidak akan selamanya. Tidak ada yang tahu kapan waktu tersebut berakhir dan hanya Allah SWT. yang tahu akan hal tersebut. Kemarin, hari ini, dan esok hari kita masih diikuti dengan kapan kematian akan terjadi kepada diri kita, karena kehidupan yang kekal abadi hanyalah akhirat. Semua amalan yang kita lakukan ketika di dunia akan dievaluasi kelak saat kehidupan dunia telah berakhir yaitu di akhirat. Hidup di dunia ini hanya tempat persinggahan semata, dan persinggahan ini tidak hanya sekedar duduk manis menikmati segala hal yang ada di dunia akan tetapi harus dimanfaatkan dengan persiapan bekal kelak di akhirat nanti berupa amal shaleh yang diajarkan oleh Rasulullah SAW.

Dalam sebuah hadits dikatakan bahwa “Siapakah orang mukmin yang paling cerdas? Seorang sahabat bertanya. Rasulullah menjawab: “Yang paling mengingat mati, kemudian yang paling baik adalah mempersiapkan kematian tersebut. Itulah orang yang paling cerdas.” (HR. Ibnu Majah & Atthabrani). Berdasarkan hadits tersebut Rasulullah mengatakan bahwa orang yang paling cerdas adalah mereka yang mempersiapakan kematiannya kelak, mereka yang masuk ke dalam golongan ini tidak akan sedikitpun menyia-nyiakan waktunya terhadap hal-hal yang tidak bermanfaat. Karena mereka memiliki keyakianan bahwa hidup di dunia ini singkat atau tidak akan lama. Dapat dirasakan oleh kita sendiri pergantian dari jam ke jam, hari ke hari, minggu ke minggu, bulan ke bulan, bahkan tahun ke tahun sungguh tidak terasa lamanya.

Allah SWT. berfirman dalam Qur’an surat Al-Mukminun ayat 112 sampai 114,

“Berapa tahunkah kamu tinggal di bumi? Mereka menjawab, “Kami tinggal di bumi sehari atau setengah hari” maka tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung. Allah berfirman, kamu tidak tinggal di bumi melainkan sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahui.”

Ingatlah, bahwasanya hidup di dunia ini sangat terbatas. Mau tidak mau atau bisa tidak bisa kita harus memaksimalkannya. Ibarat menyelam kita terbatas akan oksigen, tetapi kita harus menemukan spot-spot yang bagus di dalam laut tersebut sebagai tujuan kita menyelam. Hidup di dunia pun demikian, kita harus memiliki tujuan dan menyiapkan segala bentuk perbekalan dengan waktu yang terbatas ini.

Wallahu 'alam bishawab


Ternyata Ini Salah Satu Cara Do'a Cepat Terkabul

Ternyata Ini Salah Satu Cara Do'a Cepat Terkabul


Berdo'a
bersamaislam.comBerdo’a merupakan salah satu kebutuhan primer semua orang yang hidup di dunia terhadap Tuhannya. Bahkan setiap waktu tidak luput dengan sebuah do’a. Do’a dilaksanakan bukan tanpa alasan, ada beberapa alasan setiap orang melakukan do’a disamping menjadi sebuah kewajiban seorang muslim yang taat terhadap perintah-Nya pada Qur’an surah Ghafir ayat 60. Dalam ayat tersebut Allah SWT. menjanjikan kepada siapa saja hambanya yang berdo’a niscaya Allah akan kabulkan. Tujuan utama dari berdo’a dalam konsep Islam itu sendiri adalah sebuah permintaan yang ditunjukan kepada Allah SWT, sebagai dzat yang maha tinggi dan maha segalanya.

Di dalam kitab Al Hikam karya Ibn Atha’illah yang pernah ditelaah dan menjadi buku oleh Jasser Auda dengan judul Spiritual Journey (28 Langkah Meraih Cinta Allah), terdapat sebuah penjelasan tentang do’a sebagaimana dalam bukunya,

مَا طَلَبَ لَكَ شَيْءٌ مِثْلٌ الإِضْطِرَارِ، وَلَا اَسْرَعَ بِالْمَوَاهِبِ إِلَيْكَ مِثْلُ الذِّلَّةِ والافْتِقَارِ

Cara terbaik untuk meminta kepada Allah adalah melalui ekspresi penderitaanmu. Dan cara paling cepat untuk mendapatkan anugerah-anugerah ketuhanan adalah melalui ekspresi rendah hati dan rasa butuh kepada-Nya.

Begitulah kalimat Ibn Atha’illah dalam kitabnya Al Hikam. Di dalam kalimat tersebut lebih ditekankan bagaimana ekspresi hati kita ketika akan berdo’a, bukan terkait tatacara kita berdo’a. Seperti sama halnya dalam firman Allah dalam Qur’an surah An-Naml ayat 62 yang menjelaskan kepada kaum musyrikin bahwa ketika mereka dalam keadaan bahaya menderita dan dengan ikhlas memohon kepada Allah atas pertolongan-Nya, maka Allah akan mengabulkan do’a mereka. Kita dapat memahamio bahwa kaum musyrik saja ketika menderita dan memohon pertolongan dengan penuh rasa ikhlas, lantas bagaimana seorang mukmin meminta pertolongan kepada Allah maka akan sangat wajar Allah mengabulkan permintaan tersebut.

Do’a orang menderita akan lebih cepat dijawab oleh Allah, apalagi semisal ketika kita meminta bantuan terhadap manusia dan tidak ada satupun yang bisa membantu maka percayalah dibalik penderitaan yang dialami serta do’a dan harapan yang ikhlas yakinlah bahwa Allah akan mengabulkan do’a kita. Tidak hanya tentang materi, berdo’a atau meminta kepada Allah bisa dalam hal keimanan. Cara terbaik untuk memohon hal tersebut agar dibimbing atas keimanan adalah dengan melalui keadaan menderita, merasa butuh, rendah hati, dan berharap kepada rahmat-Nya. Hal ini banyak dilakuakan oleh Rasulullah SAW. dengan sangat baik dalam situasi-situasi yang berbeda.

