Biografi Syaikh Sulaiman al-Jamzury
![]() |
| Karangan paling populer di kalangan santri |
![]() |
| Karangan paling populer di kalangan santri |
Ibnu Al-Haytham dikenal sebagai
ilmuwan muslim yang berkecimpung di bidang sains, ilmu falak, matematika,
geometri, farmasi (pengobatan), dan ilmu filsafat. Hal yang sangat dikenal dari
beliau adalah keahliannya dalam bidang ilmu optik, khususnya penyelidikannya
mengenai cahaya. Melanjutkan perjalanannya dalam mengembangkan ilmu pengetahuan,
beliau melakukan hijra ke Mesir untuk melakukan penyelidikan atau penelitian
mengenai aliran dan saluran Sungai Nil. Selain melakuan bebeapa penelitian,
beliau juga menyalin buku-buku mengenai ilmu falak dan matematika. Hal ini
dilakukan untuk menambah pendapatan sebagai modal perjalanannya ke Universitas
Al-Azhar. Hasil daripada usaha tersbeut, beliau mahir untuk bidang ilmu-ilmu
yang pernah digelutinya.
Fokus kepada penyelidikan cahaya telah
banyak memberikan ilham kepada ahli sains barat seperti Boger, Bacon, dan
Kepler dalam proses menciptakan alat bernama mikroskop dan teleskop. Karena beliau
adalah orang pertama yang menulis dan menemukan berbagai data penting mengenai
cahaya. Di antara beberapa buku yang pernah diterjemahkan ke dalam bahasa
Inggris karya beliau adalah Light dan On Twilight Phenomena. Dalam
pengkajiannya banyak membahas mengenai senja dan lingkaran di sekitar bulan dan
matahari serta bayang-bayang dan gerhana. Salah satu temuannya yaitu cahaya
fajar bermula apabila matahari berada di garis 19 derajat di ufuk timur. Selain
itu, beliau juga telah menjelaskan tentang bagaimana kedudukan atau sifat
cahaya seperti pembiasan dan pembalikan cahaya.
Kenbencian Abu Lahab kepada Nabi bukan
semata-mata karena faktor pribadi Nabi, menginat siapa pun orangnya pasti mengagumi
sikap dan akhlak Nabi Muhammad yang begitu patut untuk diteladani oleh
siapapun. Abu Lahab membenci Nabi dengan alasan Muhammad membawa ajaran baru
dan mencoba menghilangkan berbagai ajaran dan kultur nenek moyang mereka yang
tidak sesuai dengan ajaran atau syari’at Islam. Apalagi terdapat salah satu
ajaran Nabi Muhammad yang mengajarkan kesederajatan hidup. Maka dari itu harga
diri Abu Lahab ikut jatuh dan terhapuskan segala kelebihan dan kehormatannya,
mengingat Abu Lahab terpandang sebagai orang yang cukup dihormati di Kalanga jahiliyah.
Karena rasa benci yang begitu tinggi, dalam
suatu peristiwa Abu Lahab mencoba merancang rekayasa untuk membuat celaka Nabi
Muhammad. Salah satunya ketika Abu Lahab mendapatkan cara baru untuk melakukan
rekayasa keji dengan cara membuat perangkap lubang yang diletakan tepat di
depan pembaringan. Sekitar empat meter perangkap yang berbentuk lubang tersebut
ia gali, bagian atas lubang tersebut Abu Lahab coba tutupi agar tidak terlihat
bahwa itu lubang atau perangkap.
Pada saat itu Abu Lahab berpura-pura
sakit dan menyuruh orang untuk memberi tahu Nabi Muhammad tentang kabarnya dan
agar Muhammad menjenguknya. Nabi Muhammad memang terkenal dengan akhlak atau
budi pekerti yang sangat luhur, oleh karena itu Abu Lahab sangat yakin Muhammad
akan datang, meskipun selama ini Abu Lahab sangat benci dan memusuhi Nabi
bahkan berusah mencelakainya.
Skema rencana Abu Lahab tersebut saat
menjenguknya pasti akan terperosok ke dalam perangkap yang berbentuk lubang
tersebut, lantas nanti Abu Lahab akan menimbun lubang tersebut sampai keadaan
Muhammad sudah tidak sadarkan diri. Itulah salah satu siasat keji Abu Lahab. Akan
tetapi dugaan dan recana tersebut meleset. Sebab ketika Muhammad mendengar
berita duka Abu Lahab menderita sakit dan hendak menjenguknya. Ada hal yang
cukup istimewa ketika Muhammad beberapa Langkah sebelum Nabi sampai dan
menginjak perangkap atau lubang yang dibuat Abu Lahab tadi, sebuah informasi illahi
menghampiri. Sehingga pada Nabi tahu siasat keji yang dibuat Abu Lahab
tahu. Sontak Nabi melangkah balik untuk tidak jadi menjenguk Abu Lahab.
Melihat hal tersebut Abu Lahab sangat cemas
akan hal tersebut, sampai-sampai Abu Lahab lupa akan perangkap yang ia buat dan
pada akhirnya Abu Lahab lah yan terperosok ke dalamnya. Konon karena kejadian
itulah muncul pepatah arab yang berbunyi “man hafaro hufrotan waqo’a fiihaa”
siapa yang menggali lubang dia sendiri akan terperosok ke dalamnya.
| Sholahuddin Al Ayyubi |
Pada
suatu hari Sholahuddin mendapatkan sebuah kabar dari telik sandi atau
intelejen bahwa seorang panglima perang musuh jatuh sakit. Bagi mereka yang
memiliki jiwa ambisius dan bersemangat dalam mengalahkan lawan ketika akan
perang, pasti akan memanfaatkan momen atau keadaan seperti ini untuk
mengalahkan dengan cara melawan atau menghancurkan lawan. Karena dengan
terjadinya situasi pemimpin perang sakit, pasukan akan merasa kebingungan
seperti ayam kehilangan induk.
