Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan
Biografi Syaikh Sulaiman al-Jamzury

Biografi Syaikh Sulaiman al-Jamzury

Karangan paling populer di kalangan santri

bersamaislam.com - Alhamdulillah puji syukur kita ucapkan atas segala karunia dari Allah SWT dan bershalawat atas nabi Muhammad SAW beserta keluarga, sahabat dan orang yang mengikutinya. Pada tulisan kali ini kami akan menyajikan salah satu Biografi Ulama masyhur pada masanya hingga sampai saat ini berkat buah manis karya-karyanya, beliau adalah Syaikh Sulaiman al-Jamzury. 

Nama
Nama lengkap Syaikh Sulaiman al-Jamzury adalah Syaikh Sulaiman bin Husain bin Muhammad bin Syalabi al-Jamzury, yang masyhur dengan sebutan al-Afandi. Beliau lahir di kota Tanta pada bulan Rabi'ul awal, sekitar tahun 1163 H. 

Tentang Jamzuri  
Jamzuri adalah penisbatan kepada Jamzur, sebuah kota (tempat) ayahnya si pembuat nadzham (sya'ir ilmiah ini) menetap. Jamzur ialah salah satu daerah pada provinsi al-Minnufiyah, yang jauh atau jaraknya beberapa mil.

Guru
Syaikh Sulaiman al-Jamzury, bermadzhab Fiqih Imam Syafi'i. Diantara gurunya adalah:  
1). Syaikh Nuruddin Ali bin Umar bin Naji bin Fanisy al-Mihi, penisbatan kepada kotanya yang bernama al-Mihiy, yang bertetangga dengan kota Sheben el-Kom di provinsi al-Minufiyah. Beliau dilahirkan pada tahun 1139 H. Di kota tersebut beliau membaca Al-Qur'an dan menyempurnakan ta'lim (pendidikan)-nya di al-Azhar, kemudian beliau "rihlah" (bepergian/safar) ke kota tanta dan menetap disana serta menyibukkan diri dengan mengajarkan ilmu-imu syar'i dan qiraat. Beliau berkhidmat demi aga sedemikian rupa sampai Allah mewafatkannya pada hari rabu tanggal 14, bulan Rabi'ul Awwal, tahun 1204 H.

2). Syaikh Mujahid Al Ahmadi, nama aslinya Muhammad Abu Nuja yang mashur dengan sebutan Sayyidi Mujahid, beliau dalah ulama abad ke duabelas hijriyah.beliau lah yang memberi gelar Imam al-Jamzuri dengan sebutan al-Afnaadi, dalam bahasa Turki menunjukkan keagungan dan ketinggian.

Karangan Syaikh Sulaiman al-Jamzury
1. Tuhfatul Athfal Wal Ghilman Fi Tajwidil Quran (Nadzom)
2. Fathul Aqfal Bi Syarh Tuhfatul Athfal
3. Kanzul Maani Bi Tahriri Hirozul Amani
4. Fathurrahman Bisarhi Kanzul Maani Fi Qiraoat Sab’i
5. Mandumah Fi Riwayat Imam Waras
6. Jamiul Mussaroh Fi Syawahid Asyatibiyah Wa Durrah
7. Addur Mandum Fi Udril Ma’mun
8. Attirozul Marqum Bi Syarhi Dur Mandum

Dari beberapa karangan beliau yang paling terkenal adalah kitab Tuhfatul Athfal, yang berisi syair-syair yang menerangkan ilmu-imu tajwid yang beliau dapat ilmunya dari guru Imam al-Mihiy, diantaranya; a). Hukum nun sukun dan tanwin, b). Hukum nun dan mim bertasydid, c). Hukum mim sukun, d). Hukum Lam sukun pada Alif Lam dan pada Lam Fi'il, e). Mitslain, mutaqaribain, dan mutajanisain, f). Jenis mad, g). Mad ashly/thabi'i, h). Mad far'i, i). Jenis-jenis mad lazim. Dalam kitab tersebut dikaji sedemikian rupa tepat pilihan katanya sehinga tercipta syai-syair indah yang mudah dilagukan. 

Dalam kitab ini mengambarkan dengan jelas bahwa beliau adalah seorang ulama yang tawadhu, beliau awali syair ini dengan mengagungkan nama Allah dan Rasulnya Muhammad. Beliau juga mengagungkan nama gurunya yakni Imam al-Mihiy.

Wafat 
Tidak ada informasi jelas mengenai wafatnya beliau, bahkan para ulamapun tidak mengetahui pasti wafatnya beliau. Diperkirakan beliau wafat setelah menciptakan karangan akhirnya yakni Fathurrahman Bisarhi Kanzul Maani Fi Qiraoat Sab’i (tahun 1208 H).
___________________________________

Referensi:
Matan Tuhfatul Athfal
http://arrazifahrudin.blogspot.com/2017/03/biografi-imam-al-jamzuri.html




Ar-Razi

Ar-Razi

                                                                             
Abu Bakar Muhammad bin Zakariya ar-Razi


bersamaislam.com - Al-Razi atau yang lebih dikenal dengan Abu Bakar Muhammad ibn Zakariya adalah seorang cendekiawan muslim yang berprofesi sebagai dokter, dosen, instruktur fitnes, kimiawan, serta filosof (Supriyadi, 2009:68). Dalam bidang Filsafat ar-Razi, terdapat banyak keyakinan otoritatif dan tulus yang berbeda dalam beberapa hal dengan alur keyakinan yang dianut mayoritas ulama pada saat itu. Mayoritas filosof dan penganutnya memiliki sejarah menyamakan keyakinannya dengan agama, tetapi ar-Razi dianggap sebagai sosok yang menggunakan jalan filsafat untuk menghadapi berbagai persoalan, termasuk persoalan agama (Amien, 1983:46 ).

Menurut teori, Filsafat Al-Razi memungkinkannya diakui sebagai landasan yang mampu melahirkan gagasan-gagasan segar di bidang pendidikan. Pola yang dapat dicapai adalah dengan menggunakan sebagai pijakan dalam mendasarkan persoalan-persoalan dalam pendidikan, mengingat ada kenyataan bahwa problem-problem utama.

A. Biografi

Nama lengkap Ar Razi ialah Abu Abdullah Muhammad bin Umar bn Husain bin Hasan bin Ali at-Taimi al Bakri al-Thibristani. Dikenal dengan nama Al-Din Ar Razi dan di beri gelar “Fakhruddin” atau di kenal dengan sebutan Ibnu Khatib ar-Ray, karena ayahnya ialah seorang khatib di Ray. Ray merupakan sebuah desa yang banyak di tempati oleh orang ajam (selain Arab). Ar-Razi merupakan anak keturunan Quraisy yang nasabnya bersambung kepada Abu Bakr al-Shiddiq.

Ar-Razi atau Fakhruddin dilahirkan di kota yang terletak di bagian Timur Teheran (Iran) pada tahun 544 Hijriah/1150 Masehi di Ray, sebuah kota besar di wilayah irak yang sekarang telah hancur dan dapat dilihat sisa-sisanya di kota Taheran Iran. Ray adalah sebuah kota yang banyak melahirkan banyak ulama dengan diberi julukan al-Razi di bagian nama belakang sebagaimana lazimnya pada masa itu. Diantara banyaknya ulama yang di beri gelar al-Razi ialah Abu Bakr bin Muhammad bin Zakaria, ia merupakan seorang filsof dan dokter keamaan pada abad X M/IV H.

Ar-Razi hidup di tengah konsisi keluarga yang sangat mencintai ilmu dan kebijaksanaan. Ayahnya ialah Syaikh Imam Dhiyauddin Umar Khatib ar-Ray yang juga seorang guru dan khatib di kota Ray. Syekh Dhiyauddin memiliki banyak hasil karya di bidang ilmu ushul. 

Semenjak kecil Ar-Razi disibukkan dengan menimba ilmu dari orang tuanya. Hingga ketika meranjak dewasa ia merupakan ulama yang tak tertandingi di zamannya, karena ia dapat melampaui orang-orang/ulama-ulama dalam bidang ilmu kalam, ilmu sejarah dan ilmu rasional.

Selama hidupnyam ar-Razi mengalami tiga kal pergantian khalifah di Baghdad, khalifah yang pertama, al-Mustanjid Billah (555-556 H) yang pada saat kekuasaannya belum ada pengaruh dari orang-orang Turki Seljuk. Kedua, al-Mustadhi Billah (566-575 H) yang merupakan anak dari al-Mustanjid yang memgang kekuasan setelah ayahnya meninggal. Ketiga, al-nashir li-dinillah (575-622 H), anak al-mustadhi merupakan khalifah Abbasiyah dengan masa kekuasaan terpanjang. Khalifah inilah yang berusaha mengembalikan kebesaran dinasti Abbasiyah dengan mengadakan “kompromi” dengan golongan yang dikembangkan untuk memprotes para khalifah. 

Ar-Razi banyak mempelajari berbagai bidang keilmuan, diantaranya ilmu kalam, filsafat, logika, fiqih, kedokteran, matematika, fisika dan mufassir al-Quran terkemuka. Ia juga pernah mendapatkan perhatian lebih dari keluarga kesultanan dengan dibuatkannya sebuah madrasah dekat masjid di Herat untuk mengajari anak-anak para sultan. Ia juga dikenal sebagai pembela aqidah dan sunnah yang mahir dalam menyampaikan ceramah teologis dengan logika yang logis dan kuat.

Ar-Razi meninggal di Herat pada hari Senin Tanggal 1,606 H/1209 M, bertepatan dengan hari Idul Fitri. Ar-Razi ditemukan, seperti yang diharapkan, di Gunung Mushaqib di desa Muzdakhan, daerah terpencil tidak jauh dari Herat. Sebelum kematiannya, Ar-Razi dengan cepat menyebutkan pidato yang ditulis oleh teman dekatnya Bernama Ibrahim al-Asfahani. Wasiatnya adalah tentang memberikan perhatian penuh kepada Tuhan dan menghormati Anda. Ar-Razi juga menyadari bahwa ia telah menulis banyak materi untuk berbagai jenis cabang ilmu. Dalam wasiat yang sama, Ar-Razi juga mengungkapkan bahwa hal itu disebabkan oleh filsafat dan kalam. Ia lebih nyaman dengan metode al-Qur'an dalam mencari ilmu daripada metode filsafat.

B. Karir Intelektual 

Ar-Razi adalah seorang yang memiliki keluasan akan ilmu pengetahuannya, berbagai mazam ilmu pengetahuan ia pelajari, sehingga tidak mengherankan jika ia menjadi rujukan dalam berbagai bidang ilmu, diantaranya ialah : 

1. Fiqih dan Ushul Fiqih 

Ar-Razi mengajarkan al-kamal al-simnani dan istrinya ilmu fiqih yang mendalam. Dia bergerak bersama madzah Syafi'i untuk mengungguli madzab lain dan mempertahankan pendapatnya. Namun tidak jarang ia bertentangan dengan pendapat al-Syafi'i, tetapi ia mengikuti Imam Abu Hanifah, misalnya dalam hal kewajiban witir, kewajiban zakat buah-buahan dan hasil bumi. 