Wallahu ‘alam bishawab.




Esensialitas Ikhlas dalam Perjalanan Hidup

Esensialitas Ikhlas dalam Perjalanan Hidup

Ikhlas dalam beramal

bersamaislam.comIkhlas kepada Allah SWT. lebih penting daripada tawakal kepada Allah SWT., karena ikhlas berkaitan dengan tingkat keimanan kepada Allah SWT. yang lebih dalam. Akan tetapi, tanpa adanya tawakal dan meyerahkan kembali serta memperkukuhkannya kepada Allah terhadap rahmat-Nya, keikhlasan yang murni akan dapat dicapai. Sebaliknya jika kita tidak tawakal maka ikhlas akan rumit dan sulit untuk diraih. Sebagaimana sabda Nabi SAW.

Keikhlasan adalah salah satu di antara rahasia-rahasia Allah yang Dia tanamkan dalam hati siapa pun yang Dia Cintai.

Di dalam buku Spiritual Journey (28 Langkah Meraih Cinta Allah) karya Jasser Auda sebagai telaah dari kitab Al-Hikam karya Ibn Atha’illah terdapat sebuah pernyataan tentang ikhlas,

اَلْاَعْمَالُ صُوْرٌ قَائِمَةٌ، وَاَرْوَحُمَا وُجُوْدُ سَرِّ الاِخْلاَصِ فِيْهَا

Amal-amal itu bagaikan tampilan-tampilan fisik semata yang hanya dapat hidup dengan adanya spirit keihlasan.

Dalam pernyataan Ibn Atha’illah tersebut, Beliau mengkiaskan antara perbuatan dan tubuh manusia. Maka perbuatan yang hampa dari keikhlasan itu seperti tubuh tanpa jiwa, yaitu seperti layaknya tubuh yang mati. Hal ini Beliau gambarkan betapa esensialmya ikhlas dalam menjalani kehidupan.

Kita pasti cukup familiar dengan salah satu hadits yang populer "Sesungguhnya amal-amal itu tergantung niat," hal ini berlaku pula dalam hal ikhlas. Memiliki niat yang ikhlas sangat penting tanpa niatan yang bersih ini, ibadah hanyalah sebuah pertunjukan yang dilihat dan dinikmati oleh orang-orang saja, tidak mecapai derajat mencari ridha Allah SWT. Esensialitas ikhlas dalam berbagai aspek kehidupan dapat dibuktikan dengan hal-hal sederhana tapi begitu penting, seperti ibadah tadi. Segala sesuatu yang kita niatkan bukan ikhlas karena Allah dan memiliki tujuan lain karena ingin dilihat orang-orang itu merupakan sebuah kemunafikan, seperti yang terdapat dalam Qur’an surah An-Nisa ayat 142.

Selain dalam hal ibidah, dengan keikhlasan kita bisa mengubah kebiasaan-kebiasaan sehari-hari menjadi halnya amalan ibadah yang tentunya berpahala. Makan, minum, kerja, menikah, berpergian, jual beli, dan perbuatan-perbuatan lain dengan syarat diridhai oleh Allah SWT. Kita harus bertanya kepada diri sendiri mengapa kita melakukan ini, memberikan sedekah ini, pergi haji dan umrah, membantu orang ini, dan hal-hal lainnya.

Pada intinya esesialitas ikhlas dalam hidup sangat memberikan peran dalam perjalanan hidup. Mari kita selalu berdo’a kepada Allah SWT. agar senantiasa menganugrahkan kita beruapa keikhlasan yang tulus dan murni. Membantu kita untuk mengubah kebiasaan-kebiasaan menjadi ladang amal shaleh yang penuh dengan keikhlasan dan mengabdikan hidup hanya mencari ridha dan pengabdian untuk Allah SWT. semata.

Wallahu ‘alam bishawab


Keutamaan Bulan Ramadhan

Keutamaan Bulan Ramadhan

Dahsyatnya bulan Ramadhan

bersamaislam.com - Ya, karena bulan Ramadhan adalah bulan yang dimuliakan oleh Allah. Dan bulan yang pastinya dinantikan oleh seluruh umat muslim di seluruh penjuru dunia ini. Khususnya di Indonesia, yang merupakan negara muslim terbesar di dunia. Meski saat ini dunia sedang digoncangkan dengan hiruk piruk kasus pandemi Virus Corona (COVID-19). Namun, hal itu tidak akan mengubah nikmatnya bulan Ramadhan walau diselimuti dengan wabah yang tak pernah kita sangka-sangka akan hadir sebelumnya.

Selain sebagai bulan yang disucikan oleh Allah. Bulan ramadhan juga mempunyai banyak keutamaan, diantaranya:

1) Bulan diturunkannya Al-Qur'an

Ya, seperti yang kita ketahui bahwa di bulan Ramadhan adalah waktu dimana diturunkannya ayat-ayat suci Al-Qur'an dari Allah yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad Saw secara mutawatir (ketersambungan sanad sampai Rasulllah).

Diturunkannya Al-Qur'an di bulan Ramadhan ini merupakan bukti nyata akan kemuliaan bulan Ramadhan. Seperti yang tersiratkan di dalam surat Al-Baqarah:185.

"Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang didalamnya diturunkan Al-Qur'an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan petunjuk tersebut dan pembeda (antara yang benar dan yang batil).”