Berbeda
dengan sosok Sholahuddin sebagai panglima perang, beliau memiliki pemikiran
serat kebijakan yang sangat bijaksana dengan tidak memanfaatkan kedaan
tersebut. Beliau memiliki pemikiran bahwa hal tersebut itu tidak fair atau
tidak adil. Sebuah pemikiran yang cukup menarik dan tentunya bijaksana dari
seorang Sholahuddin Al Ayyubi yaitu,
“Peperangan yang membanggakan hanya jika
kemenangan diperoleh bukan dengan kecurangan. Kecurangan hanya mengahasilkan
pihak yang menang, tapi tak dapat bangga dengan kemenangannya, dan menghasilkan
pihak yang kalah, tapi tidak berbesar hati dengan dengan kekalahannya.”
Kisah
ini berlanjut dengan Sholahuddin mencoba menyelinap ke kubu lawan. Secara
sembunyi-sembunyi, Beliau behasil menyelusup dalam kemah panglima pasukan Salib
tersebut. Keadaan paling perang yang begitu cacat pasi sembari terbujur lemah,
Sholahuddin mendekati untuk mengobati. Alangkah kagetnya panglima perang Salib
tersebut karena ada orang asing masuk ke dalam kemahnya. Kekagetannya bertambah
lantaran yang datang itu merupakan seorang panglima perang Muslim dan
kedatangannya tidak ada tujuan untuk membuat dia mati tetapi untuk mengobati.
Orang
yang biasa berada di medan perang dengan pedang yang gagah, sekarang duduk di
hadapan seorang musuh dengan begitu bijaksana, penuh kasih, dan pekerti ingin
mengobati lawan. Dialah seorang panglima bernama Sholahuddin Al Ayyubi lawan
tanding dalam perang Salib. Bahkan ketika ada kabar bahwa Sholahuddin meninggal
dunia, tidak hanya kaum muslimin yang merasakan kesedihan dan gundah gulana
akan tetapi para panglima perang musuh ikut merasakan begitu kehilangannya
sosok panglima perang musuh yang amat bijaksana dan sangat menjunjung tinggi rasa
kemanusiaan.
| Sebuah kisah |
Peristiwa ini terjadi ketika Rasulullah masih tinggal di kota Makkah, sebagai salah satu bentuk cobaan atau gangguan dalam mensyi’arkan ajaran Islam. Tidak hanya sekali Rasulullah mendapatkan hinaan secara fisik maupun mental, bahkan dalam suatu waktu Beliau pernah mendapat cacian dari seorang wanita tua. Setiap kali Rasulullah melewati rumahnya, wanita tersebut meludahkan air liurnya “Cuh, cuh, cuh.” Peristiwa ini berulang kali terjadi bahkan hampir tiap hari.
Akan tetapi pada suatu hari, wanita itu tidak lagi meludahi Rasulullah
bahkan batang hidungnya saja tidak terlihat. Dalam benak Rasulullah “Tumben
dia tidak muncul dan meludahiku lagi?” bahkan Rasulullah merasa “Kangen”
akan ludahannya. Karena penasaran, Rasulullah bertanya kepada seseorang, “Wahai
fulan, tahukah engkau, di manakah wanita pemilik rumah ini, yang setiap kali
aku lewat dia selalu meludahiku?”
Orang yang ditanya oleh Rasulullah merasa heran, kenapa
Beliau malah menanyakan wanita itu tidak merasa kegirangan sama sekali. Si fulan
langsung menjawab pertanyaan Rasulullah, “Apakah engkau tidak tahu bahwa
wanita yang sering meludahi engkau itu sudah beberapa hari terbaring sakit?” mendengar
jawaban tersebut Rasulullah mengangguk-angguk, dan melanjutkan perjalanan
menuju Ka’bah untuk bermunajad kepada Allah.
Sekembalinya Rasulullah dari Ka’bah, Beliau langsung
menjenguk wanita peludah tersebut. Ketika si wanita peludah itu tahu bahwa Rasulullah
menjenguknya dan Rasulullah tidak memiliki rasa dendam sedikitpun, si wanita
menangis dalam hati, “Duhai, betapa luhur budi orang pertama yang menjenguk
kemari.” Dengan menitikan air mata haru nun bahagia, si wanita tersebut lantas
bertanya kepada Rasulullah “Wahai Muhammad, kenapa engkau menjengungukku,
padahal tiap hari aku meludahimu?”
Rasulullah menjawab, “Aku yakin, engkau meludahiku karena
engkau belum tahu tentang kebenaranku. Jika engkau sudah mengetahuinya, aku
yakin engkau tidak akan meludahiku lagi.” Mendengar ucapan bijak Rasulullah,
si wanita tersebut menangis kembali dalam hati. Lantas ia bicara lepas kepada Rasulullah,
“Wahai Muhammad, mulai saat ini aku bersaksi untuk mengikuti agamamu.” Pada
saat yang bersamaan si wanita itu berikrar dua kalimat syahadat. ~
Sungguh indah setiap sikap-sikap yang ditonjolkan oleh Rasulullah, salah satunya sikap welas asih kepada umatnya. Beliau selalu ber-husnudzan bahwa kebencian muncul bukan karena mereka benci kepada diri Rasulullah, tapi belum mengetahui sepenuhnya misi Rasulullah yang sesungguhnya. Beliau juga yakin bahwa ketika keburukan dibalas dengan kebaikan akan melahirkan kebaikan pula.
![]() |
| Ustadz Badru Salam |
![]() |
| Ustadz Badru Salam |