Saya belajar tentang ushul dari teman-teman saya yang mengikuti pendapat al-Syafi'I, tetapi saya tidak begitu mengerti apa yang dia katakan. Misalnya, menurut pendapat Ar-Razi, dia mengklaim bahwa Al-Qur'an telah memberi kita pesannya sebelum menerima wahyu lebih lanjut dari Allah, jadi saya tidak setuju dengannya. Selain itu, Ar-Razi tampaknya tidak mengerti bahwa Al-Qur'an mengandung nash.

2. Ilmu Kalam 

Ar-Razy lebih terkenal dalam bidang ilmu kalam daripada ilmu fiqih dan ushul fiqih. Ia belajar ilmu kalam kepada al-Majid al-Jili. Nalarnya adalah logika jadaliyah.

Ar-Razi berpartisipasi dalam kalam Asy'ariyah; dia dipengaruhi oleh al-Ghazali dan al-Haramain. Meski mengakui Asy'ariyah, dia tidak terus-menerus mengakui imam Asy'ari. Ia juga sering mengkritik percakapan yang tidak sesuai dengan apa yang dikatakan. Berlawanan dengan kritik terhadap teori "kasb", dia memiliki pandangan yang kuat tentang determinisme (qada dan qadar).

Karena kesuksesannya dalam bidang ilmu kalam, Ar-Razi mendapatkan kedudukan dan kehormatan tinggi, bahkan ia mendapat gelar “mujaddid” pada abad ke-6 H/ke-12 M.

3. Filsafat dan Mantiq

Ar-Razi mengajar Majd al-Din al-jili dan Muhammad al-Bagawi tentang Filsafat. Ia juga mempelajari tulisan-tulisan Ibnu Sina dan al-Farabi, menafsirkan karya masing-masing penulis. Jasa Terbesar Ar-Razi di Filsafat terletak pada kritik yang tidak meninggalkan prinsip-prinsip bekas yang terhapus dalam aliran filsafat ini terhadap-prinsip filsafat paripatetik. Namun ia juga memperkenalkan model konseptualisasi lain, seperti isyroqi Filsafat yang bertentangan dengan hukum Islam.

4. Ilmu Kedokteran, Matematika dan Ilmu Alam

Ar-Razi merupakan seorang dokter yang cukup terkenal pada masanya. Ia menghasilkan beberapa karya tentang Kesehatan, urat nadi, anatomi dan ensikopedia kedokteran. Disamping kedokteran Ar-Razi juga mengusai ilmu Matematika, astronomi, farmasi, astrologi, fisika dan pertanian.

5. Tafsir dan Hadis 
Keterkenalan Ar-Razi dalam dunia ilmu ialah dalam hal penafsirannya terhadap Al-Quran seperti kepopulerannya juga di dalam karya-karya teologi. Ar-Razi pernah menulis di usia tuanya “aku telah berpengalaman dengan semua metode ilmu teologi dan filsafat, tetapi aku tidak mendapatkan manfaat yang aku dapatkan dari membaca al-Quran.”

Karya terbesar Ar-Razi di bidang tafsir ialah Mafatih al-Gaib, yang disusun oleh Ibn al-Khu’I dan al-Suyuti. Ar-Razi kurang dikenal dalam ilmu hadis, ia juga sedikit mencantumksn Riwayat hadis dalam tafsirnya.

6. Ilmu Bahasa Arab 

Ar-Razi sangat handal dalam sastra lisan dan tulisan. Dalam hal balaghah, ia bersandar pada dua kitab karya Abd al-Qahir al-jurjani, yaitu: Dalai’il al-I’jaz dan Asrar al-Balaghah. Kemudian Ar-Razi meringkas kedua kitab tersebut menjadi satu kitab yang menjadi rujukan penting dalam ilmu balaghah yaitu kitab Nihayah al-I’jaz fi Dirayah al-I’jaz.

Dalam bidang ilmu nahwu, Ar-Razi kurang di kenal. Tetapi dalam tafsirnya banyak menyebutkan qira’nahwiyah yang kebanyakan ia nukil dari pendapat lain, seperti al-Zamakhsyari. Selain itu Ar-Razi juga me,buat sajak dalam bahasa Arab dan Persia.

Konon Ar-Razi juga menguasaiilmu ramalan dan nujum serta ilmu sihir. Dalam tafsirnya, ia juga memberikan pembahasan tentang sihir sebagai suatu ilmu yang wajib di ketahui agar mengetahui suatu Mu’jizat itu melemahkan. Seperti dalam kitab tentang sihir yang di tulisnya yaitu kitab al-Sirr al-Maktum fi Mukhatabh al-Syams wa al-Qamar wa al-Nujum.

Kemampuannya dalam banyak bidang keilmuan memberi pengaruh besar dalam hidupannya. Menurut Ibn Khallikan, orang-orang yang berguru kepada Ar-Razi dating dari berbagai penjuru dari berbagai lapisan masyarakat. Ar-Razi memberikan pengajatan dalam dua bahasa, Arab dan Persia.

C. Karya Tulis

Menurut Malik Abdul Halim Mahmud jika dihitung karya-karya Ar-Razi sebanyak 200 karya.

1. Karya Tafsir 

a. Mafātih al-Ghaib.
b. Kitab Tafsir al-Fatihah, yang sekarang merupakan jilid pertama dari kitab tafsīr al-Kabīr.
c. Kitab tafsīr Surat al-Baqarah.
d. Tafsīr al-Qur’an al-Sagīr, yang lebih dikenal dengan nama Asrār al-Ta’wīl wa Anwār al Tanzīl.
e. Kitab tafsīr Asmā’ Allah al-Husna.
f. Kitab Tafsīr al-Bayyināt.

2. Karya Sejarah

a. Kitab Fadail al-Sahabah al-Rasyiddin
b. Kitab Manaqib al-Imam al-Azam al-Syafi’i

3. Karya Fiqih

a. Kitab al-Ma’alim Fiqh
b. Kitab Al-Ihkam al-Ahkam
c. Kitab Mahsul fi Usul Fiqh

4. Karya Teknologi

a. Al-Ma’alim fi Usul al-Din
b. Kitab Al-Arba’in fi Usul al-Din
c. Tanbihah Isyarah di Usul al-Din
d. Kitab Asas al-taqdis
e. Kitab Zubdah al-Afar wa Umdah al-nazar
f. Kitab Mabahis al-Wujud wa al-adam
g. Kitab Jawab al-gaylani

5. Karya Tasawuf dan Umum

a. Risalah Naftah al-Masdur
b. Tahsil al-Haq
c. Kitab RIsalah fi Zamm al-Dunya’
d. Al-Lata’if al-Giyasiyah
e. Siraj al-Qulub
f. Al-Risalah al-Sahibiyyah 
g. Ajwibah al-Masa’il al-Bukhariyyah

6. Karya Bahasa dan Retorika

a. Nihayah al-I‘jaz fi Dariyat al-I‘jaz (fi ‘Ulum al-Balagah, Bayan I'jaz al-Qur’an al-Syarif)
b. Kitab al-Muhassal fi Syarh al-Kitab al-Mufas}s}al li al-Zamaksyari

7. Karya Tasawuf dan Umum

a. Risalah Naftah al-Masdur
b. Risalah al-Majdiyyah
c. Al-Mabahis al-‘Imadiyyah fi al-Matalib al-Ma’adiyah
d. al-Risalah al-Sahibiyyah
e. Kitab al-Risalah al-Kamaliyah fi Haqa’iq al-Ilahiyyah

8. Karya Filsafat

a. Kitab Syarh ‘Uyun al- Hikmah li Ibn al-Sina
b. Al-Mabahis al-Masruqiyyah
c. Kitab al-Thariqah al-‘Ala’iyyah fi al-Khilafah
d. Kitab Tahyin Ta‘jiz al-Falasifah
e. Kitab al-Tariqah fi al-Jadal
f. Kitab Syifa’iyyah min al-Khilaf
g. Syarh Musadirah Iqlidis
h. Syarh Musadirah Iqlidis
i. Al-Akhlak
j. Al-Munazarah

Ditulis oleh : Muhammad Danial Dzawil Azmi

Biografi Ibnu Khaldun

Biografi Ibnu Khaldun

Ibnu Khaldun


bersamaislam.com - Ibnu Khaldun memiliki nama lengkap Waliyuddin Abdurrahman bin Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Abdurrahman bin Khaldun. Beliau lahir di negara afrika utara tepatnya pada kota tunisia pada tanggal 1 ramadhan 732 hijriah atau pada tanggal 27 mei tahun 1332 masehi, ayahanda ibnu khaldun bernama abdullah muhammad ayah ibnu khaldun memiliki 5 orang anak. Pada tahun 1348 masehi negara afrika utara dilanda pandemi pes sehingga ayah ibnu khaldun terserang wabah tersebut dan wafat. Ayah beliau merupakan ahli dalam bidang bahasa dan sastra arab sehingga ayah nya dikenal dalam sya’ir sufi dan beberapa keilmuan lainnya. Ibnu Khaldun termasuk dalam tokoh yang banyak berkontribusi dalam rencana mengembangkan peradaban dunia. Muqaddimah ibnu khaldun telah memberikan inspirasi bagi para sejarawan dan tidak jarang pemikiran dari  ibu khaldun menjadi studi perbandingan diantara spekulasi orang arab dan spekulasi orang yunani.  Tidak jarang orang-orang mengenal ibnu khaldun sebagai histografis dan juga sejarawan muslim di arab pada abad ke 14 dan beliau juga dianggap sebagai bapaj sosiologi, histografi serta ekonomi modern dan pemikirannya diabadikan atau didokumentasikan dengan sempurna.

Tahun 1332-1350 masehi Ibnu Khaldun meenempuh pendidikannya di kota Tunisia, beliau memulai dengan menghafal dan mendalami Al-Qur’an kemudian mulai menimba ilmu bahasa arab, tafsir Al-Qur'an, hadist, ilmu fikih, filsafat  selain itu juga beliau mendalami ilmu logika, matematika, astronnomi. Ibnu Khaldun juga terlibat dalam dunia politik pada saat itu dunia kepolitikan terkenal dengan kemajmukan kerajaan islam. Ibnu khaldun berpendapat tentang beberapa kajian bentuk negara,karakteristik dinasti dan negara islam dalam filsfat politik terdapat dalam pasal 25  hingga pasal 28 pada al-muqaddimah. Pasal tersebut juga menerangkan perihal kekhalifahan, persyaratan ketika khalifahingin menjadi pemimpin (raja), kebai’at-an, kedudukan putra mahkota, pangkat amirul mukminin, tugas dan wewenang pekerjaan perpajakan serta sekretaris di negara. 