2) Bulan Penuh Dengan Keberkahan

Hal ini seperti yang tersirat pada hadits berikut

"Sungguh telah datang kepada kalian bulan yang penuh berkah. Pada bulan ini diwajibkan puasa kepada kalian..." (HR. Ahmad, An-Nasal dan Al-Baihaqi)

3) Bulan Penuh Pengampunan

Nabi Muhammad Saw bersabda: "Shalat lima waktu, jum'at ke jum'at, Ramadhan ke Ramadhan menghapuskan dosa-dosa diantara masa-masa itu selama dosa-dosa besar dijauhi." (HR. Muslim)

Selain itu, dengan berpuasa di bulan Ramadhan mampu menghapuskan dosa kita yang telah lalu. Sebagaimana dalam sabda Nabi Muhammad Saw

"Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan karena penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah SWT, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

4) Dilipatgandakan Pahala Pada Bulan Ramadhan

Dalam riwayat disebutkan, Ibnu Rajab rahimahullah berkata, Abu Bakar bin Abi Maryam mengatakan bahwa banyak guru-gurunya yang berkata,

"Apabila telah tiba bulan Ramadhan, maka perbanyaklah berinfaq, karena infaq di bulan Ramadhan dilipat gandakan bagaikan infaq di jalan Allah, dan tasbih di bulan Ramadhan lebih utama daripada tasbih di bulan yang lain."

6) Adanya Malam Lailatur Qadar

Keutamaan bulan Ramadhan lainnya adalah dengan hadirnya malam penuh kemuliaan dan keberkahan di salah satu malam pada malam-malam terakhir dan ganjil di bulan Ramadan, yaitu malam Lailatul Qadar.

Di bulan Ramadhan terdapat suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan, yaitu Lailatul Qadar (malam kemuliaan). Pada malam inilah yaitu sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan, adalah saat diturunkannya Al-Qur'anul Karim. Banyak umat muslim yang mengharapkan agar mendapatkan malam itu dengan berbagai cara, mulai dari tadarus di masjid, shalat malam dan juga i' tikaf di masjid.

7) Mustajabahnya Doa Di Bulan Ramadhan

Keutamaan bulan Ramadhan selanjutnya adalah doa yang dipanjatkan pada saat bulan Ramadhan lebih mustajabah. Hal ini sesuai hadits Rasulullah Saw:

"Sesungguhnya Allah membebaskan beberapa orang dari api neraka pada setiap hari di bulan Ramadhan, dan setiap muslim apabila dia memanjatkan doa maka pasti dikabulkan." (HR. Al-Bazaar, dari Jabir bin Abdillah. Al-Haitsami dalam Majma Az Zawaid mengatakan bahwa perawi hadis ini tsiqah (terpercaya).

Masyaallah, itulah beberapa keutamaan dari banyaknya kedahsyatan dan juga kemulian di bulan ramadhan. Semoga kita bisa mengaplikasikannya dikehidupan keseharian kita, agar kita dapat menggapai kemulian bulan ramadhan dari awal hingga akhir, dimana puncak penantian para umat muslim yakni Hari Raya Idul Fitri.

Arrahma Ramadhyna Dennyka, Al-Hafizhah

*sumber: http://www.haqin.id/2020/05/kedahsyatan-bulan-ramadhan.html


Empat Kejadian Penting Yang Terjadi di Bulan Sya'ban

Empat Kejadian Penting Yang Terjadi di Bulan Sya'ban

Ilustrasi

bersamaislam.com - Bulan Sya'ban adalah bulan ke 8 dari bulan Islam. Ada beberapa peristiwa yang telah terjadi di bulan Sya'ban, yang telah penulis rangkum dari berbagai kitab. Diantara peristiwa tersebut, yaitu:

1. PERPINDAHAN ARAH KIBLAT

Perpindahan arah kiblat dari Baitul Maqdis ke Ka'bah. Sebagaimana yang telah kita pahami dalam surat Al-Baqarah ayat 144:

قَدْ نَرَىٰ تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ ۖ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا ۚ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ۚ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ ۗ

"Sungguh Kami (sering) melihat wajahmu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah wajahmu ke arahnya. Palingkanlah wajahmu (menghadap Ka'bah ketika Shalat)."

Abu Hatim Al Busty berpendapat bahwa Baitul Maqdis dijadikan arah kiblat kaum muslimin selama 17 bulan 3 hari. Peristiwa perpindahan kiblat ini terjadi pada bulan Sya'ban hari ke-15 bertepatan pada hari Selasa.

2. DIANGKATNYA AMAL

Diantara kelebihan bulan Sya'ban yang masyhur yaitu diangkatnya amal pada pertengahan Sya'ban atau terkenal dengan sebutan Nisfu Sya'ban (نصف الشعبان)

Mengenai hal ini ada sedikit dialog antara Rasulullah Saw dan Usamah bin Zaid.

Suatu hari, Usamah bin Zaid seorang pemuda cerdas, pernah terheran-heran dengan suatu amalan yang dilakukan Rasulullah Saw di bulan Syaban. Usamah dengan menata mentalnya memberanikan diri menyampaikan kepada Nabi.

- قلتُ يا رسولَ الله لم أرَك تصومُ من شهرٍ من الشُّهورِ ما تصومُ شعبانَ قال ذاك شهرٌ يغفَلُ النَّاسُ عنه بين رجبَ ورمضانَ وهو شهرٌ تُرفعُ فيه الأعمالُ إلى ربِّ العالمين وأُحِبُّ أن يُرفعَ عملي وأنا صائمٌ

“Ya Rasulallah, aku belum pernah melihat Engkau berpuasa di bulan lain lebih banyak dari puasamu di bulan Sya’ban”.

Rasulullah Saw kemudian menjawab rasa penasaran Usamah tersebut dengan jawaban, “Bulan itu sering dilupakan orang karena diapit oleh bulan Rajab dan Ramadhan, padahal dalam bulan itu, amal-amal manusia selama satu tahun diangkat dan dilaporkan kepada Tuhan. Karena-Nya, aku ingin agar sewaktu amalanku dibawa naik, aku sedang berpuasa”.