Selanjutnya beliau bekerjasama dengan sultan abu inan dengan menjadi sekretaris abu inan yang berasal dari daerah maroko namun faktanya intrik dalam politik membuat ibnu khaldun dipenjara oleh abu inan  setelah ibnu khaldun bebas dari penjara lalu mengabdi kepada penguasa Maroko saaat itu yakni abu salim. Para warga Maroko sudah tidak mempercayai Ibnu Khaldun dan beliau memilih untuk tinggal di kota biskra and memilih untuk meninggalkan hal-hal yang berbau politik dan fokus pada bidang sarjananya. 

Di tahun 776 hijriah hingga tahun 780 hijriah ibnu khaldun memutuskan untuk mengembangkan karya-karya beliau dalam benteng banu salamah salah satu karya paling bersejarah yang berjudul Al-Bar. Sejak saat itu Ibnu Khaldun terus fokus terhadap peningkatan intelektualnya nantinya semua karya belaiu diberikan kepada pemimpinya. Ketika ibnu khaldun menjadi sasaran para lingkaran kekuasan Ibnu Khaldun membuat alasan dengan meminta izin sultan unttuk berangkat haji namun pada kenyataannya ibnu khaldun tidak  pergi ke mekah melainkan ia pergi ke kota Iskandar dan Ibnu Khaldun memutuskan untuk tidak lagi berkecimpung pada kekuasaan dan memilih menjadi hakim agung dan ilmuan hingga akhir hayatnya.

Saat umat islam sedang dalam kehancuran saat masa perkembangannya. Namun Ibnu Khaldun mampu memberikan inovasi-inovasi yang sangat kreatif dan pemikiran beliau di tuliskan dalam seluruh karya-karya bukunya yang sudah mempunyai orsinilitas. Adapun karya-karyanya yang terkenal yang pertama yakni Kitab al-I’bar wa Dhuan al-Mubtada’ wa al-Khabar fi Ayyam alA’rab wa al-‘Ajam wa al-Barbar wa man ‘Asharahiim min Dzawi alSuthan al-Akbar. Namun orang-orang sering menyebutnya dengan kitab al-I’bar atau tarekh ibn khaldun. Yang kedua yakni ensiklopedia tentang problematika politikal, kitab belai yang ketiga yakni al-Ta’rif Ibnu Khaldun wa Rihlatuhu Garban wa Syarqan dalam kitab tersebut menceritakan otobiograph ibnu khaldun versi terlengkap seperti kisah perjuangan beliau hingga menjadi pembesar agama yang sempuran, karya beliau yang ke empat yakni burdah al-bushairi yakni tentang aritmatik dan logika serta berisi rangkuman ilmu-ilmu fiqih. Karya yang kelima ditulis oleh ibn khaldun pada saat beliau berada di kota Fez judul  karayanya adalah Lubab al-Muhashal fi Ushul ad-Din dan juga kitab kitab Syifa al-Sailfi Tahdzib al-Massat karya tersebut membahas teologi skolastik dan tentang mistisme konvensional.  Ibnu khaldun berpendapat dalam salah satu karyanya bahwa ashabiya merupakan karakteristik ilmu sosial politik yang ada pada suatu komunitas dan kerangka kebudayaan di desa. Ashabiyah sendiri merupakan kekuatan penggerak negara serta sebagaii ideologi berdirinya negara atau dinasti. Belaiu berpendapaat bahwa ketika ashabiyah kuat maka negara yang terbentuk akan semakin luas begitu juga sebaliknya jika ashabiyah dikatakan lemah maka negara yang terbentuk akan terbatas karena ashabiyah merupakan alat perjuangan atau alat yang digunakan untuk bertahan dan bisa juga untuk menyelesaikan suatu problematika antar. 


Sosok Ibnu Khaldun juga dikenal sebagai bapak ekonomi pemikiran beliau tentang mekanisme pasar yang ditinjau dari segi harga karena pada dasarnya dalam ekosistem ekonomi syariah pasar dibentuk agar individu dapat bertransaksi antar barang dan jasa mereka secara independen dan dalam ekonomi syariah kebebasan atau independen menempati posisi tertinggi pada kegiatan ekonomi, yang dimaksud dengan kebabasn bertransaksi disini tidak seperti kapitalis melainkan tidak melakukan hal-hal yang dilarang oleh syariat islam, tidak menyebabkan kerugian satu sama lain dan kegiatan tersebut didasarkan pada kemaslahatan. Dalam hal muamalah islam mengatur semua perilaku yang berkaitan dengan perekonomian.  Ibnu khaldun mengkaji lebih lanjut mengenai mekanisme harga yang telah ditulis belaiu dalam karyanya yang pertama yakni dalam buku muqaddimah dalam buku tersebut menganalisa pembentukan harga di kota, dengan melakukan pembagian barang menurut kebutuhan golongan pertama kebutuhan primer dan golongan kedua kebutuhan sekunder logikanya ketika kota tersebut tergolong maju dan memiliki populasi padat penduduk maka dengan begitu kebutuhan primer akan menjadi prioritas dan kebutuhan sekunder akan menjadi pelengkap dari kebutuah primer. Menurut ibnu khaldun ketika supply mengalami peningkatan maka price pada barang tersebut akan menjadi murah begitu juga sebaliknya. Ketika disposible income masyarakat mengalami kenaikan maka mereka cenderung konsumsi barang yang diinginkan karena jika terjadi pendapatan yang berlebih maka orang tersebut cenderung mengkonsumsi barang dengan begitu harga naik secara natural karena demand mendominasi dibanding dengan supply.

Dengan banyaknya perjuangan, pemikiran hingga karya-karya terkenal dari Ibnu Khaldun yang hingga saat ini terus dikaji dan menjadi studi komaparatif dengan ilmu-ilmu yang saat ini tentu hal tersebut merupakan perjalanan panjang yang tidak mudah hingga akhirnya beliau di umur 76 tahun ibnu khaldun wafat pada tanggal 25 ramadhan tahun 808 hijriah atau 19 maret tahun 11406 masehi dan dimakamkan di desa dekat dengan sungai nil negara kairo tahun kelahiran dan wafat iibnu khaldun diukirkan dalam batu manner besar.  

Ditulis oleh : M. Shilman Rafi Annuzul


Mengenal Ibnu Rusyd, Sosok Filsuf Barat Yang Terkenal Akan Pemikirannya

Mengenal Ibnu Rusyd, Sosok Filsuf Barat Yang Terkenal Akan Pemikirannya

                              
Ibnu Rusyd, sosok berpengaruh pada kebangkitan Eropa


bersamaislam.com - Ibnu Rusyd atau apabila di benua Eropa yang lebih terkenal dengan panggilan “Avveroes” tersebut memiliki nama lengkap Abu Al-Walid Muhamad Ibn Muhamad Ibn Rusyd lahir pada 520 H / 1126 M di kota Kordoba, Andalusia (Spanyol). Beliau lahir dari keluarga ahli fiqih dari ayahnya yaitu Abu Al Qasim yang merupakan seorang hakim yang cukup terkenal di Kordoba pada masanya dan juga kakeknya yaitu Abu Al-Walid Muhammad yang juga merupakan kepala hakim di Kordoba dan meupakan imam Masjid Agung Kordoba.

Dari nasab keluarga, yang berawal dari kakek banyak tercatat sebagai tokoh-tokoh keilmuan. Kakeknya menjabat, sebagai Qadhi yang berada di Cordoba dan sekaligus meninggalkan karya-karya ilmiah yang sangat berpengaruh pada masa tersebut di Spanyol. Dari kakek Ibnu Rusyd menjalar keilmuannya ke Ayah dari Ibnu Rusyd, dari situlah Ibnu Rusyd sangat berhasrat untuk menimba ilmu yang sangat didukung dengan kondisi, mulai dari kitab Qanun karya dari Ibnu Sina dalam kedokteran, Ibnu Rusyd juga mempelajari bidang-bidang lainnya, mulai dari matematika, fisika, astronomi, logika, hingga filsafat yang sampai sekarang masih dijadikan panutan oleh kalangan. Dalam penguasaan bidang tersebut pendidik dari Ibnu Rusyd juga tidak terlalu terkenal, namun secara keseluruhan di Kota Cordoba sudah sangat terkenal dengan pusat dari studi-studi filsafat, namun berbanding terbalik dengan Sevilla yang terkenal dengan aktivitas-aktivitas artistiknya.

Pada masa kecil, Ibnu Rusyd sudah sering hingga pasti dapat mempelajari beragam ilmu pengetahuan, mulai dari Al-Qur’an, Hadits, Fiqih, hingga tak jarang pula ia mendalami ilmu eksak seperti, matematika, astronomi, hingga kedokteran. Pada usia yang telah beranjak remaja, Ibnu Rusyd sangat tertarik untuk keluar dari lingkungan belajar di keluarga dan juga memutuskan pergi untuk mencari para fuqaha yang berada di Andalusia yang bertujuan untuk  berguru dan juga menimba ilmu, yang berawal dari Abu Al Aim Basykawal, Abu Marwan bin Masarrah, Abu Bakar bin Samhun, Abu Ja'far bin Abdul Aziz, Abdullah Al Maziri, dan Abu Muhammad bin Rizq yang semakin mengkohkan dasar keilmuannya pada saat itu.

Pada saat sudah dewasa, Ibnu Rusyd menjadi ilmuwan ahli dan juga terkena dalam berbagai ilmu pengetauan, salah satunya ialah kedokteran. Ibn Rusyd filosof Muslim yang satu-satunya paling besar pengaruhnya di Barat. Dalam bidang kedokteran, Ibnu Rusyd belajar pada Abu Ja'far Harun At Tirjali dan Abu Marwan bin Kharbul. Dalam filsafat, ia belajar pada Ibnu Bajjah, yang dikenal dengan julukan Avinpace, beliau merupakan filosof besar di Eropa sebelum Ibn Rusyd. Pada tahun 1153M, Ibnu Rusyd melakukan pengamatan astronomi di Marrakesh dan membantu pembangunan perguruan tinggi yang sedang dilakukan pemerintah.. Pada saat itu ia pertama kali bertemu dengan Ibnu Thufail, filsuf yang terkenal dan penulis novel Hayy ibn Yaqzhan, yang saat itu menjabat sebagai dokter istana. Ibnu Rusyd dan Ibnu Thufail kelak berteman, walaupun mereka sering berselisih dalam membahas masalah filsafat. Tak sampai berteman disitu, ia juga berhubungan dengan dokter Abu Marwan bin Zuhr dan raja Dinasti Muwahhidun. Ia menjalin perhubungan yang akrab dengan Ibnu Zuhr, yang kemudian ia juga mempunyai hubungan yang baik dengan kerajaan Islam Muwahidin, namun dari semua itu, ia sangat dekat dengan amir ketiga khalifah Abu Yusuf Al-Mansyur. Hubungan dan kepercayaan tersebut itulah yang akhirnya Ibn Rusyd dilantik sebagai hakim di Sevilla pada tahun 1169M. Dua tahun berselang, karena begitu cakapnya ia menjadi hakim di Sevilla, beliau dilantik kembali menjadi hakim, namun berada Cordoba dan kemudian dilantik sebagai dokter istana pada tahun 1182 M.

Dalam pemikiran ilmu, Ibn Rusyd filosof Muslim yang satu-satunya paling besar pengaruhnya di Barat. Pokok pemikiran beliau yang ternama ialah merekonsiliasikan antara agama (wahyu) dengan filsafat (akal) yang secara gamblang ialah mempertemukan antara kedua tokoh yaitu Aristoteles dengan Muhammad. Menurut Ibnu Rusyd, filsafat merupakan cara untuk mempelajari segala yang bersifat wujud (maujudat) dan merenungkan yang membuat suatu bukti tentang adanya Sang Pencipta yang telah menciptakan alam dan seisinya. Hal itu pula yang membuat Ibnu Rusyd semakin tegar engan pemikiran nya mengenai filsafat. Ibn Rusyd menjelaskan bahwa apabila penelitian akal/pikiran yang akan mengkasilkan pengetahuan tentang segala sesuatu yang terbenuk dengan sendirinya, yang tidak tersebutkan dalam agama.

Pada kejadian yang terus menerus yang diselesaikan Ibnu Rusyd filsafat menjadi semakin menarik dan matang pada masa tersebut dan tidak sedikit orang yang ingin mendalami ilmu tersebut. Pengaruh Ibnu Ruysd terhada benua Eropa pada saat itu sangat menonjol dan yang membuat kagum ialah tidak secara langsung dari beliau namun melalui murid-murid yang belajar dari Eropa ke Andalusia dengan langsung. Pengaruh besar Ibn Rusyd di Eropa pada saat itu juga ditandai dengan lahirnya gerakan Avveroisme yang menghidupkan dan mengembangkan pemikiran filosofis. Pemikiran Ibnu Rusyd di Eropa sangat populer karena pada gagasan masalah agama dan falsafah atau wahyu dan akal adalah bukan hal yang baru dalam pemikiran islam, hasil pemikiran pemikiran islam tentang hal ini tidak diterima begitu saja oleh sebagian sarjana dan ulama islam.

Kebesaran dan kejeniusan Ibn Rusyd bisa dilihat pada karya-karyanya. Dalam berbagai karyanya ia selalu membagi pembahasannya ke dalam tiga bentuk, yaitu komentar, kritik, dan pendapat. Ia adalah seorang komentator sekaligus kritikus ulung. Ulasannya terhadap karya-karya filsuf besar terdahulu banyak sekali, antara lain ulasannya terhadap karya-karya Aristoteles.

Para ahli sejarah pendapat akan jumlah buku hasil karya dari Ibnu Rusyd. Ermest Renan (1823-1892), yang merupakan seorang filosof Perancis, beliau telah mengatakan bahwa Ibn Rusyd menulis kurang lebih 78 judul buku dalam berbagai bidang ilmu, dengan rincian 39 judul tentang filsafat, lima tentang ilmu alam,  delapan tentang fikih, empat tentang ilmu falak, matematika dan astronomi, dua tentang nahwu dan sastra dan 20 judul tentang kedokteran.

Peyusunan secara kronologis karya-karya Ibn Rusyd pertama kali dilakukan oleh M. Alonso dalam karyanya “La Cronogia en Las Obras des Averoes” pada tahun 1943. Karya-karya Ibn Rusyd dibedakan antara karya yang berdasarkan peikiran sendiri Ibn Rusyd dan karya yang merupakan komentar atas karya-karya orang lain terutama karya Aristoteles.

Ibn Rusyd memiliki peran penting dalam melakukan upaya survevisasi filsafat dari bungkaman yang dilakukan oleh al-Ghazali. Dua kitab yang dikarang sebagai upaya penetrasi gencarnya serangan-serangan badai yang telah dicipta al-Ghazali. Ibn Rusyd menjawab serangan Al Ghazali dengan menerbitkan sebuah buku yang berjudul Tahafutu Al Tahfut (Kerancuan dari Kerancuan).Kitab inilah yang menjadi pilar utama pemikiran Ibn Rusyd untuk menyelamatkan filsafat. Meski upaya inipun baru nampak membuahkan hasil baru-baru ini saja ”era kontemporer.

Memang dalam perkembangannya Ibn Rusyd sangat terkenal di wilayah Barat daripada di wilayah Timur, yang dikarenakan pada bagian karya tulisnya yang hanya menyisakan karya terjemahannya saja sedangkan karya yang asli telah dibakar ataupun dilarang untuk diterbitkan yang dikarenakan banyak pendapat yang mengandung anti filsafat dan juga di Barat pada zaman tersebut filsafat yang dibawakan Ibnu Rusyd mudah diterima oleh kalangan bangsa barat namun berbanding terbalik dengan bangsa Timur yang menganggap ilmu filsafat telah dikurbankan demi berkembangnya gerakan mistis keagamaan yang semakin pesat.

Dari pemikiran yang telah dijabarkan oleh beliau, banyak orang yang tidak menyukainya dan menimbulkan banyak tuduhan fitnah, tidak tanggung-tanggung ia sampai dikafirkan dan pernah diasingkan ke Maghribi (Maroko) oleh semua orang yang membencinya karena banyak orang yang menganggap pemikiran tersebut sudah terlalu melenceng dari ajaran Islam. Itulah sebab mengapa banyak dari karya Ibnu Rusyd yang dibakar dan juga dilarang untuk diterbitkan secara umum.

Namun tidak lama setelah banyaknya tuduhan yang dilontarkan kepada beliau, Ibnu Ruysd meninggal pada tanggal 19 Shafar 595 H/10 Desember 1198 M yang pada saat itu beliau meninggalkan banyak warisan ilmu berupa karya-karya yang melimpah yang terkenal di Barat maupun Timur. 

Ditulis oleh : Yusnizar Naufal Mas'ud


Biografi Ibnu Sina

Biografi Ibnu Sina

                                                         
Ibnu Sina


bersamaislam.com - Nama asli dari Ibnu Sina adalah Abu Ali Al Hussain ibn Abdullah ibn al- hasan ibn Ibnu Sina atau di dunia barat beliau dikenal dengan nama Avicenna. beliau lahir pada bulan safar didesa Afsan, pada tahun 370-428 H/ 980-1035 M,di desa yang dekat dengan Bukhari( kini termasuk wilayah Uzbekkitan ) pada masa dinasti Persia di Asia tengah, Beliau lahir pada masa keemasan beradapan Islam sehingga disebut sebagai tokoh islam dunia, Nama ayah beliau Abdullah, ia adalah seorang yang dihormati berasal dari baklan ( kini menjadi wilayah Afganistan), sebuah kota penting di masa pemerintahan Dinasty Samaniyah. Nama ibu beliau Setareh yang berasal dari Bukhara.

Sejak kecil, Ibnu Sina memang menunjukan daya intelektualitas tinggi serta ingatan yang kuat. Maka, bukan hal yang mengherankan jika ia mampu menyerap ilmu dengan lebih baik dibanding temanteman sebayanya. Bahkan di usia muda ia telah mampu menyerap ilmu para gurunya. Dalam hal ini, guru-guru Ibnu Sina berasal dari berbagai kalangan. Sebagai contoh, ia belajar aritmatika dari seorang pedagang.

Beliau dibesarkan di Bukharaja dan belajar filsafat dan ilmu-ilmu agama, sejak kecil ibnu sina sering menunjukan daya intelektualitas tinggi serta ingatan yang kuat , di usianya yang masih sangat muda beliau telah menyerap ilmu para gurunya, guru-guru ibnu sina barasal dari berbagai kalangan, beliau belajar aritmatika dari seorang pedagang sayuran asal India di pasar, hamper semua guru yang berpengetahuan luas di dekati oleh ibnu sina dan beliau dari Mekah.

Pada usia sepuluh tahun, ia telah belajar banyak pengetahuan agama Islam dan mampu menghafal Al-Qur'an. Ibnu Sina adalah murid Abu Abdullah an Nakiri dan belajar banyak dari Al-Qur'an hingga sastra, manik-manik dan obat-obatan. Fisika, metafisika, astronomi, dan banyak lagi. Kemudian ia mempelajari Plato dan Aristoteles dalam agama dan metafisika.

Ketika berusia 16 tahun, Ibnu Sina mulai belajar kedokteran dan tidak hanya belajar teori, tetapi juga mempraktekkannya. Dia kemudian pergi ke desa untuk mengobati mereka yang tidak mampu dan menjadi guru anak-anak karena pengalaman ini. Temukan metode dan obat baru. Pada usia 18 tahun, ia memantapkan dirinya sebagai seorang dokter, dan sejak usia dini ia menjadi semakin tertarik pada berbagai bidang ilmu pengetahuan.

Pada usia 22 tahun, Ibnu Sina ditinggalkan oleh ayahnya. Setelah jatuhnya Kekaisaran Samanai pada bulan Desember 1004, Ibnu Sina memutuskan untuk meninggalkan kampung halamannya menuju Urgench. Ibnu Sina segera diangkat menjadi birokrat, tetapi tidak dibayar banyak, jadi dia mengundurkan diri dan kembali mengembara ke tempat lain. Dia pergi ke perbatasan Krasan melalui Nishapur dan Merv untuk mencari pekerjaan yang sesuai dengan minatnya.

Ibnu Sina menjadi pelayan seorang penguasa Haheed bernama Muhammad bin Rustam Dushmanjir, diangkat sebagai dokter umum, penasihat sastra dan ilmiah, dan sering terlibat dalam kampanye politik. Ditangkap oleh pasukan Hamadan dan dipukuli secara brutal sampai ia menjadi tak tertahankan ketika penyakitnya kambuh, Ibnu Sina meninggalkan resimen pasukannya sakit parah dan kembali ke Hamdan dalam kondisi serius yang sulit ditemukan. Penguasa Hamadan dan teman-temannya menyarankan agar ia mengambil sikap moderat agar dapat diterima oleh rakyat.

Tetapi ketika penyakitnya sangat parah, dia dengan tegas menolak dan Ibnu Sina memberikan hartanya kepada mereka yang tidak mampu. Ibnu Sina meninggal pada Juni 1035 pada usia 58 tahun dan dimakamkan di Hamadan, Iran. Kontribusi Ibnu Sina bagi perkembangan ilmu pengetahuan, termasuk psikologi, tidak terhitung.