3. PUASA

Banyak sekali hadits yang menerangkan bahwa Rasulullah Saw sering berpuasa pada bulan Sya'ban, termasuk hadits yang di riwayatkan oleh Usamah dalam dialognya bersama Rasulullah Saw.

وما رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم استكمل صيام شهر قط إلا رمضان، وما رأيته أكثر صياما منه في شعبان

“Aku tidak melihat Rasulullah Saw puasa sebulan penuh kecuali pada bulan Ramadhan dan aku tidak melihat beliau banyak puasa kecuali pada bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari)

Sayyid Muhammad bin Alwi bin Abbas Al-Maliki dalam Maa za fi Sya’ban mengutip sebuah riwayat dari Sayyidina Ali terkait keutaman malam Nisfu Sya’ban dan anjuran puasa di siang harinya, Rasulullah Saw bersabda:

إذا كانت ليلة النصف من شعبان فقوموا ليلها وصوموا يومها

Artinya:
“Apabila datang malam Nisfu Syaban, beribadahlah di malam harinya dan puasalah di siang harinya” (HR. Ibnu Majah).

4. TURUNNYA AYAT UNTUK BERSHALAWAT DAN SALAM KEPADA NABI

Diantara kelebihan bulan Sya'ban ialah turunnya ayat untuk bershalawat kepada Nabi.

إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰئِكَتَهُۥ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِىِّ ۚ يَٰأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ صَلُّوا۟ عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا۟ تَسْلِيمًا

"Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikatNya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepada-Nya."

Ayat ini turun pada pertengahan bulan Sya'ban (Nisfu Sya'ban). Sesuai dengan pendapat Imam Syihabuddin dan Ibnu Abi Shaif Al-Yamany.

Di beberapa daerah khususnya Indonesia ada dari kalangan masyarakat kita yang melakukan zikir atau membaca QS. Yasin setelah shalat maghrib.

Biasanya dibaca 3x :
1. Memohon kepada Allah Swt supaya diberikan umur yang panjang dan keberkahan untuk menjalani taat.
2. Memohon kepada Allah Swt supaya diberikan rezeki yang luas, melimpah dan berkah untuk beribadah kepada-Nya.
3. Memohon kepada Allah Swt supaya diwafatkan dalam keadaan husnulkhatimah (membawa Islam dan iman).

Catatan sangat penting.
Mengamalkan hadits Dhaif (lemah), boleh saja. Kecuali dalam hukum halal haram. Sesuai dengan pendapat pakar hadits. Diantaranya Imam Nawawi, Imam Ahmad bin Hambal, Imam Ramli dan Ibnu Mubarak, serta para pakar hadits yang lainnya.

Referensi
1. Tafsir Jalalain
2. Al Jami' Li Ahkamil Qur'an
3. Tuhfah Al Ikhwan fi Qiroatil Qur'an fi Rajaba wa Sya'ban wa Ramadhan
4. Ma za fi Sya'ban
5. Kanz Najah wa as Surur fi Ad'iyah

Penulis : Bahrul Ulum Risno, Al-Hafizh

Sumber: http://www.haqin.id/2020/04/peristiwa-di-bulan-syaban.html

Mencegah Corona Virus Cara Islam

Mencegah Corona Virus Cara Islam

Ilustrasi

bersamaislam.com - Akhir-akhir ini Corona virus menjadi topik utama di media pemberitaan.
Adanya wabah yang kita kenal dengan sebutan Covid-19 atau Corona, yang diduga dari negara China, (di daerah Wuhan).

Tak luput dari serangan Covid-19 ini negara lain seperti Iran, Korea Selatan, Italia, Jerman bahkan Indonesia juga terjangkit virus tersebut.

Sampai saat ini (Kamis, 26 Maret 2020) virus tersebut masih kita dengar menyebar ke berbagai daerah bahkan lintas negara.

Harapan Kita, semoga semua ini cepat hilang di Indonesia ataupun di negara-negara lain.
Allahumma aamiin.

Lantas bagaimana seorang muslim mencegah adanya wabah atau Covid-19 ini?

Ada baiknya, kita bercermin pada ribuan tahun yang lalu, baik masa Nabi ataupun pada masa sahabat.

Ada beberapa langkah yang penulis cantumkan sebagai bentuk sumbangsih pemikiran dan sedikit pemahaman.


1. MENGHINDARI

Pada zaman sayyina Umar bin Khattab ketika beliau bersama para sahabat melakukan perjalanan dari Madinah menuju Syam, mereka berhenti ketika sampai di perbatasan Syam.

Sebelum memasukinya, karena mendengar ada wabah Tha'un yang melanda negeri tersebut.
Sempat terjadi dialog diantara mereka.

Apakah mereka melanjutkan perjalanan memasuki Syam atau pulang ke Madinah?

Abu Ubaidah menginginkan mereka masuk dan berkata, mengapa kalian menghindar dari takdir Allah?

Sayyidina Umar bin Khattab lantas berkata, jika kamu punya kambing dan dua lahan yang subur dan kering, kemana akan kau arahkan kambingmu? Dan jika lahan subur itu juga takdir Allah.

Sayyidina Umar bin Khattab mempertegas perkataannya, sesungguhnya dengan kita pulang ke Madinah hanya berpindah dari takdir Allah ke takdir yang lain.

Akhirnya dialog itupun berakhir ketika Abdurrahman bin Auf membacakan hadits

إِذَا سَمِعْتُمْ بِهِ [يعني : الطاعون] بِأَرْضٍ فَلَا تَقْدَمُوا عَلَيْهِ ، وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلَا تَخْرُجُوا فِرَارًا مِنْه
(روى البخاري ومسلم)

Jika kalian mendengar wabah melanda suatu negeri. Maka, jangan kalian memasukinya. Dan jika kalian berada didaerah itu janganlah kalian keluar untuk lari darinya.
(HR. Bukhari & Muslim).