Ibnu Sina adalah seorang dokter, filsuf, dan ilmuwan Barat yang hidupnya merupakan pertempuran untuk ditiru masyarakat. Dia hidup di masa ketika dunia Islam mengalami perubahan yang cepat, dan kegelisahan jiwanya tidak memberinya kebebasan dan kedamaian yang dia butuhkan dalam hiruk pikuk pekerjaan intelektual yang hebat. Dia adalah seorang jenius yang menyusun ensiklopedia terbesar Abad Pertengahan dan meninggalkan jejak yang tak terukur di banyak bidang sains. Matematika, astronomi, geometri, etika, politik, interpretasi, sastra, musik. Selain karya-karya besar Ibnu Sina di bidang filsafat, Ash Shifa dan An Najat, ia juga menyelesaikan karya-karya tentang etika dan al-Majest, kemudian berkembang menjadi sepuluh bab. Dia menulis risalah tentang geometri, aritmatika, dan musik, memperkenalkan hal-hal baru pada aritmatika, dan membantah banyak teori Euschild. Selama perjalanan saya ke Nishapur, saya menulis dua buku tentang zoologi dan botani. Karya-karya ibnu sina yang terkenal, yaitu :

1. Asy-syifa, Buku ini adalah buku filsafat yang terpenting dan terbesar dari ibnu sina, terdiri dari empat bagian:logika, fisika, matematika, dan filsafat (ketuhanan), buku ini mempunyai beberapa naskah yang terbesar di berbagai-bagai perpustakaan di Barat dan timur, pada tahun 1956 M lembaga keilmuan cekoslovakia di praha menerbitkan pasal keenam dari bagian fisika yang khusus menemani ilmu jiwa, Bagian logika diterbitkan di karo pada tahun 1954 M, dengan nama Burhan, di bawah asuhan Dr. Abdurrahman Badawi.

2. An-Najat, Buku ini adalah ringkasan buku Asy-syifa, Buku ini pernah di terbitkan bersama dengan al-qanun dalam ilmu kedokteran pada tahun 1593 M di Roma, dan pada tahun 1331 M di Mesir.

3. Al -Isyarat wat-Tanbiat, buku ini merupakan buku terakhir dan paling baik, buku ini pernah diterbitkan di Leidan pada tahun 1892 M, kemudian diterbitkan di kaira pada tahun 1947 dibawah asuhan DR.Sulaiman Dunia.

4. Al-Hikmat al-Masyriqiyyah, Buku ini banyak di bicarakan, karena memuat bagian logika, ada juga mengatakan bahwa buku tersebut mengenai tasawuf, tetapi menurut Carlos Nallino ,berikut filsafat Timur sebagian imbang dari filsafat Barat.

5. Al-qanun/Canon of Medicine, . Buku ini pernah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dan pernah menjadi buku standar universitas-universitas Eropa sampai akhir abad 17 M. buku tersebut pernah diterbitkan di Roma tahun 1593 M, dan di India tahun 1323 H. Risalah- risalah lain yang banyak jumlahnya dalam lapangan filsafat, etika, logika, dan psikologi.

Dalam buku al-Tambihat (Mistis Ibnu Sina ) menjelaskan bahwa ibnu sina dipengaruhi tasawuf al-farabi , akan tetapi ulasanya sangat unik dan sistematika, ibnu sina menjelaskan tentang ‘’kesendirian ‘’, ‘’keindahan’’ dan ‘’kebahagiaan’’makam orang-orang makrifat dan rahasia pelimpahan teori ittishal.

Mengenai hal ini Ibnu Sina menyebutkan makrifat sebagai berikut: Orang-orang makrifat mempunyai beberapa makam dan derajat yang khusus di dalam kehidupan dunia mereka tanpa bisa diraih oleh orang-orang lain. mereka seakan terbungkus di dalam tubuh mereka yang mereka tinggalkan menuju ke alam Kudus. Mereka mempunyai berbagai persoalan tentang mereka, baik yang sama maupun yang jelas. Hal itu akan diingkari oleh orang-orang yang menentangnya, namun kami menceritakannya kepada anda… orang yang makrifat (al-Arif) menghendaki kebenaran pertama bukan sesuatu yang lain. Ia tidak terpengaruh sesuatu untuk mengetahui-Nya dan ia menyembah hanya kepada-Nya. Sebab memang Dialah yang berhak disembah, karena ibadah itu adalah nisbah kemuliaan untuk-Nya, bukan karena cinta atau takut… al-Arif tersenyum simpul, menghormati yang kecil karena tawadlu‟-nya seperti ketika ia menghormati yang besar. Ia sederhana terhadap orang yang punya nama sebagaimana ia sederhana terhadap orang yang tidak punya nama.

Dalam tasawufnya, Ibnu Sina menggambarkan Makam Makriphat sebagai berikut: “Orang-orang yang berpaling dari kekayaan dan kesenangan duniawi disebut dengan nama al-Zahid (ahli Zhud), dan orang-orang yang mengamalkan ibadah sunnah, seperti shalat malam, puasa, disebut dengan nama al-Abid. (Orang - orang yang ahli dalam ibadah) Untuk pancaran Yang Maha Benar, yang dalam kesendirian selalu mengalihkan pikirannya kepada Yang Maha Suci dan Maha Perkasa, Al-Arif (Yang Bijaksana) ditunjukkan dengan nama.

Tasawuf Ibnu Sina condong ke arah tasawuf filosofis dari ulama sufi abad ke-10 al-Jnaid dan al-Haraj, dan karena pencerahan ini dan cahayanya tidak datang langsung dari Allah, tetapi dari Fa, manusia berpikiran tunggal. dari semua alasan. Seorang naib al-i'tihad yang menuntut lembur dari makhluk di al-kholiq secara logis tidak dapat diterima. Jiwa yang sampai padanya.

Tasawuf ibnu sina juga terpengaruh oleh teori emanasi plotinus yang dikembangkan al- farobi yang ditemukan diargumentasinya, mereka mengatakan jiwa manusia jika memikirkan sesuatu maka ia memikirkan hal itu dalam hubunganya dengan akal fa'al, dan ini benar. Mereka mengatakan hubunganya dengan akal af'al , karena ia menjadi akal mustafad (acquired intellect) Sedangkan akal fa’al, itu sendiri berhubungan dengan jiwa sehingga menjadi akal mustafad.

Dalam sejarah pemikiran fisafat abad pertengahan, sosok Ibnu Sina banyak hal diantara para filosof Muslim, ia memperoleh penghargaan yang semakin tinggi hingga masa modern. Ia adalah satu-satunya filosof besar Islam uang telah berhasil membangun sistem filsafat yang lengkap dan terperinci suatu sistem yang telah mendominasi tradisi filsafat Muslim selama beberapa abad, meskipun ada serangan-serangan dari Al-Ghazali, Fakhr al-Din al-Razi dan sebagainya.

Pengaruh ini terwujud, bukan hanya karena ia memiliki sistem, tetapi karena sistem yang ia miliki itu merupakan keaslian, yang menunjukan jenis jiwa yang jenius dalam menemukan metode-metode dan alasan-alasan yang diperlukan untuk merumuskan kembali rasinoal murni dan tradisi intelektual Hellenisme yang ia warisi dalam keagamaan. Fitur paling mendasar dari pemikiran Ibnu Sina adalah pencapaian definisi yang tegas dan ketat tentang bagaimana konsep dipisahkan dan dibedakan. Ini memberikan pikirannya kelezatan yang luar biasa.

Ditulis oleh : Jibril Dewa Nugroho

Al-Kindi dan Pemikirannya

Al-Kindi dan Pemikirannya

                                   
                                                      
Al-Kindi


bersamaislam.com - Islam merupakan agama yang terus berkembang sesuai dengan zaman, dalam sejarah perkembangan Islam dapat dilihat dari banyak segi, mulai dari majunya keilmuwan, misal dari awal Islam dominan mengembangkan ilmu yang sifatnya Arab murni, kemudian para pemikiri Islam mulai mengenal pemikiran orang-orang selain Arab dengan menerjemahkan buku para pemikir dari luar Arab, bentuk inilah yang membuat Islam semakin maju dalam segi keilmuwan.

Jika berbicara keilmuwan kita mengetahui banyak sekali tokoh pemikir didalam Islam ini, namun dalam pembahasan kita kali ini menjelaskan tentang satu tokoh muslim yang dikenal dengan al-Kindi, sebagaimana sejarah mengatakan bahwa al-Kindi dikenal sebagai tokoh pertama dalam pengembangan Ilmu yang dipelajari dari luar Arab, khususnya ilmu filsafat, yang dalam istilah Yunani disebut philosofos. Dimana al-Kindi menterjemah buku-buku filsafat dari orang barat kemudian dipelajarinya dan di kembangkan dalam Islam, selain bergerak dalam bidang filsafat al-Kindi juga mendalami ilmu-ilmu dari arab murni dimasa kecilnya dengan dukungan dari ayahnya al-Kindi terbiayai dalam pengembangan ilmunya, dengan itu dia mampu kurang lebih memiliki 270 karya tulis. Dengan banyaknya karya tulis ini banyak orang-orang yang mengenal al-Kindi sebagai pemikir dalam perkembangan Islam.

A. Pembahasan

1. Biografi Al-Kindi

Al-Kindi. Nama yang sangat popular didalam Islam, siapakah al-Kindi ini? terus apa pengaruh terhadap Islam ini? Sehingga mampu dikenal banyak orang. Al-Kindi nama dinisbatkan kepada marga leluhurnya yang diambil dari suku besar Arab pra Islam, al-Kindi memiliki nama asli Abu Yusuf Ya’kub ibn Ishaq ibn Sabbah ibn Imran ibn Ismail al-Ash’ats ibn Qais al-Kindi (Amroeni, 2006). Lahir di kufah, yang sekarang dikenal sebagai Iraq, tahun 801 M, pada masa bani Abassiyah dalam pemerintahan Harun al-Rasyid (786-809 M). al-Kindi memilki seorang kakek al-Ash’ats ibnu Qois yang dikenal sebagai sahabat Nabi. 

Al-Kindi lahir dari keturunan bangsawan, ayahnya Ishaq ibn Imran merupakan seorang gubernur Kufah dimasa pimpinan al-Mahdi, al-Hadi, ar-Rasyid sehingga memilki bekal cukup untuk memenuhi kebutuhanya dalam belajar. Dalam pengembangan keilmuwan al-Kindi sengat didukung dengan peradaban pada masa itu, dimana masa itu merupakan masa Abassiyah dalam suasana intelektual dan sosio-politik yang dinamis, bukan hanya itu dalam masa ini juga banyak buku-buku yang dapat diakses untuk mengembangkan intelektual para pemuda, didukung dengan adanya Bait al-Hikmah yang memiliki peran dalam intelektual dan penerjemahan, dengan begini ilmu-ilmu yang di dapat semakin mudah. Selain itu dalam masa ini pula para penulis buku terdaftar sangat banyak, dikarenakan pemerintah mendukung lebih untuk para penulis buku, sampai setiap tulisan yang dibukukan di hargai dengan emas, penghargaa ini dilakukan dengan menimbangnya berat buku tersebut dengan emas. 

Dari bentuk suasana pemeritahan pada saat itu sangat menguntungkan bagi al-Kindi untuk mengakses literatur-literatur asli dari Yunani, didukung dengan bentuk ekonomi keluarga yang mampu. Dalam perjalanan intelektual, al-Kindi memilki dua tempat untuk mengembangkannya, yang pertama Kufah, selain sebagai tempat ia dilahirkan al-Kindi juga mendapat pembelajaran umum pada masa itu, yaitu al-Qur’an, tata bahasa Arab, fiqh, teologi, dan kesusasteraaan. Melihat kondisi masyarakat Kufah cenderung memilki fikiran rasional (aqliyah) sehingga membangun pemikiran al-Kindi untuk untuk mendalami ilmu sains dan filsafat pada masa seterusnya. 

Kedua, Baghdad, di Ibu kota pemerintahan bani Abassiyah inilah al-Kindi mulai mencurahkan dirinya untuk menterjemah dan menmpelajari ilmu filsafat, tidak hanya itu al-Kindi juga mengembangkan pemikiran rasionalnya secara lebih luas guna mengimbangi pemikir pada masa itu. Menurut al-Qifthi (1171-1248), al-Kindi terfokus untuk memperbanyak penterjemahan buku-buku filsafat, dengan penjelasan yang rumit al-Kindi mampu untuk mengartikan itu. Hal tersebut mampu dilakukanya karena bentuk penguasaan al-Kindi dalam bahasa Syiria dan Yunani. Yang menjadi induk tatanan bahasa karya-karya filsafat pada masa itu. Selain itu al-Kindi juga melakukan revisi terhadap penerjemahan orang lain. Misalnya hasil terjemahan Ibn Na’ima al-Himsi, seorang yang menterjemahkan buku Enneads dari kalangan Kristen.

Dari banyaknya penguasaan dalam keilmuan dan filsafatnya, al-Kindi menjadi akrab pada khalifah al-Makmun (813-833 M), mengingat sosok al-Makmun sendiri merupakan seorang yang mengkedepankan pemikiran rasional dan filsafat dan al-Kindi sendiri juga ahli dalam filsafat maka dari sini mulai terbangun hubungan baik. Dengan begini al-Kindi diangkat sebagai penasehat sekaligus guru pada masa khalifah al-Muktashim (833-842 M) dan al-Watsiq (842-847 M). Jabatan ini terus berlanjut hingga pada Khalifah Al Mutawakkil (847-861 M) awal. Kemudian Al kindi dipaksa untuk berhenti, ini disebabkan karena banyaknya orang yang iri dan dengki kepada kepintaran dan kecerdikan Al kindi, sehingga raja di hasut dan dipaksa untuk mencopot jabatan al-Kindi. Bentuk kedengkian tersebut dapat di lihat dari fitnah-fitnah yang dilontarkan kepada al-Kindi, kita dapat mengambil contoh bahwa Al kindi di tuduh sebagai orang kaya yang pelit dan masih banyak lagi tuduhan yang buruk kepada dirinya, dari sinilah nama Al kindi mulai sedikit hilang pada masa itu, namun hasil karyanya yang menjadikan Al kindi sampai sekarang masih dikenal oleh orang seluruh dunia.

Setelah itu al-Kindi mulai menyendiri hingga akhir hayatnya, menurut Atiyeh Al kindi meninggal dalam keadaan yang penuh dengan kesunyian dan kesendirian, dikatakan bahwa hanya terdapat keluarga dan orang-orang terdekat dia, tak sampai situ ini juga termasuk tanda dari pada matinya orang besar jasanya yang sudak dilupakan dan tidak di sukai, sekaligus merupakan kematian dari seorang filosof besar yang senang dalam kesunyian (Atiyeh:5).

2.  Pemikiran Al-Kindi Terhadap Perkembangan Ilmu

a) Pemikiran Filsafat Al-Kindi

Filsafat merupakan ilmu yang telah lama muncul dalam kehidupan manusia, ilmu ini memberikan penjelasan tentang bagaimana orang mencintai kebenaran. Dalam sejarah Islam ilmu ini mulai dikenal oleh kalangan muslim di masa Bani Abbasiyah tokoh Islam yang menjadi pembawa filsafat ini kedalam Islam sendiri adalah Al-Kindi sehingga dia dikenal sebagai bapak filsafat dalam Islam. Dalam konsep filsafatnya al-Kindi mendefinisikan dalam enam dan semua itu bercorak platoisme, dalam definisi ini al-Kindi beranggapan bahwa filsafat mengajarkan tentang ilmu ketuhanan, ilmu keesaan, ilmu keutamaan, serta apapun kajian keilmuan yang dapat di ambil manfaat oleh manusia. Al-Kindi juga berpandangan bahwa setiap teori yang dibuat oleh para filosof memiliki tujuan agar manusia dapat mengetahui kebenaran yang kemudian membawa manusia untuk mengatur amal perbuatan dalam bertindak, dan juga dengan kebenaran ini manusia mampu untuk menuju kesempurnaan (Basri, 2013).

Filsafat, menurut al-Kindi ialah batasan dalam mengetahui hakikat sejarah batas kemampuan seseorang, sedangkan tujuan filsafat dalam teori adalah mengetahui setiap kebenaran, dan dalam praktek mengarah pada pengamalan dari kebenaran tersebut, dalam konsep ini al-Kindi meletakkan kebenaran tertinggi adalah filsafat ketuhanan (Allah) yang memiliki makna luhur dan mulia. Dan yang melatarbelakangi dari sebab ('illah) dari setiap kebenaran/realitas. Oleh karena itu, filosof jika ingin memiliki kemuliaan dan kesempurnaan dalam pengetahuannya maka syarat utama harus mampu mencapai pengetahuan tentang filsafat ketuhanan ini. Pengetahuan tentang 'illah ini menjadi patokan dalam pengetahuan. karena Dialah (Tuhan) adalah paling mulia, awal dari jenis, awal dalam tertib ilmiah serta mendahului zaman karena Dia merupakan 'illah bagi zaman sendiri (Syam, 2010, 47).

Tak sampai disini, pemikiran al-Kindi dalam fisafat, ia juga memadukan agama dan filsafat dengan hal yang mendasari keyakinan yaitu kitab suci Al-Qur'an yang telah mewartakan argumentasi dari setiap ihwal kebenaran yang tidak pernah memiliki pertentangan dalam setiap doktrin yang dihasilkan oleh filsafat. Namun dalam proses perpaduannya tidak mungkin dapat sama jika tanpa mengakui bahwa alat kerja agama dan filsafat yang sama.

b) Pemikiran Al Kindi tentang Metafisika 

Al-Kindi merupakan orang yang sangat mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan pada masa itu, dengan begitu al-Kindi mampu menglkonsep bahwa dalam pengetahuannya dibagi kedalam dua bagian;

1. Pengetahuan ilahi (dari Tuhan langsung), yaitu pengetahuan yang hanya didapat oleh para Rasul dari Tuhan, dasar yang dipakai dalam menerima ini adalah keyakinan.
2. Pengetahuan manusiawi atau fisafat, dasar yang digunakan dalam pengetahuan ini adalah pemikirang secara rasional (Nasution, 1973).

Dalam hal ini al-Kindi dikenal sebagai tokoh filosof Islam yang menggagas bukti rasional para filosof tentang Tuhan, dari sini al-Kindi memilki konsep bahwa Tuhan tidak memiliki hakikat secara aniah atau mahiah. Tuhan bukanlah benda fisik yang dapat di tangkap indera, Tuhan juga bukan hal yang tersusun dari beberapa material, tak sampai situ juga dalam Tuhan juga tidak memilki aspek mahiah, Tuhan juga bukan seorang genus atau species, akan tetapi Tuhan merupakan dzat yang tidak serupa dengan mahluk, Tuhan itu Wahid (satu) tidak ada yang menyamainya, hal yang sama hanyalah sesuatu yang dibuat oleh Tuhan itu sendiri, dengan ini makna sama dapat diartikan sebagai mahluk buatan Tuhan. 

Sehingga dari sinilah munculnya ilmu metafisika al-Kindi ilmu yang dimulai dari penetapan unsur-unsur yang menyusun materi partikal. Semua hal yang mampu di lihat oleh indera merupakan juz’iyah (partikular) namun dari ghal ini al-Kindi berpendapat bahwa yang menjadi penting dari pembahasan ini bukanlah hal yang terlihat dengan indera itu, melainkan hal yang ada dibalik semua itu. Dalam metafisika ini al-Kindi memiliki beberapa pandangan untuk membuktikan kebenaran memahami ilmu ini. Pandangan ini terbangun karena adanya dua prinsip yang dibawa oleh Aristoteles yang kemudian di gunakan oleh al-Kindi, prinsip ini berisi tentang (1) sesuatu hal yang tidak terbatas tidak mampu berubah menjadi terbatas yang berwujud dalam bentuk aktual (2) bahwa materi, waktu serta gerak dapat muncul secara serentak atau bersamaan. Dari hal ini lah yang kemudian pandangan al-Kindi muncul untuk mengkritik pemikiran dari Aristoteles, kita dapat mengambil contoh dari pandangan al-Kindi yaitu “jika kita menyatakan bahwa semesta ini tidak terbatas, maka kita harus mengakui bahwa wujud aktual dari semesta ini juga tidak ada batasnya, sehingga ini bertentangan dengan prinsip pertama yang dinyatakan oleh Aristoteles bahwa wujud aktual adalah terbatas. Al-Kindi juga memiliki perbedaan lagi dalam masalah waktu dan gerak, dalam pemikiran Aristoteles mengatakan bahwa hal tersebut bersifat abadi, namu al-Kindi berpendapat lain, dia mengatakan bahwa waktu tidak sama dengan gerak, dia merasa bahwak waktu merupakan bilangan pengukur gerak. Sehingga waktu ini dapat dikatakan bukan sebagai bilangan tersendiri akan tetapi masuk pada berkesinambungan karena waktu merupakan jumlah dari bilangan terdahulu dan berikutnya. Sehingga dari sinilah konsep metafisika al-Kindi muncul dengan menyatakan bahwa ruang, materi, dan waktu merupakan sesuatu hal yang sama, sama-sama terbatas dan tercipta. 

c) Pemikiran Al-Kindi Tentang Jiwa dan Akal

Dalam penjelasan al-Kindi mengatakan bahwa jiwa tidak tersusun, tetapi penting, mulia, dan sempurna bagi manusia, dalam jiwa ini pemikiran al-Kindi tergagas dari dua tokoh filsafat, Aristoteles dan Plato, dari kedua pemikiran ini memunculkan pemikiran al-Kindi dengan mengatakan bahwa jiwa merupakan subtansi yang bersifat ilahiyah, rabbani, dan berasal dari Cahaya Pencipta, subtansi sedikit yang tidak fana’, subtansi yang turun dari dunia akal ke dunia indera dan mampu menyimpan masa lalu di dalam dirinya (Basri, 2013).

Dalam pemikiran al-Kindi dia mengatakan bahwa daya jiwa manusia terbagi menjadi tiga yaitu daya berfikir, daya marah, dan daya syahwat. Dalam pembagian ini dapat dikatakan bahwa daya berfikir merupakan persamaan dari pada akal ini sendiri. Dengan begini dapat dijelaskan lagi bahwa dalam akal ini memiliki tiga tingkatan, (1) akal yang masih bersifat potensi, (2) akal yang telah keluar dari potensial menuju aktual, (3) akal yang telah mencapai tingkatan kedua dari aktualisasi. Oleh sebab itu, dalam filsafat al-Kindi yang berkaitan dengan akal selalu memilki kaitannya dengan jiwa. Akal diletakkan sebagai penyimpan pengetahuan dan juga mampu mengontrol proses pembentukan pengetahuan melalui bantuan inderawi. Bagi al-Kindi sendiri akal ini berarti sebagai potensi yang ada dalam jiwa dan dapat berkemungkinan untuk bergerak menuju aktualisasi.