2. SOCIAL DISTANCING

Sebagaimana yang kita ketahui, Covid-19 atau virus Corona ini sangat cepat menyebar. Oleh sebab itu kita harus menghindari keramaian atau kita kenal dengan istilah Social dastancing, hal semacam ini pernah di lakukan oleh Amr bin Ash. Beliau mengintruksikan untuk Social dastancing atau menjaga jarak. Sebagaimana perkataan beliau.

Wahai sekalian manusia, penyakit ini menyebar layaknya kobaran api. Jaga jaraklah dan berpencarlah kalian dengan menempatkan diri di gunung-gunung.

Inilah salah satu cara untuk mencegah menyebarnya Corona virus.
Mungkin kita tidaklah naik ke puncak gunung yang ada di negeri kita, dan kita memilih diam, santai akan tetapi tetap mengerjakan hal-hal positif di rumah.

3. ISOLASI  DAN LOCKDOWN

Lockdown atau Isolasi hendaknya di lakukan di setiap daerah yang terjangkit virus Covid-19 atau virus Corona.

Mengisolasi daerah yang terkena wabah Covid-19 hal ini kita pahami dari hadits Nabi.

إِذَا سَمِعْتُمْ بِهِ [يعني : الطاعون] بِأَرْضٍ فَلَا تَقْدَمُوا عَلَيْهِ ، وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلَا تَخْرُجُوا فِرَارًا مِنْه
(روى البخاري ومسلم)

Jika kalian mendengar wabah melanda suatu negeri. Maka, jangan kalian memasukinya. Dan jika kalian berada didaerah itu janganlah kalian keluar untuk lari darinya.
(HR. Bukhari & Muslim).

4. TIDAK BERBAUR DENGAN ODP DAN PDP

Hal ini kita lakukan bagian dari ikhtiar untuk mencegah supaya tidak terjadi penularan.
Sebagaimana yang kita pahami dari hadits Nabi

قَالَ أَبُو سَلَمَةَ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تُورِدُوا الْمُمْرِضَ عَلَى الْمُصِحِّ

"Abu Salamah bin Abdurrahman berkata; saya mendengar Abu Hurairah dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam beliau bersabda: "Janganlah kalian mencampurkan antara yang sakit dengan yang sehat" (HR. al-Bukhari)

Hendaknya saling menjaga jarak, yang sakit jangan berkumpul dengan yang sehat dan yang sehat pun jangan sekali-kali berbaur dengan yang menderita Covid-19.

5. HIDUP SEHAT

Menjaga higienitas makanan. Memastikan makanan, minuman dan apapun yang kita gunakan selalu dalam kondisi higienis adalah langkah antisipasi yang penting untuk menangkal penyakit atau wabah.

Ini adalah langkah yang hendaknya dilakukan sebagai Muslim setiap harinya. Rasulullah menginstruksikan:

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ غَطُّوا الْإِنَاءَ وَأَوْكُوا السِّقَاءَ فَإِنَّ فِي السَّنَةِ لَيْلَةً يَنْزِلُ فِيهَا وَبَاءٌ لَا يَمُرُّ بِإِنَاءٍ لَيْسَ عَلَيْهِ غِطَاءٌ أَوْ سِقَاءٍ لَيْسَ
عَلَيْهِ وِكَاءٌ إِلَّا نَزَلَ فِيهِ مِنْ ذَلِكَ الْوَبَاءِ

"Dari Jabir bin 'Abdullah ia berkata; Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tutuplah wadah-wadah, dan ikatlah tempat-tempat minuman, karena di suatu malam pada setiap tahunnya akan ada wabah penyakit (berbahaya) yang akan jatuh ke dalam wadah dan ke tempat-tempat air yang tidak tertutup" (HR. Muslim).

6. MENJAGA WUDHU
   
Selain menyegarkan dan membersihkan anggota-anggota bagian yang rentan kita sentuh, wudhu juga bagian dari aktivitas atau ibadah sehari-hari seorang muslim.

Dosa-dosa kecil pun akan berguguran ketika kita berwudhu. Sebagaimana yang kita pahami dari hadits Nabi.

 إِذَا تَوَضَّأَ الْعَبْدُ الْمُسْلِمُ أَوْ الْمُؤْمِنُ فَغَسَلَ وَجْهَهُ خَرَجَ مِنْ وَجْهِهِ كُلُّ خَطِيئَةٍ نَظَرَ إِلَيْهَا بِعَيْنَيْهِ مَعَ الْمَاءِ أَوْ مَعَ آخِرِ قَطْرِ الْمَاءِ فَإِذَا غَسَلَ يَدَيْهِ خَرَجَ مِنْ يَدَيْهِ كُلُّ خَطِيئَةٍ كَانَ بَطَشَتْهَا يَدَاهُ مَعَ الْمَاءِ أَوْ مَعَ آخِرِ قَطْرِ الْمَاءِ فَإِذَا غَسَلَ رِجْلَيْهِ خَرَجَتْ كُلُّ خَطِيئَةٍ مَشَتْهَا رِجْلَاهُ مَعَ الْمَاءِ أَوْ مَعَ آخِرِ قَطْرِ الْمَاءِ حَتَّى
يَخْرُجَ نَقِيًّا مِنْ الذُّنُوبِ

Jika seorang hamba muslim atau mukmin berwudhu kemudian ia mencuci wajahnya, keluarlah dari wajahnya seluruh dosa karena penglihatan kedua matanya bersamaan dengan air atau akhir tetesan air.

Jika ia mencuci kedua tangannya, keluarlah dari kedua tangannya setiap dosa yang dilakukan tangannya bersamaan dengan air atau tetesan air terakhir.