Dari semua pemikiran al-Kindi ini mengarah kepada gagasan tentang bagaimana manusia itu mampu memperdalam pengetahuannya tentang dirinya, dengan kata lain diri manusia ini masuk kedalam wilayah praktis dan bukan teoritis. Menurut al-Kindi, seorang filosof wajib untuk menempuh kesusilaan hidup. Karena, hal ini mampu melahirkan hikmah sejati dalam pengetahuan dan perbuatan. Kebijakan di cari tidak untuk diri sendiri, tapi untuk kebahagiaan, dan kebahagiaan ini terhubung dengan pengetahuan. Dengan pengetahuan ini mampu mengajak manusia agar terus terikat dengan tabi’at azali manusia adalah baik. Dengan begini manusia akan terus terbaungun sifat baiknya walaupun terkadang terdorong oleh nafsu untuk melakukan keburukan (Basri, 2013).

3. Karya-karya Al-Kindi

Tercatat dalam sejarah terdapat kurang lebih 270 karya yang di munculkan al-Kindi, namun melihat al-Kindi lebih terjun kepada filsafat maka yang dapat kita ambil dari karya al-Kindi pengetahuan tentang filsafat ini. Adapun karya al-Kindi dalam fisafat yaitu; kitab al-Kindi ila al-Mu’tasim billah fi falsafah al-Ula, kitab al-falsafah al-dakhilah wa al-Masail al-Mantiqiyah al-Muqtasha wa ma fauqo at-Tabi’iyyah, kitab fi Annahu fi Tanalu al-Falsafah ila bi al-Ilm al-Riyadhiyah, kitab fi Qasha Aristhuthalis fi al-Ma’qulat, Risalah fi Annahu Jawahir la Ajsam, kitab Ibarah al-Jawami’al-Fikriyah, Risalah al-Hikmiyah fi Asrar al-Ruhaniyah. Dan masih banyak lagi.

Ditulis oleh : Akmal Syarifudin Zaidan

Siapa Tokoh Muslim Penemu Optik yang Dikagumi Barat?

Siapa Tokoh Muslim Penemu Optik yang Dikagumi Barat?



bersamaislam.comNama lengkap Ibnu Al-Haytham adalah Abu All Muhammad al-Hassan ibnu al-Haytham. Di kalangan sarjana dan ilmuwan barat, beliau sering dipanggil Alhazen. Beliau lahir dan besar di kota Basra, Irak pada tanggal 1 Juli 965 M. Dalam perjalanannya, beliau pernah menempuh Pendidikan di kota kelahirannya kemudian diangkat menjadi pegawai pemerintah. Tidak lama dari pekerjaannya di pemerintahan beliau memutuskan untuk pergi merantau ke Ahwaz dan Baghdad, di sanalah beliau melakukan fokus pengajian dan perhatian pada bidang penulisan.

Ibnu Al-Haytham dikenal sebagai ilmuwan muslim yang berkecimpung di bidang sains, ilmu falak, matematika, geometri, farmasi (pengobatan), dan ilmu filsafat. Hal yang sangat dikenal dari beliau adalah keahliannya dalam bidang ilmu optik, khususnya penyelidikannya mengenai cahaya. Melanjutkan perjalanannya dalam mengembangkan ilmu pengetahuan, beliau melakukan hijra ke Mesir untuk melakukan penyelidikan atau penelitian mengenai aliran dan saluran Sungai Nil. Selain melakuan bebeapa penelitian, beliau juga menyalin buku-buku mengenai ilmu falak dan matematika. Hal ini dilakukan untuk menambah pendapatan sebagai modal perjalanannya ke Universitas Al-Azhar. Hasil daripada usaha tersbeut, beliau mahir untuk bidang ilmu-ilmu yang pernah digelutinya.

Fokus kepada penyelidikan cahaya telah banyak memberikan ilham kepada ahli sains barat seperti Boger, Bacon, dan Kepler dalam proses menciptakan alat bernama mikroskop dan teleskop. Karena beliau adalah orang pertama yang menulis dan menemukan berbagai data penting mengenai cahaya. Di antara beberapa buku yang pernah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris karya beliau adalah Light dan On Twilight Phenomena. Dalam pengkajiannya banyak membahas mengenai senja dan lingkaran di sekitar bulan dan matahari serta bayang-bayang dan gerhana. Salah satu temuannya yaitu cahaya fajar bermula apabila matahari berada di garis 19 derajat di ufuk timur. Selain itu, beliau juga telah menjelaskan tentang bagaimana kedudukan atau sifat cahaya seperti pembiasan dan pembalikan cahaya.

Banyak sekali teori-teori Al-Haytham yang digunakan oelh ilmuwan-ilmuan dunia salah satunya adalah teori lensa pembesar yang digunakan oleh ilmuwan asal Italia untuk menghasilkan kaca pembesar pertama di dunia. Selain itu beliau pernah menemukan prisip padu udra hal ini baru diketahui oleh ilmuwan bernama Trricella 500 tahun kemudian. Dan masih banyak sekali penemuan-penemuan teknologi yang digunakan oleh ilmuwam-ilmuwan barat dalam mengembangkan serat menciptakan berbagai macam teknologi sehingga kita bisa menggunakan atau merasakannya hingga saat ini.


Kisah Nabi dan Perangkap Abu Lahab

Kisah Nabi dan Perangkap Abu Lahab


bersamaislam.comDi antara pemuka Quraisy Abu Lahab merupakan salah satu orang yang menentang kenabian Muhammad. Abu Lahab memiliki sikap dengki kepada Nabi Muhammad yang begitu amat dengki. Begitupun dengan sikap benci yang tidak dapt diukur dengan hitungan. Bahkan saking Abu Lahab benci kepada Nabi Muhammad, Allah SWT. abadikan dalam Qur’an surah Al-Lahab.

Kenbencian Abu Lahab kepada Nabi bukan semata-mata karena faktor pribadi Nabi, menginat siapa pun orangnya pasti mengagumi sikap dan akhlak Nabi Muhammad yang begitu patut untuk diteladani oleh siapapun. Abu Lahab membenci Nabi dengan alasan Muhammad membawa ajaran baru dan mencoba menghilangkan berbagai ajaran dan kultur nenek moyang mereka yang tidak sesuai dengan ajaran atau syari’at Islam. Apalagi terdapat salah satu ajaran Nabi Muhammad yang mengajarkan kesederajatan hidup. Maka dari itu harga diri Abu Lahab ikut jatuh dan terhapuskan segala kelebihan dan kehormatannya, mengingat Abu Lahab terpandang sebagai orang yang cukup dihormati di Kalanga jahiliyah.

Karena rasa benci yang begitu tinggi, dalam suatu peristiwa Abu Lahab mencoba merancang rekayasa untuk membuat celaka Nabi Muhammad. Salah satunya ketika Abu Lahab mendapatkan cara baru untuk melakukan rekayasa keji dengan cara membuat perangkap lubang yang diletakan tepat di depan pembaringan. Sekitar empat meter perangkap yang berbentuk lubang tersebut ia gali, bagian atas lubang tersebut Abu Lahab coba tutupi agar tidak terlihat bahwa itu lubang atau perangkap.

Pada saat itu Abu Lahab berpura-pura sakit dan menyuruh orang untuk memberi tahu Nabi Muhammad tentang kabarnya dan agar Muhammad menjenguknya. Nabi Muhammad memang terkenal dengan akhlak atau budi pekerti yang sangat luhur, oleh karena itu Abu Lahab sangat yakin Muhammad akan datang, meskipun selama ini Abu Lahab sangat benci dan memusuhi Nabi bahkan berusah mencelakainya.

Skema rencana Abu Lahab tersebut saat menjenguknya pasti akan terperosok ke dalam perangkap yang berbentuk lubang tersebut, lantas nanti Abu Lahab akan menimbun lubang tersebut sampai keadaan Muhammad sudah tidak sadarkan diri. Itulah salah satu siasat keji Abu Lahab. Akan tetapi dugaan dan recana tersebut meleset. Sebab ketika Muhammad mendengar berita duka Abu Lahab menderita sakit dan hendak menjenguknya. Ada hal yang cukup istimewa ketika Muhammad beberapa Langkah sebelum Nabi sampai dan menginjak perangkap atau lubang yang dibuat Abu Lahab tadi, sebuah informasi illahi menghampiri. Sehingga pada Nabi tahu siasat keji yang dibuat Abu Lahab tahu. Sontak Nabi melangkah balik untuk tidak jadi menjenguk Abu Lahab.

Melihat hal tersebut Abu Lahab sangat cemas akan hal tersebut, sampai-sampai Abu Lahab lupa akan perangkap yang ia buat dan pada akhirnya Abu Lahab lah yan terperosok ke dalamnya. Konon karena kejadian itulah muncul pepatah arab yang berbunyi “man hafaro hufrotan waqo’a fiihaa” siapa yang menggali lubang dia sendiri akan terperosok ke dalamnya.


Sholahuddin Al Ayyubi Mengobati Panglima Musuh

Sholahuddin Al Ayyubi Mengobati Panglima Musuh

Sholahuddin Al Ayyubi
bersamaislam.com - Sholahuddin Al Ayyubi merupakan seorang panglima perang yang dikenal karena kehebatannya, keberaniannya, dan budi pekerti yang ama baik lagi bijaksana. Dalam hal perang, beliau tidak pernah menghalalkan segala cara akan tetapi selalu hadir dan tampil dengan segala kebijakan yang dilandaskan atas dasar kemanusiaan.

Pada suatu hari Sholahuddin mendapatkan sebuah kabar dari telik sandi atau intelejen bahwa seorang panglima perang musuh jatuh sakit. Bagi mereka yang memiliki jiwa ambisius dan bersemangat dalam mengalahkan lawan ketika akan perang, pasti akan memanfaatkan momen atau keadaan seperti ini untuk mengalahkan dengan cara melawan atau menghancurkan lawan. Karena dengan terjadinya situasi pemimpin perang sakit, pasukan akan merasa kebingungan seperti ayam kehilangan induk.

Berbeda dengan sosok Sholahuddin sebagai panglima perang, beliau memiliki pemikiran serat kebijakan yang sangat bijaksana dengan tidak memanfaatkan kedaan tersebut. Beliau memiliki pemikiran bahwa hal tersebut itu tidak fair atau tidak adil. Sebuah pemikiran yang cukup menarik dan tentunya bijaksana dari seorang Sholahuddin Al Ayyubi yaitu,

“Peperangan yang membanggakan hanya jika kemenangan diperoleh bukan dengan kecurangan. Kecurangan hanya mengahasilkan pihak yang menang, tapi tak dapat bangga dengan kemenangannya, dan menghasilkan pihak yang kalah, tapi tidak berbesar hati dengan dengan kekalahannya.”