Jika ia mencuci kedua tangannya keluarlah semua dosa yang dilakukan langkah kakinya bersamaan dengan air atau tetesan air terakhir, hingga ia keluar (dari berwudhu) dalam keadaan bersih dari dosa (H.R Muslim dari Abu Hurairah)

Menjaga wudhu juga menjadi salah satu tanda kesempurnaan iman.

 وَلاَ يُحَافِظُ عَلَى الْوُضُوءِ إِلاَّ مُؤْمِنٌ

Dan tidaklah menjaga wudhu kecuali seorang mukmin (H.R Ahmad, Ibnu Majah)

Berwudhu dengan menghirup air dan mengeluarkannya 3 kali setelah bangun tidur bisa mengusir syaithan yang mendekam dalam rongga hidung, bahkan kita ketahui juga penyebaran virus Corona ini bisa saja masuk melalui lubang hidung dan mulut.

Oleh sebab itu ada baiknya kita sempurnakan wudhu kita.

إِذَا اسْتَيْقَظَ أُرَاهُ أَحَدُكُمْ مِنْ مَنَامِهِ فَتَوَضَّأَ فَلْيَسْتَنْثِرْ ثَلَاثًا فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَبِيتُ عَلَى خَيْشُومِهِ

Jika salah seorang dari kalian bangun dari tidurnya kemudian berwudhu, hendaknya mengeluarkan air dari hidung sebanyak 3 kali karena syaithan bermalam di rongga hidungnya
(H.R al-Bukhari dari Abu Hurairah)

7. BERDO'A DAN TAWAKKAL
 
Do'a merupakan senjata mukmin dalam menghadapi keadaan atau situasi genting yang dialaminya.
Kita serahkan kepada Allah pastinya setelah kita berusaha sebaik mungkin.

Berdo'a tidak harus menggunakan bahasa Arab, berdo'a menggunakan bahasa daerah masing-masing kita lakukan tidak ada larangan sama sekali (di luar sholat).

Atau kita berdo'a dengan do'a umum yang biasa di panjatkan.

اَللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّاالْغَلَآءَ وَالْبَلَآءَ وَالْوَبَآءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَآئِدَ وَالْمِحَنَ مَاظَهَرَ مِنْهَا وَمَابَطَنَ مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بَلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً اِنَّكَ عَلَى كُلِّى شَيْئٍ قَدِيْرٌ

Harapan besar penulis, semoga wabah yang melanda negeri kita tercinta dan negara-negara yang lain, segera di angkat oleh Allah zat sebaik-baik pelindung.

Bahrul Ulum Risno, Al-Hafizh
Bandung, 26 Maret 2020

Sumber: http://www.haqin.id/2020/03/bagaimana-seorang-muslim-mencegah.html

Tahapan Al-Quran Diturunkan

Tahapan Al-Quran Diturunkan

Al-Quran (google)

bersamaislam.com - Allah menurunkan pamungkas kitab Samawy kepada Nabi muhammad, yang kita kenal dengan sebutan al-Qur'an. Sebagai pedoman dalam kehidupan, solusi untuk menumpas masalah-masalah yang dihadapi, obat untuk penyakit-penyakit yang diderita, tanda penghormatan dan kemuliaan yang istimewa, tameng untuk mencegah kerusakan terhadap apa yang akan dihadapi ummat ini.

Allah memilih ummat ini untuk mengemban risalah yang sangat mulia (al-Qur'an).
Juga mengkhususkan kepada makhluk yang paling mulia sehingga terkumpulah kemuliaan dengan kemuliaan yang lain, (Nabi Muhammad dan al-Qur an).

Setelah Allah mewahyukan al-quran kepada Nabi muhammad, sempurnalah ikatan risalah-risalah samawy. Memancarlah cahaya diatas dunia, dan menyebarlah cahaya yang berpijar pijar disetiap tempat, sehingga sampailah petunjuk Allah kepada makhluk. al-Qur'an diturunkan dengan perantara Malaikat Jibril, rajanya Malaikat, kepercayaan Allah SWT. yang mampu menyampaikan
al-Qur'an kedalam hati Nabi Muhammad sebagai pamungkas para Nabi.
Kejadian ini terdapat dalam al-Qur'an:

al-Qur'an dibawa turun oleh al-Ruh al-Amin (Jibril), ke dalam lubuk hatimu (Muhammad) supaya engkau menjadi salah seorang diantara orang-orang yang memberi peringatan, dengan Bahasa Arab yang jelas. Q.S. asy -Syu'ara 193-195.

Bagaimana Al-Qur'an diturunkan?

al-Qur'an diturunkan ada dua tahap:

Yang pertama, al-Qur'an diturunkan sekaligus (keseluruhan) dari lauh al-mahfuhz ke langit dunia, dikalangan ulama', populer dengan sebutan Bait al-Izzah. al-Qur'an diturunkan pada bulan yang mulia (Ramadhan), sekaligus pada malam yang disertai dengan penuh keberkahan begitulah yang telah diajarkan oleh para ulama yang penulis kagumi, kalangan ummat beragama Islam menyebutnya lailatul Qadar.

Tahap kedua, al-Qu'an diturunkan secara berangsur-angsur, kedalam hati Nabi Muhammad putra kandung dari Abdullah, kurang lebih dalam kurun waktu 23 tahun sejak beliau diutus sampai menghadap Allah Azza Wa Jall. Di tahap kedua ini al-Qur'an diturunkan disetiap bulan selain bulan Ramadhan. Pendapat ini dipelopori oleh Imam asy-Syuyuthy dari kalangan mazhab Imam asy-Syafi'i.
Begitulah sedikit gambaran kitab pedoman dalam kehidupan ini diwahyukan melalui makhluk kepercayaan Allah SWT. Semoga jiwa kita bisa selalu condong dan menjadikan al-Qur'an sebenar-benarnya pedoman dari zat yang maha mulia.