Kisah ini berlanjut dengan Sholahuddin mencoba menyelinap ke kubu lawan. Secara sembunyi-sembunyi, Beliau behasil menyelusup dalam kemah panglima pasukan Salib tersebut. Keadaan paling perang yang begitu cacat pasi sembari terbujur lemah, Sholahuddin mendekati untuk mengobati. Alangkah kagetnya panglima perang Salib tersebut karena ada orang asing masuk ke dalam kemahnya. Kekagetannya bertambah lantaran yang datang itu merupakan seorang panglima perang Muslim dan kedatangannya tidak ada tujuan untuk membuat dia mati tetapi untuk mengobati.

Orang yang biasa berada di medan perang dengan pedang yang gagah, sekarang duduk di hadapan seorang musuh dengan begitu bijaksana, penuh kasih, dan pekerti ingin mengobati lawan. Dialah seorang panglima bernama Sholahuddin Al Ayyubi lawan tanding dalam perang Salib. Bahkan ketika ada kabar bahwa Sholahuddin meninggal dunia, tidak hanya kaum muslimin yang merasakan kesedihan dan gundah gulana akan tetapi para panglima perang musuh ikut merasakan begitu kehilangannya sosok panglima perang musuh yang amat bijaksana dan sangat menjunjung tinggi rasa kemanusiaan.


Wanita Ini Meludahi Rasulullah SAW, Begini Kisahnya

Wanita Ini Meludahi Rasulullah SAW, Begini Kisahnya

Sebuah kisah
bersamaislam.comMasih ingatkah kisah wanita yang meludahi Rasulullah?

Peristiwa ini terjadi ketika Rasulullah masih tinggal di kota Makkah, sebagai salah satu bentuk cobaan atau gangguan dalam mensyi’arkan ajaran Islam. Tidak hanya sekali Rasulullah mendapatkan hinaan secara fisik maupun mental, bahkan dalam suatu waktu Beliau pernah mendapat cacian dari seorang wanita tua. Setiap kali Rasulullah melewati rumahnya, wanita tersebut meludahkan air liurnya “Cuh, cuh, cuh.” Peristiwa ini berulang kali terjadi bahkan hampir tiap hari.

Akan tetapi pada suatu hari, wanita itu tidak lagi meludahi Rasulullah bahkan batang hidungnya saja tidak terlihat. Dalam benak Rasulullah “Tumben dia tidak muncul dan meludahiku lagi?” bahkan Rasulullah merasa “Kangen” akan ludahannya. Karena penasaran, Rasulullah bertanya kepada seseorang, “Wahai fulan, tahukah engkau, di manakah wanita pemilik rumah ini, yang setiap kali aku lewat dia selalu meludahiku?”

Orang yang ditanya oleh Rasulullah merasa heran, kenapa Beliau malah menanyakan wanita itu tidak merasa kegirangan sama sekali. Si fulan langsung menjawab pertanyaan Rasulullah, “Apakah engkau tidak tahu bahwa wanita yang sering meludahi engkau itu sudah beberapa hari terbaring sakit?” mendengar jawaban tersebut Rasulullah mengangguk-angguk, dan melanjutkan perjalanan menuju Ka’bah untuk bermunajad kepada Allah.

Sekembalinya Rasulullah dari Ka’bah, Beliau langsung menjenguk wanita peludah tersebut. Ketika si wanita peludah itu tahu bahwa Rasulullah menjenguknya dan Rasulullah tidak memiliki rasa dendam sedikitpun, si wanita menangis dalam hati, “Duhai, betapa luhur budi orang pertama yang menjenguk kemari.” Dengan menitikan air mata haru nun bahagia, si wanita tersebut lantas bertanya kepada Rasulullah “Wahai Muhammad, kenapa engkau menjengungukku, padahal tiap hari aku meludahimu?”

Rasulullah menjawab, “Aku yakin, engkau meludahiku karena engkau belum tahu tentang kebenaranku. Jika engkau sudah mengetahuinya, aku yakin engkau tidak akan meludahiku lagi.” Mendengar ucapan bijak Rasulullah, si wanita tersebut menangis kembali dalam hati. Lantas ia bicara lepas kepada Rasulullah, “Wahai Muhammad, mulai saat ini aku bersaksi untuk mengikuti agamamu.” Pada saat yang bersamaan si wanita itu berikrar dua kalimat syahadat. ~

Sungguh indah setiap sikap-sikap yang ditonjolkan oleh Rasulullah, salah satunya sikap welas asih kepada umatnya. Beliau selalu ber-husnudzan bahwa kebencian muncul bukan karena mereka benci kepada diri Rasulullah, tapi belum mengetahui sepenuhnya misi Rasulullah yang sesungguhnya. Beliau juga yakin bahwa ketika keburukan dibalas dengan kebaikan akan melahirkan kebaikan pula.

Ustadz Badru Salam Pendiri Rodja TV Dikecam Terkait Pernyataan Kontroversial

Ustadz Badru Salam Pendiri Rodja TV Dikecam Terkait Pernyataan Kontroversial

Badru Salam pendiri Rodja TV dikecam karena mendukung Syi'ah Bashar Assad, membid'ahkan liqo' dan membela Densus 88
Ustadz Badru Salam

bersamaislam.com Jakarta - Seorang tokoh agama beraliran salafi kelahiran desa Kampung Tengah, Cileungsi, Bogor yang pernah mengatakan bahwa bahwa tindakan Densus 88 membunuh terduga teroris adalah sah kembali melontarkan pernyataan kontroversial. Ustadz yang sering mengisi pengajian di Radio dan Rodja TV tersebut menyebut bahwa halaqah (liqo') yang diadakan di kampus-kampus adalah bid'ah karena pengajian tersebut diisi oleh kakak angkatan dan bukan ustadz yang mumpuni.

Bukan cuma itu, pengajar di Ma'had Takhassus 'Ulum Syar'iyyah, Cileungsi, Bogor tersebut diketahui juga pernah melontarkan pernyataan kontroversial lainnya yaitu menganggap kotoran kucing bukanlah najis. Selain itu, ustadz yang menjadi penasehat di Al Minhaj Islamic Boarding School, Tamansari Bogor tersebut juga pernah memberi pernyataan kontroversial terkait taat pada ulil amri, dengan contoh konflik Suriah, sehingga Badru Salam dianggap mendukung rezim Syi'ah Nushairiyah, Bashar Al-Assad.

Badru Salam pendiri Rodja TV dikecam karena mendukung Syi'ah Bashar Assad, membid'ahkan liqo' dan membela Densus 88
Ustadz Badru Salam

Sontak saja ustadz yang bernama lengkap Abu Yahya Badrusalam, Lc tersebut mendapat kecaman dari sejumlah warganet.

"Ustadz begini kok masuk Rod*a TV ya?,,Kacau nih. Mulai dari LiqoBid'ah, Tai dan kencing kucing tdk najis sampai tentang Densus 88," kritik Ikhwan Rosadi Siregar

"Liqo : dari zaman dulu namanya suatu majlis pengajian yah dinamakan liqo, biasanya di payungi oleh organisasi islam dengan stuktural, agar pesan dan dakwah lebih tera'rah, gak brutal gak liar dan gak tajam, aneh kalo sama kata kata LIQO alergi, tapi mereka bikin " LIQOAN" OTB yang lebih buas mirip kelompok serigala. Catatan : saya pernah ikut LIQO di SMA, Kuliah s1, kuliah apoteker, dikampung saya pun ada liqo, baik baik aja menambah ukhuwah, menambah ilmu dan menambah saudar, bukanya itu juga sunnah nabu,? cuma dikemas dalam LIQO dinamai LIQO kenapa di Bid'akan? kalo namanya PERKUMPULAN PENGAJIAN apa di bid'ahkan juga? kayaknya bukan sama namanya LIQO, tapi kebencian dan hasad sama orang orang yang didalam LIQO itu sendiri," ujar Gempar Mulyana R.

"Apa yang bakal terjadi setelah rezim Saudi memenjarakan puluhan ulama senior dan memecat ribuan imam masjid lainya?
Ulama ditangkap dan dipenjara hanya karena tidak mendukung rezim bekerja sama dengan Amerika untuk memusuhi Qatar.
Demikian juga yang terjadi di Indonesia. Kriminalisasi ulama berlangsung masif. Ulama rabbani ditahdzir dan disesat-sesatkan oleh anak kemarin sore.
Apa yang terjadi jika pelita ilmu dibungkam dan dikekang? Teringat dengan hadits Rasulullah:
"Jika sudah tidak tersisa seorang berilmu, manusia menjadikan orang-orang bodoh sebagai panutan. Akhirnya mereka memberi fatwa tanpa ilmu dan mereka menyesatkan." (HR. Bukhari)
Setelah membaca hadits di atas, kayaknya fans boynya si Badru Salam alias Abu Yahya wajib pada operasi katarak deh. Masa _Ru’uusan Juhhaalan_ kaya gitu omongannya masih didengarin.
Mau bukti?
_Pertamax_, Basar Asad yang beragama Syi’ah Nushairiyyah dianggap Imam. Jangan-jangan nih orang ketularan Syi’ah? Masa rezim Syi’ah dianggap Imam? Kan aneh...
_Keduax_ Densus 88 dianggap sebagai mujtahid. Kalau yang ini si Badru kayaknya sudah eror deh. Masa pembantai orang Islam disamakan dengan ulama? Jangan-jangan si Badru sudah jadi Khowarij.
_Ketigax_ menurut si Doi, ‘Tai Kucing’ hukumnya tidak najis. Idih, najis deh lo... Jangan-jangan nih orang lulus kuliah pake joki? Masa tai kucing hukumnya tidak najis?
Udah deh Ustadz..., biar mulut antum aja yang dimonyong-monyogin di depan kamera. Jangan hadits Rasulullah yang dipelintir-plentirin segala. Dosa!
Makanya, baca hadits sampai tuntas. Jangan lupa sertakan keterangan para ulama. Ayat dan Hadits jangan ditafsirkan seenak jidat antum. Ntar sesat dan menyesatkan.
_keempax_ si Badru bilang kalau ‘Liqo’ atau kaderisasi itu Bid’ah. Karena tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah. Sumpah, nih orang hasadnya kepada kaum muslim sudah _klimax_ banget.
Eh Badru, emang zaman Rasulullah ada Rodjali TV, Rodjali FM? Emang zaman Rasulullah ada Universitas seperti Universitas Islam Madinah hari ini? Ngaco aja deh loh.
Benar kata Rasulullah, hasad itu membakar amal kebaikan. Karena sudah jadi Hasader, kebaikan orang lain hilang di mata Badru Salam. Yassalaaam...
Terus, emangnya si Badru sudah sesat? Tau tuh. Asal tau aja ya...., sekelas Firanda yang doktor aja oleh sebagian Salafi di anggap sesat. Apa lagi si Badru yang baru Lc," tulis Ustadz Sahlan Ahmad di laman facebooknya pada Jumat (13/10).


ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia

Broker Kripto

Tempo Doeloe

Olahan Makanan

Ulasan Film

Keimanan dan Keyakinan

Top Bisnis Online

Tips dan Trik