Bahrul Ulum Risno

Produktivitas Tanpa Batas Seorang Muslim

Produktivitas Tanpa Batas Seorang Muslim

Muslim Produktif

bersamaislam.com - Produktif, ialah sebuah aktivitas yang menghasilkan sesuatu dalam jumlah yang banyak. Entah ianya berbentuk karya, kegiatan atau hal-hal yang bermanfaat.

Dalam Islam, ternyata kaum muslim diajarkan untuk menciptakan kebermanfaatan dalam setiap lini kehidupannya. Bukan hanya tentang beragama dan beribadah, dalam kehidupan sehari-hari pun Allah telah jauh mengisyaratkan tentang produktivitas bagi manusia.

Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Hasyr: 18).

Nah, ternyata ummat muslim hendaknya merancang setiap aktivitasnya agar dapat mempersiapkan hari-hari berikutnya termasuk hari dimana Kita dikumpulkan di Akhirat. Maka agaknya, aktivitas yang Kita lakukan bukan hanya hal-hal yang bermanfaat untuk dunia tetapi juga kebermanfaatan untuk akhirat.

Tetapi, kadang kala Kita kebingungan membedakan apa itu profuktif dan apa itu sibuk. Ayo, kira-kira apa, sih bedanya produktif dan sibuk?

Berikut Kita simak bersama apa perbedaan produktif dan sibuk;

1. Perencanaan dan prioritas
Orang produktif hanya memiliki tiga hal dalam perencanaan vs orang sibuk mempunyai banyak hal dalam perencanaan.

2. Fokus pada pekerjaan
Orang produktif mengerjakan satu tugas vs orang sibuk mengerjakan banyak pekerjaan.

3. Strategis mengambil keputusan
Orang produktif mengatakan ‘ya’ secara strategis vs orang sibuk mengatakan ya untuk semua hal.


Agar tetap produktif

Ketahuilah, sebagaimana yang telah Allah sampaikan pada ayat berikut, bahwa;

فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ

“Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain” (QS. Al-Insyirah : 7)

Beginilah produktivitas yang efektif. Kita menghasilkan satu pekerjaan yang selesai, lalu beralih pada pekerjaan yang lain untuk Kita selesaikan satu-persatu. Dibandingkan Kita sibuk melakukan berbagai aktivitas namun tidak menghasilkan apa-apa.

Allah telah mengatur hal ini sedemikian rinci agar Kita sebagai manusia dapat menjadi sumber kebermanfaatan dan kebaikan bagi sekitar. Apabila Kita terbiasa melakukan hal dengan terencana, maka Kita akan terbiasa untuk mengukur target yang Kita capai.

Pada praktiknya, belajar menjadi manusia yang produktif memang memerlukan waktu pembiasaan agar tumbuh menjadi karakter. Dan seringkali juga, Kita dapati keadaan dimana Kita tak dapat melakukan apa-apa karena berbagai hal, misalnya sakit dan kelelahan atau karena semata-mata memang diri Kita malas.

Nah, hati-hati loh! Karena jika Kita malas, banyak sekali dampak negatif yang Kita dapatkan.

Menurut Imam Raghib Al-Ashfahani:

“Orang yang sering gabut dan banyak menganggur, maka dirinya telah lepas dari sifat kemanusiaannya, bahkan dari sifat hewan sekalipun (tidak ada hewan gabut/nganggur). Sehingga dia sejenis makhluk yang mati. Nganggur itu mematikan sifat kemanusiaan. Setiap anggota badan jika tidak dipakai, maka ia tak berguna nan sia-sia. Seperti kondisi mata ketika dipejamkan. Atau tangan ketika ditelantarkan. Badan yang terbiasa dimanja dengan kemudahan, akan menjadi malas. Begitu pula pikiran dan jiwa, jika jarang merenung dan berfikir akan dungu. Kalau sudah begitu, maka satu tingkat dengan hewan ternak.”

Beginilah pentingnya produktivitas, sebab Allah telah menempatkan segala sesuatu sesuai peruntukkannya. Maka, sebagai hamba yang telah Allah amanahkan tubuh, mari Kita lakukan kebaikan-kebaikan dan berbagai kebermanfaatan melalui tangan-tangan Kita, pikiran, hati, mata, telinga dan semua anggota tubuh ini hingga habis hanya untuk amal-amal nyata untuk-Nya.

Semoga kelak, merekalah yang akan menjadi salah satu hujjah di Akhirat.

“Tidak akan bergeser kedua kaki anak Adam di hari kiamat dari sisi Rabb-Nya, hingga dia ditanya tentang lima perkara (yaitu): tentang umurnya untuk apa ia habiskan, tentang masa mudanya untuk apa ia gunakan, tentang hartanya dari mana ia dapatkan, dan dalam hal apa (hartanya tersebut) ia belanjakan dan apa saja yang telah ia perbuat dari ilmu yang dimilikinya.” (HR. ath-Thirmidzi no. 2416, ath-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir jilid 10 hal 8 hadits no. 9772 dan hadits ini telah dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam Silsilah al-Ahadits ash-Ashahihah no. 946)
  1. Untuk apa usianya digunakan?
  2. Untuk apa masa mudanya digunakan?
  3. Darimana hartanya didapatkan?
  4. Untuk apa harta tersebut digunakan?
  5. Apa yang telah diperbuat dengan ilmu yang dimilikinya?


Produktif kapanpun dimanapun

Produktivitas setiap orang tentu akan berbeda sesuai dengan amanahnya masing-masing. Andai kata seseorang yang sudah bekerja dapat produktif atas pekerjaannya, maka bagi remaja yang masih sekolah tentu kegiatan mereka dalam rangka belajar pun dinilai sebagai produktivitas.

Yang perlu Kita tekankan ialah, jadikanlah waktu-waktu yang Kita miliki habis untuk sesuatu yang menghasilkan karya dan manfaat.

Kendati pun mereka yang gemar nongkrong di sosial media, maka jadikanlah hal itu untuk suatu yang bermanfaat dan produktif. Misalnya, membaca beberapa pengetahuan dan wawasan, bukan hanya asyik melihat story dan postingan yang tidak berfaidah.

Lebih bagus lagi jika Ia gunakan akunnya untuk berkarya dan berdakwah, tentu hal ini akan bermanfaat dan jauh lebih berguna bagi dirinya dan orang lain.


Utamakan Al-Qur'an Sebelum Yang Lain

Bagi Kita sebagai ummat muslim, ada satu kegiatan yang tak boleh terlupa dan terlepas dari berbagai aktivitas yang Kita miliki. Ya, ialah Al-Qur’an.

Jangan sampai Kita habis-habisan berkegiatan untuk hal yang berdampak besar bagi orang lain tapi diri Kita kering kerontang dari ruh kebaikan itu sendiri. Sebab, jiwa Kita akan menghasilkan ruh yang sama sesuai dengan kondisi hati Kita.

Utamakan Al-Qur’an sebelum kegiatan lain, maka keberkahannya ialah waktu Kita akan terasa sangat lebih lapang, sehingga Kita dapat melakukan banyak kegiatan dalam waktu singkat. Hal ini bukan efek magis, tapi ini adalah fitrah produktivitas manusia.

Seringkali Kita rasa waktu Kita habis untuk dunia dan tak sempat tilawah Al-Qur’an. Tapi sesungguhnya, karena Kita tidak membaca Al-Qur’an lah maka rasanya waktu Kita amat sedikit dan habis untuk dunia semata.

Pada hakikatnya, dunia ini tak ada habisnya. Maka, Kita kembalikan semuanya pada Allah Yang Maha Memiliki alam raya dan seisinya dengan melakukan ibadah.


Konsisten Untuk Tetap Produktif

Dalam hal ini, produktivitas sebagai seorang muslim lebih utama apabila dilakukan secara konsisten, sebagaimana Hadits berikut;

Dari ’Aisyah –radhiyallahu ’anha-, beliau mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلّ

”Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinu walaupun itu sedikit.” (HR. Muslim)

Jadi, kontinuitas adalah sesuatu yang akan berdampak kebaikan di esok hari. Apabila Kita konsisten tilawah satu juz satu hari, maka satu bulan telah mengkhatamkan Al-Qur’an. Apabila Kita konsisten membaca buku satu kali dalam satu pekan, maka dampaknya akan terasa satu-dua tahun kedepan.

Pun pada kegiatan-kegiatan lain yang Kita lakukan. Maka ia akan menjadi karakter bagi Kita. Terlebih lagi, Kita membiasakan diri untuk tetap produktif. Maka ia juga akan menjadi karakter yang mendarahdaging. Sampai rasanya, ketika Kita tidak melakukan kegiatan, rasanya diri Kita kehilangan sesuatu.

Nah, bonusnya lagi Allah tetap memberikan ganjaran bagi Kita atas amal yang konsisten Kita lakukan, namun Kita tidak melakukannya karena udzur.

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْعَبْدَ إِذَا كَانَ عَلَى طَرِيقَةٍ حَسَنَةٍ مِنَ الْعِبَادَةِ ثُمَّ مَرِضَ قِيلَ لِلْمَلَكِ الْمُوَكَّلِ بِهِ اكْتُبْ لَهُ مِثْلَ عَمَلِهِ إِذَا كَانَ طَلِيقاً حَتَّى أُطْلِقَهُ أَوْ أَكْفِتَهُ إِلَىَّ

“Seorang hamba jika ia berada pada jalan yang baik dalam ibadah, kemudian ia sakit, maka dikatakan pada malaikat yang bertugas mencatat amalan, “Tulislah padanya semisal yang ia amalkan rutin jika ia tidak terikat sampai Aku melepasnya atau sampai Aku mencabut nyawanya.” (HR. Ahmad, 2: 203. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth menyatakan bahwa hadits ini shahih, sedangkan sanad hadits ini hasan)

MaasyaAllah, betapa Allah Yang Maha Pemurah amat mencintai ummat yang konsisten dalam kebaikan dan produktivitas. Dan Allah jua memberikan motivasi bagi Kita agar terus berlomba-lomba dalam kebaikan dan memperbaiki setiap aspek kehidupan yang Kita miliki.

مَنِ اسْتَوَى يَوْمَاهُ فَهُوَ مَغْبُونٌ ، وَمَنْ كَانَ يَوْمُهُ شَرًّا مِنْ أَمْسِهِ فَهُوَ مَلْعُونٌ

“Barangsiapa yang dua harinya (hari ini dan kemarin) sama maka ia telah merugi, barangsiapa yang harinya lebih jelek dari hari sebelumnya, maka ia tergolong orang-orang yang terlaknat”.

Maka, mari Kita berusaha menjadi hamba yang bertakwa degan melakukan kerja-kerja kebaikan yang bermanfaat bagi diri dan ummat. Sehingga, mudah-mudahan atas ikhtiar Kita dalam beramal, Allah catat sebagai salah satu diantara pejuang yang bersungguh-sungguh dalam melakukan setiap amanah yang dipikul.

Atas konsistensi Kita mengerjakan tugas dengan baik, Allah ridha atas perjalanan Kita mengarungi kehidupan ini. Dengan Al-Qur’an yang Kita jadikan utama, Allah berikan keberkahan-keberkahan tiada tara untuk semua hal yang kita lakukan. Allahumma Aamiin.

Winni Alawiyah
Bandung, 2 Januari 2020



ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia

Broker Kripto

Tempo Doeloe

Olahan Makanan

Ulasan Film

Keimanan dan Keyakinan

Top Bisnis Online

Tips dan Trik